CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Setelah kemarau yang terasa panjang, hujan sebentar lagi akan turun. Bagi banyak orang, itu kabar yang melegakan. Namun bagi orang tua, masa peralihan musim justru menjadi saat untuk lebih jeli memperhatikan kondisi anak di rumah.
Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, dr. Aisya Fikritama Aditya, Sp.A, mengingatkan hal itu. Menurutnya, cuaca tidak serta-merta membuat anak jatuh sakit. Yang berperan adalah perubahan yang menyertainya.
“Bukan berarti perubahan cuaca secara langsung membuat anak sakit, tetapi perubahan suhu dan kelembapan, pola aktivitas, serta meningkatnya paparan kuman di lingkungan tertentu dapat memengaruhi risiko infeksi,” kata Aisya, dikutip dari ANTARA, Jumat (30/10).
Aisya yang juga dosen Fakultas Kedokteran UNS menyebut sejumlah penyakit yang patut diwaspadai ketika kemarau berkepanjangan beralih ke musim hujan.
Yang paling umum adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), seperti batuk, pilek, dan influenza. Ada pula diare yang bisa muncul akibat makanan atau air yang terkontaminasi.
Genangan air yang mulai menumpuk juga membawa ancaman lain. Tempat itu menjadi sarang berkembang biak nyamuk, sehingga risiko demam berdarah dengue (DBD) ikut meningkat. Jika banjir melanda, kewaspadaan perlu bertambah.
“Jika terjadi banjir, kita juga perlu mewaspadai leptospirosis, terutama pada anak yang berkontak dengan air atau tanah yang tercemar urine hewan terinfeksi,” tutur dia.
Lalu, bagaimana orang tua mengenali tanda-tanda awalnya? Aisya menyebut demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, muntah, dan diare sebagai gejala yang perlu diperhatikan. Anak yang tiba-tiba tampak lebih lemas dan kurang aktif dari biasanya juga patut dicermati.
Meski begitu, gejala yang sama tidak selalu menandakan penyakit yang sama. Demam di musim hujan, misalnya, tidak boleh buru-buru dianggap flu biasa karena bisa saja disebabkan DBD atau infeksi lain.
Ada pula kondisi yang tidak boleh ditunda penanganannya. Aisya mengimbau orang tua segera membawa anak ke fasilitas kesehatan bila muncul sesak napas, penurunan kesadaran, kejang, atau tanda dehidrasi.
Demam yang disertai nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, maupun perdarahan juga termasuk tanda bahaya.
Di balik semua peringatan itu, pesan Aisya sederhana yakni kesehatan anak harus tetap menjadi prioritas, apa pun musimnya.
“Kenali gejala awal penyakit dan jangan menunda pemeriksaan jika anak menunjukkan tanda bahaya. Karena menjaga kesehatan anak bukan hanya tentang mengobati saat sakit, tetapi juga membangun kebiasaan sehat setiap hari,” ujarnya.
Imbauan ini muncul menjelang datangnya musim hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan dimulai pada November dan mencapai puncaknya pada Desember 2026.
BMKG sebelumnya juga memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia akan datang lebih lambat dari rata-rata klimatologisnya, akibat pengaruh fenomena El Nino yang sangat kuat.




