Jakarta: Pemerintah mulai menerapkan mandatori biodiesel B50 di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sejak 1 Oktober 2026. Kebijakan ini menjadi salah satu upaya Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus mendorong kemandirian energi nasional.
B50 merupakan bahan bakar solar yang mengandung 50 persen biodiesel berbasis minyak kelapa sawit. Penerapannya meningkatkan komposisi campuran biodiesel dari sebelumnya 40 persen pada program B40 menjadi 50 persen.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut penerapan B50 berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun. Penggunaan biodiesel dalam negeri diharapkan dapat menekan kebutuhan impor solar.
“Dengan implementasi B50, penghematannya ternyata mencapai Rp170 triliun. Jadi, dari B40 ke B50 kita bisa menahan devisa kita hingga Rp170 triliun, sehingga impor kita semakin berkurang,” ujar Bahlil dikutip dari tayangan Top News Metro TV, Jumat 30 Oktober 2026.
Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori B50. Ia menilai kebijakan tersebut sebagai salah satu tonggak menuju kemandirian energi.
“Dengan diluncurkannya program ini, Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50. Ini bukan sekadar pencapaian teknologi, melainkan bukti bahwa Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alamnya sendiri untuk kepentingan rakyatnya sendiri. Ini adalah tonggak yang sangat penting dalam perjalanan menuju kemandirian energi,” ucap Prabowo.
Hingga awal September 2026, realisasi penyaluran gabungan B40 dan B50 tercatat mencapai 10,69 juta kiloliter. Sebanyak 6.050 SPBU atau sekitar 94 persen dari total SPBU di Indonesia telah menyalurkan B50.
Pemerintah juga menargetkan ketersediaan bahan baku B50 mencapai 16,8 juta hingga 18 juta kiloliter sampai akhir 2026.
Baca Juga :
B50 dan Listrik Desa Jadi Strategi Pemerintah Perkuat Ketahanan EnergiMeski demikian, penerapan B50 masih menghadapi tantangan dalam pemerataan distribusi. Sejumlah pengemudi mengeluhkan antrean panjang dan ketersediaan Biosolar yang belum merata di seluruh SPBU.
Somad, salah seorang pengemudi, berharap pasokan Biosolar tersedia di setiap SPBU agar masyarakat tidak kesulitan mendapatkannya.
“Harapannya ke depan tidak perlu ada antrean lagi dan ketersediaannya ada di setiap SPBU. Jadi, masyarakat tidak kesulitan. Mau beli solar saja susahnya minta ampun karena harus antre,” kata Somad.
Sementara itu, Dul Rahman mengaku terkadang harus mendatangi beberapa SPBU untuk menemukan Biosolar.
“Kadang-kadang kita harus muter-muter dulu ke beberapa SPBU. Distribusinya semoga bisa lebih dilancarkan lagi dan diratakan agar tidak terlalu susah. Untung di Pulau Jawa ya, kondisinya masih lumayan oke,” ungkap Dul.
Penerapan B50 diharapkan tidak hanya mengurangi impor solar dan menghemat devisa, tetapi juga menjadi langkah awal Indonesia membangun ketahanan energi yang lebih mandiri.




