Menag ingin pesantren lahirkan kembali kejayaan Baitul Hikmah

antaranews.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Menteri Agama Nasaruddin Umar menginginkan pesantren di Indonesia melahirkan kembali tradisi keilmuan seperti di Baitul Hikmah, sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan pada masa kejayaan peradaban Islam.

"Kalau perlu Baitul Hikmah akan bangkit kembali di lingkungan pondok pesantren di Indonesia," ujar Menag dalam Munajat Santri untuk Negeri yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat.

Nasaruddin Umar mengatakan Baitul Hikmah merupakan salah satu contoh penting bagaimana lembaga pendidikan Islam mampu menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan kolaborasi para ilmuwan dari berbagai latar belakang.

Ia menjelaskan Baitul Hikmah didirikan pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid pada 786 Masehi dan kemudian dikembangkan oleh putranya, Khalifah Al-Ma'mun, pada 813 Masehi.

Menurut dia, tradisi keilmuan yang berkembang di Baitul Hikmah melahirkan banyak ilmuwan dengan kontribusi besar terhadap perkembangan peradaban dunia modern saat ini.

Ia mencontohkan Jabir bin Hayyan dalam bidang kimia, Al-Khawarizmi dalam matematika, Ibnu Haitsam dalam bidang optika, Ibnu Sina dalam kedokteran, serta Al-Razi dalam pengembangan ilmu kedokteran.



Baca juga: Menag dorong santri agar jadi ilmuwan, dokter, hingga insinyur



Selain itu, Ibnu Rusyd sebagai sosok ilmuwan yang menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari kedokteran, filsafat, hingga fikih.

Menurut Menag, keunggulan para ilmuwan tersebut menunjukkan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan tidak seharusnya dibatasi hanya pada satu bidang keilmuan.

Ia juga menyoroti keterbukaan tradisi pendidikan di Baitul Hikmah yang mempertemukan ilmuwan Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, dan kelompok lainnya dalam satu lingkungan pembelajaran dan penelitian.

"Di dalam satu majelis mereka mendirikan laboratorium. Nah, ini yang dilakukan di abad pertengahan," katanya.

Menag menilai tradisi tersebut harus menjadi inspirasi bagi pesantren di Indonesia untuk mengembangkan pendidikan yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta mendorong kerja sama lintas disiplin.



Baca juga: Menag: Gagasan diplomasi keagamaan dapat perhatian di Assisi

Lebih lanjut, Menag menegaskan bahwa tantangan pesantren saat ini tidak hanya mempertahankan tradisi pendidikan agama, tetapi juga mempersiapkan santri agar mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu berharap semakin banyak santri yang menjadi ilmuwan, dokter, insinyur, pengusaha, ahli teknologi, pemimpin masyarakat, hingga pemimpin bangsa.

"Zaman telah berubah, tetapi semangat pengabdian tidak boleh berubah," ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemprov Aceh Dukung Australia dan The Asia Foundation Perkuat Demokrasi Partisipatif
• 2 jam lalurepublika.co.id
thumb
Polda Sumsel: Peran Orang Tua dan Guru Krusial Cegah Pelecehan Seksual Anak
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Mendukbangga: Perbaikan Negara Harus Dimulai dari Keluarga, Tugas Saya Mengubah Perilaku
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Viral Cerita Ibu Terbang Sendiri dengan Bayi, Reza Arap Diam-diam Beri Bantuan Tak Terduga di Pesawat
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
Teh Botol Sosro Buka Suara soal Produk Diduga Berbusa-Berbau Sabun saat Demo di Jakarta
• 17 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.