Unimen–UHO Dorong Inovasi Hilirisasi Kakao Enrekang

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, ENREKANG – Universitas Muhammadiyah Enrekang (UNIMEN) bersama Universitas Halu Oleo (UHO) mendorong inovasi hilirisasi kakao di Desa Mata Allo, Kabupaten Enrekang.

Langkah tersebut melalui penerapan teknologi Natural-Based Alkalization dan penguatan pemasaran digital.

Program ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas kakao sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat melalui pengembangan produk olahan berbasis potensi lokal.

Kegiatan ini melibatkan tim pelaksana UNIMEN yang diketuai oleh Dr. Asbar, M.Pd., M.Hum., bersama anggota Nirma Septia Ramlan Anjas, S.P., M.Si., dan Zarina, S.Pd., M.Ak. Tim pelaksana mendapatkan dukungan pendampingan dari UHO yang diketuai Prof. Dr. H. Tamrin, S.P., M.P., dengan Dr. Nini Mila Rahni, S.P., M.P. sebagai anggota tim pendamping.

Kolaborasi kedua perguruan tinggi ini mengintegrasikan keahlian dalam pemberdayaan masyarakat, teknologi pertanian dan pengolahan kakao, manajemen usaha, serta pemasaran digital.

Sinergi tersebut diharapkan mampu memastikan inovasi yang diterapkan tidak berhenti pada pengenalan teknologi, tetapi dapat diadopsi dan dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif oleh masyarakat.

Program ini juga melibatkan dua kelompok mitra, yakni Kelompok Tani Salu Bendo’ yang beranggotakan 19 orang dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Al Hadi yang beranggotakan 20 orang. Kedua kelompok memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun rantai nilai kakao di Desa Mata Allo.

Kelompok Tani Salu Bendo’ diarahkan untuk memperkuat kualitas bahan baku melalui perbaikan penanganan pascapanen, meliputi fermentasi, pengeringan, dan sortasi, sekaligus menerapkan teknologi pengolahan kakao.

Sementara itu, KWT Al Hadi didorong untuk mengembangkan usaha pengolahan dan pemasaran melalui pelatihan kewirausahaan, pengemasan, branding, serta pemanfaatan platform digital.

Salah satu inovasi utama dalam program ini adalah penerapan teknologi Natural-Based Alkalization, yaitu proses alkalisasi nib kakao menggunakan bahan alkali alami.

Teknologi ini dikembangkan untuk menghasilkan bubuk kakao (cocoa powder) dengan warna lebih baik, tingkat keasaman lebih rendah, cita rasa lebih seimbang, dan karakteristik produk yang lebih seragam. Produk bubuk kakao tersebut berpotensi menjadi bahan baku untuk pengembangan berbagai produk pangan berbasis cokelat.

Untuk mendukung proses produksi, program ini juga memperkenalkan penggunaan peralatan pengolahan kakao skala semi-industri, antara lain mesin roasting, cracker and winnower, oven, cocoa grinder, hydraulic cocoa press, dan hammer mill.

Penerapan peralatan tersebut dipadukan dengan penyusunan standar operasional prosedur (SOP), pengendalian mutu, serta pencatatan produksi agar proses pengolahan dapat berlangsung lebih terstandar dan berkelanjutan.

Dari sisi pengembangan produk, luaran yang ditargetkan mencakup bubuk kakao hasil penerapan teknologi Natural-Based Alkalization, pengembangan produk olahan kakao, serta dukungan identitas merek dan desain kemasan, termasuk kemasan bubuk kakao dan cokelat batang (chocolate bar).

Pengembangan tersebut diharapkan memperkuat kesiapan produk untuk dipasarkan dan membuka peluang diversifikasi usaha berbasis kakao lokal.

Tidak hanya berfokus pada produk fisik, program ini juga menargetkan luaran pemasaran digital berupa identitas merek (branding), desain kemasan, akun media sosial bisnis, toko pada marketplace, serta landing page yang terintegrasi dengan media sosial dan marketplace.

KWT Al Hadi mendapatkan pendampingan dalam fotografi produk, pembuatan konten promosi, copywriting, dan pengelolaan media pemasaran digital. Program juga menargetkan pembentukan kelompok usaha berbasis produk olahan kakao agar kegiatan ekonomi kelompok dapat dikelola secara lebih terarah.

