JAKARTA – Petani di Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, kini memiliki alternatif pengeringan gabah tanpa harus bergantung pada cuaca cerah. Teknologi pengering gabah yang dikembangkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mampu mempercepat proses pengeringan dari tiga hingga tujuh hari menjadi belasan jam.
- Permintaan Beras Premium Meningkat, Bulog Kendal Genjot Produksi 600 Ton per Bulan
- Stok Beras 81.600 Ton, Bulog Semarang Jaga Kualitas Cadangan
- Bulog Beberkan Tantangan Menjaga Harga Beras Premium di Bawah HET
Mesin berkapasitas dua ton tersebut dikembangkan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) ITS untuk membantu petani di Kawasan Transmigrasi Momiwaren menangani hasil panen. Teknologi ini juga mengurangi kebutuhan penjemuran gabah secara manual di jalan yang selama ini dapat mengganggu arus lalu lintas.
Pengoperasian mesin pengering turut didukung pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk mengatasi keterbatasan pasokan listrik di kawasan tersebut. Dengan dukungan energi surya, petani memiliki pilihan pengolahan pascapanen yang tidak sepenuhnya bergantung pada ketersediaan listrik setempat.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara meninjau langsung pemanfaatan teknologi tersebut bersama masyarakat pada Jumat (30/10/2026). Iftitah menekankan bahwa inovasi yang dikembangkan perguruan tinggi harus mampu menjawab kebutuhan warga sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan.
“Saya ingin menyemangati dan melihat langsung karya-karya nyata yang diberikan oleh para anggota tim ekspedisi patriot dalam gerakan transmigrasi patriot, bahwa hari ini transmigrasi bukan lagi sekedar memindahkan penduduk, tetapi membangun satu kawasan ekonomi,” ujar Iftitah dalam siaran pers, Sabtu (31/10/2026).
Selain mempercepat pengeringan, pengembangan teknologi pascapanen juga mencakup pemilahan beras berdasarkan kualitas. Proses tersebut membuka peluang bagi petani untuk memperoleh harga jual lebih tinggi dibandingkan menjual hasil panen tanpa pemilahan.
Menurut Iftitah, beras utuh berkualitas premium hasil pemilahan memiliki harga jual sekitar Rp15.000 hingga Rp17.000 per kilogram. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan harga sebelumnya yang berkisar Rp12.000 per kilogram.
Pemanfaatan hasil samping penggilingan juga dikembangkan untuk meningkatkan nilai ekonomi produk pertanian. Beras menir yang sebelumnya dijual sebagai pakan ternak seharga Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram kini dapat diolah menjadi tepung beras dengan harga jual sekitar Rp18.000 per kilogram.
Meski demikian, selisih harga tersebut belum memperhitungkan biaya pengolahan menjadi tepung. Pengembangan produk ini membuka peluang bagi petani dan pelaku usaha desa untuk memperoleh nilai tambah dari hasil panen.
Pengolahan tepung beras dikelola badan usaha milik desa (BUMDes) setempat yang telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Produk tersebut diproyeksikan memasok kebutuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk produsen peyek dan kue.
Iftitah berharap inovasi pengolahan hasil pertanian dapat memperluas peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat transmigrasi. Peningkatan nilai tambah produk pertanian juga diharapkan membantu memperbaiki pendapatan petani.
Selain teknologi pengering gabah, Tim Ekspedisi Patriot ITS mengembangkan sejumlah inovasi untuk mendukung kegiatan ekonomi dan kebutuhan dasar masyarakat. Salah satunya reaktor biogas yang menghasilkan produk samping berupa pupuk organik cair dengan produksi dilaporkan mencapai 50 liter per hari.
Di sektor perikanan, tim menghadirkan teknologi pengasapan ikan yang mampu memangkas waktu pengolahan dari dua hari menjadi maksimal dua jam. Inovasi tersebut memberikan alternatif bagi pelaku usaha perikanan untuk mempercepat proses produksi.
Tim ITS juga membangun instalasi pompa air bersih dan menara tandon untuk melayani kebutuhan 35 keluarga. Selain itu, pengembangan situs promosi dan aplikasi administrasi BUMDes dilakukan untuk membantu pemasaran produk serta pencatatan kegiatan usaha.
Rektor ITS Bambang Pramujati mengatakan, keterlibatan perguruan tinggi dalam Ekspedisi Patriot memberikan kesempatan bagi mahasiswa dan dosen untuk menerapkan ilmu secara langsung di masyarakat. Program tersebut melibatkan 100 mahasiswa dan 20 dosen yang tergabung dalam 20 tim di tiga distrik.
“Ini ada 100 mahasiswa, 20 tim di tiga distrik dan 20 dosen yang terlibat di sana. Dan mereka mempunyai kesempatan untuk memberi kebermanfaatannya lebih bagi masyarakat dengan ilmu yang mereka miliki,” ujar Bambang.
Bambang juga menyampaikan kesiapan ITS untuk melanjutkan kegiatan pengabdian melalui skema Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik. Kelanjutan pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memanfaatkan teknologi yang telah dikembangkan.
Wakil Bupati Manokwari Selatan Mesak Inyomusi mengapresiasi kehadiran inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat, mulai dari pengolahan hasil pertanian hingga penyediaan air bersih. Mesak berharap manfaat program tersebut dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh warga kawasan transmigrasi.
“Inovasi-inovasi yang terbaik oleh adik-adik kami, mahasiswa dari Patriot ini betul-betul menyentuh kami, warga masyarakat di Manokwari Selatan. Sangat luar biasa, semoga ini jadi berkat bagi kami dan semua masyarakat transmigrasi yang ada di sini,” ujar Mesak.




