Tekanan di Pasar Modal Berisiko Berlanjut Sampai Akhir 2026

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Ketidakpastian tindak lanjut evaluasi MSCI dan berlanjutnya arus keluar dana asing masih membayangi pasar saham Indonesia. Meski peluang pemulihan tetap terbuka, investor perlu mewaspadai tekanan lanjutan yang dapat mengubah prospek IHSG hingga penghujung 2026.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 41,01 poin atau 0,80 persen ke 5.057,05 pada penutupan perdagangan, Jumat (30/10/2026). Sepanjang perdagangan, indeks bergerak fluktuatif.

Baca JugaAnatomi Koreksi IHSG di Tengah Siklus Suku Bunga Global

Sempat menguat ke level tertinggi 5.116,01 pada menit-menit awal, indeks berbalik arah dan menyentuh titik terendah 4.979,34 sekitar pukul 09.40 WIB. Pada penutupan sesi pertama, IHSG masih melemah 65,61 poin atau 1,29 persen ke posisi 5.032,43.

Memasuki sesi kedua, indeks berangsur pulih dan bergerak di kisaran 5.000-5.060. Menjelang akhir perdagangan, IHSG sempat menguat ke sekitar 5.073 sebelum kembali terkoreksi. Total volume transaksi mencapai 35,15 miliar saham dengan nilai Rp 10,38 triliun.

Tekanan terhadap IHSG belum juga mereda setelah MSCI menyampaikan sejumlah persoalan terkait transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia. Ketidakpastian mengenai tindak lanjut persoalan tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap prospek pasar saham domestik.

Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya telah menyiapkan sejumlah langkah untuk merespons persoalan tersebut. BEI misalnya mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.

BEI juga menurunkan batas penolakan otomatis atau auto rejection bawah (ARB). Angkanya, dari 15 persen menjadi maksimal 7 persen pada kelompok harga saham tertentu.

Dari sisi domestik, tekanan yang lebih signifikan justru berasal dari ketidakpastian klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI, serta berlanjutnya arus keluar dana asing.

Otoritas bursa juga menyiapkan pengungkapan informasi afiliasi dan nonafiliasi bagi pemegang saham dengan kepemilikan minimal 1 persen. Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan transparansi struktur kepemilikan saham di pasar modal.

Kendati demikian, berbagai langkah tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran pelaku pasar. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta, memperkirakan sentimen terhadap IHSG masih cenderung negatif dan penuh gejolak.

Risiko tekanan lanjutan masih terbuka meskipun peluang pemulihan teknikal atau technical rebound tetap ada. "Dari sisi domestik, tekanan yang lebih signifikan justru berasal dari ketidakpastian klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI, serta berlanjutnya arus keluar dana asing," ujar Nafan.

Hitung ulang

Di tengah ketidakpastian tersebut, pelaku pasar mulai menghitung ulang prospek IHSG hingga akhir 2026. Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Wisnubroto, mengatakan, pihaknya tengah mengevaluasi proyeksi indeks untuk akhir 2026.

Sebelumnya, Mirae memperkirakan IHSG dapat mencapai level 6.800 pada akhir tahun. Namun, tekanan pasar yang sempat membawa indeks ke bawah level 5.000 membuat proyeksi tersebut perlu ditinjau kembali. "Revisi masih menunggu kalkulasi lebih lanjut, termasuk dampak perubahan metode indeks," ujar Rully.

Namun, tekanan pasar yang sempat membawa indeks ke bawah level 5.000 membuat proyeksi tersebut perlu ditinjau kembali.

Nafan menambahkan, peringatan MSCI terhadap pasar modal Indonesia membuat investor cenderung berhati-hati dan mempertahankan strategi defensif. Pelaku pasar juga mencermati rencana BEI mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan IHSG.

Meski demikian, terdapat sejumlah faktor yang dapat menahan tekanan terhadap indeks. Dari dalam negeri, penguatan rupiah sebesar 0,32 persen ke posisi Rp 18.132 per dolar AS setelah keputusan bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuan, serta stabilnya harga komoditas minyak, dinilai menjadi penopang pasar.

Dari eksternal, tekanan juga datang dari meningkatnya keraguan investor terhadap prospek monetisasi kecerdasan buatan atau AI. Salah satu pemicunya adalah penurunan saham Alphabet, perusahaan induk Google, sekitar 12,6 persen setelah kinerja laba triwulanan tidak memenuhi ekspektasi pasar.

Koreksi tersebut mencerminkan meningkatnya selektivitas investor dalam menilai perusahaan teknologi yang agresif mengalokasikan belanja modal (capital expenditure atau capex) untuk pengembangan AI. Investor mulai mempertanyakan seberapa cepat investasi besar tersebut dapat menghasilkan keuntungan.

Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS turut menambah tekanan. Meskipun bank sentral AS atau Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75-4,00 persen, inflasi yang masih berada di atas target 2 persen berpotensi membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Perekonomian AS masih menunjukkan ketahanan. Produk domestik bruto (PDB) pada triwulan III tumbuh 3,4 persen. Sementara itu, inflasi berdasarkan indeks pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures atau PCE) pada September mencapai 3,6 persen secara tahunan, sedangkan inflasi inti PCE tercatat 3,1 persen.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DPR Usulkan Penyiraman Hutan Rutin Saat Kemarau untuk Cegah Kebakaran
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Kecelakaan Helikopter Militer Italia di Bosnia Tewaskan Empat Orang
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Legislator Golkar Dorong 20 Korporasi Tersangka Karhutla Ganti Rugi ke Negara
• 13 jam laludetik.com
thumb
Bibit Siklon Muncul, Waspada Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah
• 13 jam laluokezone.com
thumb
OJK serahkan tambahan informasi aliran dana kasus DSI ke Bareskrim
• 5 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.