Keterlibatan langsung para mitra menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Mitra 1 dari Kelompok Tani Salu Bendo’ Sopian menyambut baik program pendampingan yang dilaksanakan oleh UNIMEN dan UHO.

Menurutnya, penerapan teknologi pengolahan kakao memberikan peluang baru bagi petani untuk meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan yang selama ini lebih banyak dipasarkan dalam bentuk biji kakao kering.

“Program ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai petani kakao. Melalui pendampingan ini, kami mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru dalam penanganan pascapanen serta teknologi pengolahan kakao menjadi produk bernilai tambah,” ucapnya.

Sopian berharap keterampilan dan teknologi yang diperkenalkan dapat terus kami terapkan sehingga kakao dari Desa Mata Allo tidak hanya dijual sebagai bahan baku, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Apresiasi juga disampaikan oleh Mitra 2 dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Al Hadi, Nida Wahyuni.

Ia menilai program ini memberikan kesempatan bagi anggota kelompok untuk mengembangkan keterampilan kewirausahaan, pengolahan produk, pengemasan, dan pemasaran digital.

Pendampingan tersebut membuka wawasan anggota KWT mengenai peluang keterlibatan perempuan dalam mengembangkan usaha berbasis potensi kakao lokal.

“Melalui program ini, kami mendapatkan banyak pengetahuan baru, terutama tentang bagaimana mengembangkan produk olahan kakao, membuat kemasan yang menarik, membangun merek produk, dan memanfaatkan media digital untuk pemasaran,” ucapnya.

“Kami sangat bersyukur karena kegiatan ini memberikan kesempatan kepada anggota KWT Al Hadi untuk lebih produktif dan mengembangkan usaha bersama. Harapan kami, ke depan produk olahan kakao dari Desa Mata Allo semakin dikenal dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga serta masyarakat,” tambah Nida Wahyuni.

Dukungan pemerintah desa juga menjadi unsur penting dalam membangun keberlanjutan program. Kepala Desa Mata Allo, Usman Rasi, mendukung pelaksanaan kegiatan melalui koordinasi dengan kelompok mitra, fasilitasi kegiatan di tingkat desa, serta penguatan partisipasi masyarakat.

Program ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) dalam Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) Tahun Anggaran 2026.

Dukungan pendanaan tersebut menjadi bentuk fasilitasi pemerintah dalam mendorong kolaborasi antarperguruan tinggi untuk menerapkan hasil riset dan inovasi teknologi melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam pengembangan potensi kakao lokal dan penguatan ekonomi produktif di Desa Mata Allo, Kabupaten Enrekang.

Melalui kolaborasi UNIMEN dan UHO, program ini berupaya membangun ekosistem hilirisasi kakao yang menghubungkan produksi, pengolahan, pengembangan produk, dan pemasaran.

Kelompok Tani Salu Bendo’ berperan dalam penyediaan bahan baku berkualitas dan penguatan produksi, sedangkan KWT Al Hadi didorong menjadi penggerak pengembangan usaha dan pemasaran produk.

Inisiatif ini menjadi salah satu upaya mengoptimalkan potensi kakao Enrekang melalui penerapan hasil riset perguruan tinggi dan pemberdayaan masyarakat.

Lebih dari sekadar menghasilkan produk olahan, program ini diharapkan mampu menumbuhkan keterampilan, memperkuat kelembagaan usaha masyarakat, serta menciptakan peluang ekonomi baru yang berkelanjutan bagi warga Desa Mata Allo.(ams)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Buntut Cedera di Sirkuit Mandalika, Raul Fernandez Dilarang Turun pada Gelaran MotoGP Malaysia 2026
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Bali Jadi Saksi Taruna Ikrar Paparkan Konsep ABG untuk Asta Cita Presiden Prabowo Subianto
• 2 jam laluharianfajar
thumb
BPGMN Kembangkan SAGARA, Sistem Terintegrasi untuk Pantau Gambut dan Mangrove
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pramono Bakal Berangkatkan 10 Lurah Studi Banding Ke Luar Negeri
• 19 jam laludetik.com
thumb
MagangHub Batch 3 di kumparan Resmi Dibuka, Ada 8 Posisi
• 32 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.