IIstilah ”Kuda Troya” mendadak viral dan ramai diperbincangkan di jagat maya seusai demonstrasi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Rabu (28/10/2026). Istilah itu mencuat setelah massa mahasiswa bersama elemen masyarakat sipil berhasil menerobos barikade aparat keamanan dan menyampaikan aspirasi di lokasi yang sebelumnya dinyatakan terlarang bagi demonstrasi. Benarkah keberhasilan itu buah dari strategi ”Kuda Troya” yang telah disiapkan mahasiswa?
”Kuda Troya” merujuk pada kisah strategi perang bangsa Yunani untuk menaklukkan Kota Troya sekitar abad ke-12 atau ke-13 sebelum Masehi. Dalam kisah mitologi Yunani tersebut, pasukan Yunani menyembunyikan prajurit di dalam patung kuda kayu berukuran besar.
Patung itu kemudian diterima masuk ke dalam Kota Troya oleh penduduk setempat tanpa menyadari bahwa di dalamnya terdapat pasukan musuh yang siap menyerang dari dalam. Troya yang terkenal sangat tangguh dan tidak bisa ditembus selama 10 tahun, akhirnya jatuh dan hancur total karena taktik tersebut.
Dalam perkembangannya, istilah ”Kuda Troya” digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan strategi penyusupan atau taktik mengecoh lawan dengan cara yang tidak terduga. Dalam dunia teknologi, istilah tersebut juga diserap menjadi Trojan malware atau virus, yakni program jahat yang menyamar sebagai perangkat lunak aman untuk meretas sistem dari dalam.
Dan, kini, istilah itu pula yang dilekatkan oleh warganet ketika massa mahasiswa dari berbagai kampus dan elemen masyarakat sipil berhasil menerabas halangan aparat keamanan untuk tiba di titik aksi, di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, 28 Oktober lalu.
Pasalnya, merujuk pada sejumlah demonstrasi mahasiswa sebelumnya, Bundaran HI ibarat Kota Troya yang kokoh dan sulit ditembus. Setiap kali massa hendak menggelar unjuk rasa di kawasan tersebut, aparat keamanan selalu menghadang mereka di Jalan Jenderal Sudirman, sekitar 400 meter dari Bundaran HI. Berbagai upaya mahasiswa menerobos barikade sudah pasti kandas.
Namun, benarkah anggapan warganet bahwa di balik keberhasilan demonstran mencapai Bundaran HI itu memang ada strategi ”Kuda Troya” yang diterapkan oleh mahasiswa?
Wakil Kepala Departemen Aksi dan Propaganda Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Lionel Sihaloho saat dihubungi, Jumat (30/10/2026), membenarkan penerapan strategi ”Kuda Troya” untuk bisa mencapai titik aksi di Bundaran HI.
”Dua kali kami gagal menembus Bundaran HI karena selalu diblokir duluan di daerah UOB Plaza (Jalan Jenderal Sudirman). Dari situ kami mulai berpikir keras, di mana celah untuk bisa masuk Bundaran HI,” ucap Lionel. Dua kali kegagalan dimaksud, saat demonstrasi pada 12 Juni dan 18 Agustus lalu.
BEM UI lantas menggodok celah masuk ke Bundaran HI itu bersama Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Komite Sadar). Komite ini merupakan wadah gerakan mahasiswa lintas kampus di Jawa. Selain UI, kampus lain di antaranya Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), dan Universitas Airlangga (Unair). Tak hanya itu, turut serta sejumlah elemen masyarakat sipil.
Dari serangkaian pertemuan, mereka membedah topografi Bundaran HI. Seperti diketahui, kawasan Bundaran HI memiliki empat simpul jalan utama untuk masuk, yakni dari arah Selatan (Jalan Jenderal Sudirman), Utara (Thamrin/Sarinah), Timur (Imam Bonjol/Menteng), dan Barat (Kebon Kacang).
Dari hasil analisa, muncul keyakinan bahwa Bundaran HI tidak mungkin ditutup sekaligus di keempat jalurnya oleh aparat. Sebab, jika itu dilakukan, nadi ekonomi dan pusat pemerintahan Ibu Kota bakal lumpuh.
Selain itu, mereka juga berkeyakinan, aparat akan kembali memblokade jalur yang biasa dilewati massa demonstran, yakni dari arah selatan atau Jalan Jenderal Sudirman.
”Maka, kalau mereka mengira kami cuma menyerang dari selatan, kita serbu dari utara, timur, dan dari bawah tanah,” cerita Lionel.
Maka, kalau mereka mengira kami cuma menyerang dari selatan, kita serbu dari utara, timur, dan dari bawah tanah.
Lionel mengungkapkan, setidaknya ada tiga babak rencana yang mereka terapkan. Pertama, menciptakan umpan di jalur selatan. Ratusan peserta aksi dari Front Mahasiswa Nasional UI dan Barisan Garda Depan UI hingga mahasiswa dari Unnes dan Unair diberangkatkan lebih awal dari arah selatan Bundaran HI. Wakil BEM UI Fatimah Azzahra dan Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI Hafidz Hernanda alias Bapis ikut dalam rombongan pengumpan yang menggunakan sejumlah bus tersebut.
