Titik Api Nihil di TN Way Kambas, Kondisi Satwa Liar Terus Dipantau

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS-  Kebakaran hutan dan lahan yang sempat melanda kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, Lampung, dipastikan telah padam. Petugas tetap berpatroli demi memastikan tiada lagi titik api di area bekas kebakaran. Satwa liar dalam hutan itu terpantau aman.

“Hasil pemantauan udara melalui drone siang ini menunjukkan tidak ditemukan titik api atau asap,” kata Humas Balai TN Way Kambas Riri Fitriandi saat dihubungi pada Sabtu (31/10/2026).

Menurut dia, tim satgas darat juga melakukan pembasahan pada sejumlah lokasi bekas kebakaran hutan di Resor Cabang dan Resor Susukan Baru, TNWK. Pembahasan area itu dilakukan untuk mencegah munculnya titik api baru, khususnya di kawasan lahan gambut.   

Sejumlah wilayah di Lampung sudah diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, sejak Rabu (28/10/2026) hingga Sabtu (31/10/2026). Hujan yang berlangsung selama beberapa hari terakhir telah meredakan kebakaran di Lampung, termasuk di TNWK.

Data pemantauan titik panas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung secara real time pada Sabtu pukul 17.00 WIB, terdeteksi 17 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang. Dari jumlah itu, titik kebakaran paling banyak terdeteksi di Kabupaten Tulang Bawang dengan jumlah 9 titik.

Jumlah itu menurun dibandingkan pada pantauan beberapa hari sebelumnya yang mencapai 40-70 titik per hari. Hasil analisis juga menunjukkan, tidak ada lagi titik panas yang terlihat di sekitar kawasan TNWK, Lampung Timur.

Sebelumnya, sekitar 350 personel gabungan berjibaku memadamkan kebakaran di TN Way Kambas yang berlangusng selama lebih dari satu bulan. Upaya pemadaman dilakukan oleh tim gabungan melalui satgas darat dan udara. Pemadaman melibatkan personel TNI dari Kodam XXI/Radin Inten, termasuk Tim Alfa, Yon TP, dan jajaran Komando Distrik Militer (Kodim), serta personel Polri dan Manggala Agni.

Komandan Satgas Pasukan Darat Pemadaman Karhutla di TNWK, Letkol Inf Jonathan Ginting mengatakan, pihaknya tetap melakukan penyisiran dan pendinginan lanjutan untuk memastikan tidak ada bara api yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah kebakaran kembali terjadi. “Kami tetap memastikan dan mengecek ke titik-titik api sehingga kita dapat pastikan untuk ke depannya api ini tidak muncul kembali,” katanya.

Merujuk data dari TNWK, sepanjang Januari hingga awal Oktober 2026, setidaknya terjadi 21 kejadian kebakaran di dalam kawasan hutan TNWK. Luas kebakaran hutan mencapai 7.000 hektar yang didominasi vegetasi semak belukar dengan karakteristik tanah gambut.

Baca JugaPemadaman Karhutla di TN Way Kambas Terbantu Hujan yang Mengguyur Lampung
Satwa liar

Terkait kondisi satwa liar yang hidup di dalam hutan TNWK, kata Riri, sejauh ini tidak ditemukan adanya satwa yang terdampak karhutla. Lokasi kebakaran berada cukup jauh dari pusat konservasi gajah maupun habitat alami satwa liar di TNWK.  

Hasil pemantauan kamera jebak di zona inti pada awal Oktober 2026 menunjukkan, empat ekor harimau Sumatera yang hidup di hutan TNWK dalam kondisi sehat. Dalam video yang diunggah akun resmi Instagram @kemenhut milik Kementerian Kehutanan, empat harimau terlihat sedang meminum air dari dalam bak penampung air yang disiapkan oleh petugas kehutanan.

Selama kemarau, pengelola Balai TNWK bekerja sama dengan mitra konservasi memang menyiapkan minum dalam bak-bak penampung air di dalam hutan. Langkah itu dilakukan untuk menjaga ketersediaaan air minum untuk satwa liar.

Sementara itu, Ketua Forum HarimauKita Sugeng Dwi Hastono berpendapat, kebakaran hutan tidak hanya menghancurkan vegetasi tanaman yang ada di dalam hutan. Habitat dan keselamatan berbagai jenis satwa liar, termasuk harimau, juga terancam.

”Tumbuhan yang habis menjadi arang dan abu membuat habitat harimau dan satwa lainnya musnah. Tidak ada lagi tempat yang nyaman untuk harimau bersembunyi, beristirahat, dan berkamuflase,” katanya.

Sejauh ini, memang tidak ditemukan adanya indikasi maupun laporan terkait adanya satwa liar yang terdampak karhutla. Namun, pematauan terhadap kondisi satwa harus terus dilakukan dalam jangka panjang.  

Apalagi, TNWK merupakan benteng terakhir penyelamatan sejumlah satwa dilindungi. TNWK menjadi kawasan konservasi dan pengembangbiakan gajah sumatera dan badak sumatera. Dari pengamatan kamera pemantau dan pengamatan langsung, sejumlah satwa liar, seperti harimau sumatera dan tapir, ditemukan hidup di dalam TNWK. Hutan konservasi itu juga menjadi rumah bagi satwa lain, seperti burung, rusa, kukang, buaya, dan berbagai jenis primata lainnya.

Baca JugaEmpat Dekade Konservasi Gajah Sumatera di TN Way Kambas

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kutai Lama tawarkan beragam pengalaman wisata
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Anak Usaha BIKE Kantongi Proyek PLTMG Senilai Rp3,8 Triliun
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Meski dilarang polisi, pengadilan Paris izinkan demo lanjutan
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Kemenekraf Sebut Strategi Pemasaran Tak Bisa Lagi Menunggu Produk Selesai Dibuat
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Ramai-Ramai Gen Z Tinggalkan Smartphone, Pindah ke Penggantinya
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.