Era QRIS, Gen Z hingga Gen X Masih Simpan Uang Tunai di Dompet

metrotvnews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Kemudahan transaksi digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) membuat masyarakat semakin terbiasa melakukan pembayaran tanpa uang fisik. Berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari membeli makanan hingga berbelanja, kini dapat dibayar hanya dengan memindai kode QR melalui ponsel.

Meski demikian, perkembangan pembayaran digital tidak membuat masyarakat meninggalkan uang tunai. Sejumlah masyarakat dari lintas generasi mengaku masih menyimpan uang fisik di dompet untuk memenuhi kebutuhan tertentu maupun sebagai persiapan ketika transaksi digital mengalami kendala.

Kebiasaan tersebut terlihat dari pengalaman Generasi Z, Milenial, hingga Generasi X yang kini sama-sama memanfaatkan pembayaran digital, tetapi tetap memiliki alasan untuk mempertahankan uang tunai.
 

Baca Juga :

Transformasi Rupiah, Membuka Inklusivitas Ekonomi Tanpa Melupakan Sejarah-Edukasi Ekonomi
  Utamakan QRIS, tapi tetap sedia tunai
Bagi Generasi Z, pembayaran digital menjadi salah satu pilihan utama dalam melakukan transaksi sehari-hari. Anisa, 22, mengaku lebih sering menggunakan QRIS ketika membeli makanan maupun memenuhi kebutuhan harian lainnya.

Meski lebih mengandalkan pembayaran digital, Anisa mengaku tetap menyediakan uang tunai di dalam dompet. Menurutnya, uang fisik masih diperlukan sebagai alternatif ketika pembayaran menggunakan QRIS tidak dapat dilakukan.

Hal serupa disampaikan Risviana, 21. Namun, berbeda dengan Anisa, Risviana mengaku menggunakan uang tunai dan QRIS secara berimbang, bergantung pada tempat serta kebutuhan transaksi.

Ia menilai menyimpan uang tunai tetap penting, meskipun nominalnya tidak perlu terlalu besar. Risviana biasanya menyediakan sekitar Rp100 ribu di dompet untuk berjaga-jaga apabila menemukan tempat makan atau pedagang yang belum menyediakan pembayaran digital.

"Kalau saya pribadi tuh penting ya, mungkin tapi enggak nominal yang gede. Paling mentok Rp100 ribu sudah cukup, paling buat jaga-jaga aja kalau lagi beli makan di luar terus tiba-tiba enggak bisa QRIS atau lagi gangguan, jadi bisa pakai cash," ucap Risviana saat diwawancarai di Lapangan A.A Maramis, Jakarta, dikutip Sabtu, 31 Oktober 2026.

Selain itu, pembayaran parkir menjadi salah satu transaksi yang menurutnya masih sering membutuhkan uang tunai. Sebab, belum semua tempat parkir menyediakan fasilitas pembayaran menggunakan QRIS.

(Ilustrasi uang tunai. Foto: dok MI)

  Uang tunai untuk kebutuhan anak
Kebiasaan menggunakan pembayaran digital juga dirasakan kalangan Milenial. Yudit, 31, mengaku lebih sering menggunakan QRIS untuk memenuhi kebutuhan transaksi sehari-hari. Meski demikian, ia tetap menyimpan uang tunai di dalam dompet.

Menurut Yudit, keberadaan uang fisik masih dibutuhkan karena tidak semua pedagang menyediakan fasilitas pembayaran digital. Selain itu, uang tunai juga diperlukan untuk kebutuhan transaksi kecil yang masih berlangsung dalam aktivitas sehari-hari.

"Masih penting uang cash, kan uang tukar belanja kita kan pakai uang cash sebenarnya. Terus ada beberapa juga yang enggak nerima QRIS, jadi harus tetap sedia sih," ucap Yudit.

Ia menambahkan, penggunaan uang tunai saat ini lebih banyak untuk kebutuhan tertentu, salah satunya memberikan uang jajan kepada anak. Sementara itu, untuk transaksi di supermarket maupun sejumlah pedagang lainnya, Yudit mengaku sudah terbiasa menggunakan QRIS karena dinilai lebih praktis.
  Uang tunai untuk belanja di pasar
Sementara itu, dari kalangan Generasi X, Eti, 56, mengaku masih mengombinasikan penggunaan uang tunai dan pembayaran digital dalam aktivitas sehari-hari. Ia mengatakan uang tunai masih menjadi pilihan ketika berbelanja di pasar tradisional. Namun, apabila tersedia fasilitas pembayaran digital, dirinya juga tidak ragu menggunakan QRIS maupun transfer.

"Kalau saya pribadi masih kombinasi. Kalau ke pasar saya memang tetap sedia uang cash. Tapi kalau misalkan ada pembayaran digital, saya juga pakai QRIS atau transfer," ucap Eti.

Menurut Eti, menyimpan uang tunai di dompet tetap penting sebagai persiapan ketika berada di luar rumah. Ia biasanya membawa sekitar Rp100 ribu untuk mengantisipasi kebutuhan mendadak, termasuk ketika ingin memberikan uang kepada pedagang kecil, maupun berbagi kepada orang yang membutuhkan.

Selain kebutuhan tersebut, Eti menilai uang tunai masih dibutuhkan ketika bertransaksi dengan pedagang di pasar tradisional, terutama pedagang yang belum terbiasa menggunakan pembayaran digital.

Pengalaman ketiga generasi tersebut menunjukkan bahwa kemudahan transaksi digital belum sepenuhnya menghilangkan kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai. Meski QRIS semakin banyak digunakan, uang fisik masih dipertahankan untuk memenuhi kebutuhan transaksi yang beragam dalam kehidupan sehari-hari. (Tiaranissa Juliansyah)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kejagung Lelang 209 Ribu Ton Batu Bara Kasus Korupsi Samin Tan, Terjual Rp264 Miliar
• 13 jam lalurctiplus.com
thumb
Kim Jong Un Pamer Teknologi Drone dan Senjata Canggih Korea Utara
• 15 jam laludetik.com
thumb
Balai Bahasa canangkan pembelajaran bahasa Enggano ke kurikulum
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Teddy dan Amran Sulaiman Terbaik, Nusron Wahid Terburuk! Ini Hasil Survei Kinerja Kabinet Prabowo
• 22 jam laluharianfajar
thumb
Lindungi Karya Merawat Warisan, Aquaproof Ajak Influencer Membatik Bersama
• 13 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.