Umpan ini pun berhasil ditangkap oleh para petugas kepolisian. Mereka langsung terkonsentrasi di area dekat UOB Plaza, berbaris dalam beberapa lapisan, memblokade pergerakan massa mahasiswa.
Ketika umpan berhasil ditangkap, mahasiswa menjalankan dua babak rencana lainnya. Yakni, menggerakkan ratusan angkutan kota (angkot) secara bersamaan untuk melintasi jalur-jalur alternatif yang dibiarkan terbuka. Di antaranya dari arah utara (Sarinah), dan ada pula yang meluncur dari arah timur (Menteng).
Pergerakan serentak banyak angkot berwarna merah dari Sarinah ini sempat terekam video oleh sejumlah warganet. Angkot memang sempat dihentikan sejumlah polisi. Namun, karena jumlah personel yang menghalangi tidak banyak, angkot yang ditumpangi mahasiswa itu bisa menerabas masuk hingga tiba di Bundaran HI.
Di saat yang bersamaan, babak ketiga rencana turut dijalankan, yakni ratusan mahasiswa lainnya menggunakan moda transportasi raya terpadu (MRT) Jakarta untuk tiba di Bundaran HI.
“Waktunya diatur sangat ketat. Ketika decoy (umpan) sudah jalan dan sampai di UOB, polisi terpancing. Begitu umpan terkunci, angkot-angkot jalan mendekat. Pada saat bersamaan, massa transum (transportasi umum) yang sudah menunggu di dalam stasiun bawah tanah Plaza Indonesia diperintahkan keluar serentak. Akhirnya jebol, semua jalur kita serbu bersamaan,” ujar Lionel.
Total ada 13 bus yang digunakan oleh para mahasiswa dari berbagai kampus untuk ”menyerbu” Bundaran HI. Selain itu, digunakan pula setidaknya 100 kendaraan angkot.
Selain penerapan strategi ”Kuda Troya”, ada pemandangan lain yang juga menyita perhatian dalam demo mahasiswa di Bundaran HI, yakni tak tampak jas almamater kampus dengan warna-warni yang dikenakan oleh para demonstran.
Menurut Lionel, mereka sengaja tak menggunakannya karena jas almamater kerap dipandang sebagai sekat tebal antara mahasiswa dan masyarakat. "Banyak yang melihat gerakan mahasiswa itu eksklusif. Pakai jas almamater, seolah berjarak dan tidak mau melebur dengan masyarakat biasa," tuturnya.
Oleh karena itu, mayoritas mahasiswa memutuskan untuk mengenakan pakaian berwarna hitam saja.
Gagasan menanggalkan jas almamater dan mengenakan pakaian serba hitam saat demo ini sebenarnya sudah dilakukan saat unjuk rasa di Tugu Tani pada 20 Oktober. “Oleh karena itu, di aksi (tanggal) 28 ini kita ingin membawa semangat yang sama, ingin membawa nilai yang sama. Akhirnya kita memutuskan untuk ya melepas almamater, biar kita ya turun sebagai rakyat Indonesia,” ungkap Lionel.
Tuntutan yang mereka suarakan pun berangkat dari keresahan publik. Mulai dari krisis lingkungan, sengkarut ekonomi, carut-marut hukum dan tata kelola, buruknya layanan publik, hingga pelanggaran HAM dan demokrasi.
Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI Namora Siahaan menambahkan, lima tuntutan tersebut lahir dari proses penjaringan aspirasi publik yang panjang yakni sejak pertengahan Juni 2026. Saat itu, mahasiswa sudah mencium adanya gelombang keresahan sosial yang kian membesar, bahkan sebelum isu bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah.
Ketika persoalan kabut asap karhutla kian parah tanpa adanya penetapan status bencana nasional oleh pemerintah, ditambah dengan momentum evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Komite Sadar sepakat membawa suara perlawanan langsung ke pusat kekuasaan di Jakarta.
Mora juga membeberkan alasan mengapa demo mahasiswa dan elemen masyarakat kemudian terpusat di Jakarta pada 28 Oktober, bukan pada 20 Oktober yang bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Kesepakatan itu diambil demi memberi ruang bagi organ mahasiswa di daerah untuk menuntaskan advokasi isu di daerah masing-masing terlebih dahulu.
Gelombang massa dari luar Jakarta, seperti Bandung, Semarang, hingga Surabaya, akhirnya mulai berdatangan pada H-1 aksi. Sebagian dari mereka ditampung di Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa) Kampus UI Depok, sedangkan rombongan lainnya ada yang tiba menjelang subuh menggunakan bus carteran.
Sementara itu, untuk membiayai sewa 13 bus kopaja, ratusan angkot, pengadaan air minum hingga logistik medis, para mahasiswa menolak bergantung pada pemodal. Mereka telah membuka urunan dana publik (crowdfunding).
