KOMPAS.TV – Pemanfaatan potensi lokal melalui inovasi teknologi menjadi salah satu upaya mendorong kemandirian ekonomi desa. Hal ini diwujudkan melalui Program Kosabangsa Tahun 2026 di Desa Tatah Layap, Kecamatan Tatah Makmur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Program yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) ini dilaksanakan oleh tim Universitas Sari Mulia (UNISM) bersama tim pendamping perguruan tinggi mitra. Kegiatan berfokus pada pemberdayaan Kelompok Peternak Ayam Petelur Tatah Makmur dan BUMDes Desa Tatah Layap melalui penerapan teknologi tepat guna dan penguatan usaha.
Desa Tatah Layap memiliki potensi sekitar 2.500 ekor ayam petelur dengan produksi telur mencapai 125 kilogram per hari. Selain itu, terdapat potensi komoditas labu yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan bernilai ekonomi.
Inilah deretan produk inovasi unggulan dari Program Kosabangsa di Desa Tatah Layap. (Sumber: Dok. Universitas Sari Mulia)Dua Inovasi Teknologi untuk Peternak
Salah satu inovasi unggulan program ini adalah Sistem Pengolahan Air Sungai menjadi Purified Water. Teknologi ini menggunakan sistem filtrasi bertingkat dengan media penyaring seperti pasir silika, zeolit, dan karbon aktif untuk membantu mengurangi kekeruhan, bau, serta kontaminan dalam air sungai. Air hasil pengolahan diarahkan untuk mendukung kebutuhan air bersih dalam kegiatan peternakan, sanitasi kandang, serta proses pencucian bahan dan peralatan produksi BUMDes. Sistem ini dirancang agar dapat dioperasikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Inovasi berikutnya adalah Pakan Komplit Granule Berbahan Dasar Hijauan Rawa Purun Tikus. Pakan ini dikembangkan dengan memanfaatkan Purun Tikus yang dikombinasikan dengan bahan pakan lain, termasuk leguminosa Indigofera, sumber energi, vitamin, dan mineral.
Proses pembuatannya meliputi pencacahan, pengeringan, penggilingan, pencampuran, hingga pencetakan menjadi granule. Inovasi ini diharapkan menjadi alternatif pakan berbasis sumber daya lokal sekaligus membantu peternak mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial.
Dr. apt. Dewi Susanti Atmaja, M.Farm-Klin, selaku tim pelaksana, menyampaikan bahwa penerapan teknologi tersebut merupakan upaya menghadirkan hasil inovasi perguruan tinggi agar dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.
“Melalui program ini, kami ingin membantu masyarakat mengoptimalkan potensi lokal dengan teknologi yang sesuai kebutuhan mitra. Harapannya, peternak dan pengelola BUMDes mampu memanfaatkan serta mengembangkan teknologi tersebut secara mandiri untuk meningkatkan produktivitas dan nilai ekonomi usaha,” ujarnya.
BUMDes Kembangkan Olahan Labu
Pada mitra BUMDes, program diarahkan pada diversifikasi produk berbahan dasar labu menjadi nata labu, biskuit labu, dan puding labu. Untuk mendukung proses produksi, diperkenalkan pula oven sederhana berbasis teknologi pirolisis yang dimanfaatkan dalam pengeringan labu menjadi tepung sebagai bahan baku olahan pangan.
Pengelola BUMDes juga mendapatkan pendampingan mengenai proses produksi, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), kebersihan dan sanitasi, pengendalian mutu, manajemen usaha, serta pemasaran dan legalitas produk.
Sinergi Membangun Ekonomi Desa
Ketua tim pendamping, Prof. Ir. Abd. Malik, S.Pt., M.Si., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., menjelaskan bahwa inovasi teknologi harus disesuaikan dengan potensi sumber daya dan kebutuhan masyarakat.
“Purun Tikus sebagai hijauan rawa memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi bahan pakan alternatif. Begitu pula teknologi pengolahan air sungai yang dapat mendukung kebutuhan peternakan dan pengolahan pangan. Kami berharap inovasi ini tidak hanya diterapkan selama program berlangsung, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat,” jelasnya.
Melalui pelatihan, praktik langsung, dan pendampingan, Program Kosabangsa juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola usaha. Pengembangan peternakan dan olahan labu diharapkan turut mendukung ketahanan pangan serta pemenuhan gizi keluarga melalui ketersediaan telur sebagai sumber protein hewani dan diversifikasi pangan lokal.
Sinergi perguruan tinggi, peternak, dan BUMDes ini menjadi langkah untuk mengubah potensi lokal menjadi produk bernilai tambah. Dengan penerapan inovasi teknologi dan penguatan manajemen usaha, Desa Tatah Layap diharapkan mampu membangun ekonomi yang lebih produktif, mandiri, dan berkelanjutan.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Shitra-Cahaya-Purnama
Sumber : Kompas TV
- Program Kosabangsa 2026
- Penggerak Ekonomi
- Desa Tatah Layap
- Advertorial





