Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menegaskan, kesehatan keluarga menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas bangsa. Upaya tersebut perlu dimulai sejak calon pengantin, ibu hamil, bayi, remaja, hingga lanjut usia (lansia).
Hal itu disampaikan Wihaji saat menghadiri Kongres Nasional (KONAS) XVI dan Forum Ilmiah Tahunan (FIT) XII Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) di Gedung Nusantara V, Kompleks MPR/DPR RI, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Advertisement
“Kalau mau memperbaiki negara, perbaiki keluarga. Caranya gimana? Keluarganya sehat. Siapa yang menyehatkan? Pak Menteri Kesehatan. Kalau ada masalah, minta bantuan siapa? Menteri Sosial,” ujarnya.
Wihaji mengatakan, kementeriannya bertugas menggerakkan masyarakat dan mendorong perubahan perilaku keluarga agar lebih peduli terhadap kesehatan. Karena itu, perhatian perlu diberikan sejak calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, hingga anak pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).
“Calon pengantin kita pastikan sehat, ibu hamil kita pastikan sehat, ibu menyusui kita pastikan sehat, kemudian baduta 1.000 hari pertama kita pastikan sehat supaya tidak stunting,” ujarnya.
Selain itu, Wihaji menekankan pentingnya menjaga kesehatan balita, remaja, dan lansia. Dia juga mengapresiasi peserta lanjut usia yang hadir dalam kegiatan tersebut.
“Kita pastikan balitanya sehat, remajanya sehat, lansianya luar biasa sehat. 80 tahun, 86 tahun luar biasa. Kalau itu sehat semua, tugas saya selesai,” ucapnya.
MPASI 3B untuk Mendukung Penanganan StuntingTerkait penanganan stunting, Wihaji menyebut pemenuhan gizi menjadi salah satu upaya yang dilakukan pemerintah melalui program MPASI 3B. Program tersebut menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Dia menjelaskan, pengukuran prevalensi stunting bukan menjadi kewenangan kementeriannya. Karena itu, dampak program terhadap penurunan prevalensi stunting secara nasional masih menunggu hasil survei Kementerian Kesehatan atau kementerian terkait.
“Harapan kita, insyaallah, secara… belum survei nih, ada dampak dari kesehatan masing-masing penerima manfaat. Dampaknya jelas. Kan kita sederhana mengukurnya, mulai dari berat badan, tinggi badan. Tapi tidak hanya itu, secara komprehensif ada surveinya,” kata Wihaji.
Meski hasil survei belum tersedia, Wihaji mengaku melihat perubahan kondisi penerima manfaat setelah mendapatkan asupan gizi. Namun, pengamatan tersebut belum dapat menggantikan pengukuran melalui survei.
“Secara kasat mata kelihatan, setelah mendapatkan asupan gizi, baik ibu hamil, ibu menyusui, maupun balita non-PAUD, lumayanlah,” ujarnya.