Untuk membiayai sewa 13 bus kopaja, ratusan angkot, pengadaan air minum hingga logistik medis, para mahasiswa menolak bergantung pada pemodal. Mereka telah membuka urunan dana publik.
Mora juga menepis kabar miring di media sosial yang menuding gerakan mereka disetir oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) tertentu hanya gara-gara beredarnya surat undangan konsolidasi.
Menurutnya, konsolidasi terbuka bertajuk Mimbar Penderitaan Rakyat pada 26 Oktober justru sengaja dibuka seluas-luasnya untuk melibatkan masyarakat sipil dan forum akademisi. Sejumlah guru besar bahkan hadir memberikan seruan moral untuk mengamplifikasi suara rakyat.
“Setelah mimbar tanggal 26 itu, barulah kami duduk bersama mendiskusikan teknis lapangan: bagaimana caranya menembus Bundaran HI dan memastikan pesan penderitaan rakyat ini sampai tanpa terdistorsi,” ujar Mora.
Mantan aktivis 1998 sekaligus Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menilai, cara yang dilakukan mahasiswa dan masyarakat sipil saat demonstrasi pada peringatan Hari Sumpah Pemuda sebagai bentuk perlawanan nirkekerasan yang brilian, matang, dan elegan.
”Saya melihat keberhasilan kawan-kawan kemarin menembus Bundaran HI dengan strategi kuda troya itu membuktikan bahwa gerakan-gerakan kritis anak muda tidak pernah mati atau kalah oleh tekanan aparat. Mereka justru malah semakin adaptif, terus memikirkan cara lain yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya oleh banyak pihak. Inilah dinamika gerakan yang patut dicatat oleh sejarah,” kata Usman.
Sebelum strategi Kuda Troya itu, mahasiswa juga telah mempopulerkan salam tiga jari sebagai simbol perlawanan yakni sadar dipalak, sadar dibakar, dan sadar dimiskinkan. Simbol yang diadaptasi dari film ”The Hunger Games” ini seperti melengkapi pengibaran bendera bajak laut Jolly Roger dari serial anime One Piece yang juga dipakai mengkritik kekuasaan beberapa waktu lalu.
”Taktik cerdik ini sejalan dengan tren pergerakan sipil global, di mana kelompok-kelompok muda selalu punya cara-cara kreatif untuk beradaptasi dalam menghadapi pembatasan dan represi dari aparat keamanan saat berekspresi dan berkumpul secara damai,” kata Usman.
Menurut Usman, Amnesty International telah mencatat fenomena serupa yang terjadi di berbagai belahan dunia. Simbol salam tiga jari dan parodi karakter fiksi seperti Harry Potter serta hamster anime Hamtaro juga pernah menjadi alat protes kaum muda Thailand saat menentang kudeta militer 2014. Di Hong Kong pada tahun yang sama, kaum muda juga menggelar Umbrella Movement atau menggunakan payung sehari-hari untuk menangkis semprotan merica dan gas air mata polisi dalam menuntut demokrasi.
”Kami pun memperhatikan bahwa bagaimana internet telah menjadi instrumen utama untuk menggalang dukungan aksi dengan simbol-simbol ikonik dan tagar yang menarik. Saya lihat faktor ini yang jelas membedakan cara pergerakan aktivis 1998 lalu dengan kawan-kawan mahasiswa saat ini,” katanya.
Usman meyakini apa yang dilakukan mahasiswa hari ini memberikan sinyal positif bagi masa depan demokrasi di Indonesia. Gerakan anak muda saat ini menegaskan mereka tidak pernah menyerah pada tekanan aparat keamanan, melainkan terus bermutasi dan melahirkan cara-cara tak terduga agar suara penderitaan rakyat tetap terdengar nyaring.
“Makanya saya selalu percaya bahwa aksi protes yang disuarakan secara damai dan inovatif adalah instrumen krusial sebagai kritik untuk terus mendorong negara agar mendengarkan suara mereka dan melakukan perbaikan kebijakan,” tuturnya.
Atas demo mahasiswa tersebut, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Syahganda Nainggolan mengatakan, kritik, aspirasi, dan pengawasan publik merupakan bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Aspirasi tersebut menjadi masukan bagi pemerintah untuk terus mengevaluasi serta meningkatkan kualitas kebijakan dan pelayanan kepada masyarakat.
”Pemerintah menghormati dan menghargai penyampaian aspirasi oleh mahasiswa, termasuk melalui aksi demonstrasi, sebagai bagian dari upaya merawat demokrasi,” ujarnya, Rabu (28/10/2026).
Isu-isu yang disoroti mahasiswa dalam demonstrasi pun diklaimnya telah menjadi prioritas kerja pemerintah yang ditindaklanjuti melalui langkah-langkah konkret di lapangan.
Kuda Troya telah membuka jalan menuju Bundaran HI. Namun, perjuangan tidak berhenti ketika barikade aparat keamanan berhasil ditembus atau ketika suara demonstran diteriakkan dari jantung kota. Selama persoalan publik belum terjawab, akan selalu ada generasi yang melanjutkan perjuangan. Panjang umur perjuangan!





