Rupiah Diproyeksi Melemah Awal Pekan Depan, Ini Faktor Pemicunya

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih bergerak melemah pada awal pekan November 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu kombinasi sentimen global, terutama geopolitik Timur Tengah dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) serta dinamika internal di dalam negeri.

Pada penutupan perdagangan Jumat, (30/10), rupiah berada di posisi Rp 18.149 per dolar AS, melemah 0,23 persen harian dan terkoreksi 0,37 persen secara mingguan.

Pelemahan terjadi saat mayoritas mata uang utama Asia justru menguat terhadap dolar AS. Secara year-to-date (ytd), rupiah tercatat telah terdepresiasi 7,91 persen.

Economic Researcher Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai, tren ini mencerminkan tingginya persepsi risiko investor terhadap Indonesia.

"Untuk pekan depan, rupiah cenderung bergerak melemah di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.200 per dolar AS. Level Rp 18.200 merupakan batas psikologis krusial. Dapat berlanjut ke Rp 18.300," ujar Yusuf, Sabtu, (31/10).

Yusuf memaparkan tiga pemicu eksternal utama antara lain, potensi kenaikan inflasi global, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2026 akibat kuatnya PDB AS kuartal III 2026 (3,4 persen), serta lonjakan harga minyak dunia di atas USD 115 per barel.

Sebagai negara net importir minyak, lonjakan ini membengkakkan kebutuhan dolar AS untuk impor dan beban subsidi energi.

Dari dalam negeri, isu perubahan klasifikasi pasar saham oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) ikut memperburuk persepsi investor.

Hal ini memicu aksi jual bersih (net sell) asing Rp 94,87 triliun sejak awal tahun, melesatkan yield SBN 10 tahun ke 7,44 persen, serta mendorong credit default swap (CDS) 5 tahun ke 106 bps.

Sementara itu, Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah bergerak pada kisaran Rp 18.000–Rp 18.320 per dolar AS. Ibrahim menambahkan, ketidakpastian politik di tengah maraknya aksi demonstrasi sejak awal Oktober turut menjadi perhatian pelaku pasar dalam memantau stabilitas nasional.

Meski demikian, Yusuf menilai Bank Indonesia (BI) masih memiliki amunisi intervensi yang cukup. Cadangan devisa per akhir September 2026 sebesar USD 146,3 miliar (setara 5,3 bulan impor) memadai untuk menjaga ketahanan pasar spot, DNDF, maupun NDF, kendati opsi penyesuaian BI Rate tetap terbuka jika tekanan terus berlanjut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ruben Onsu Legowo Jika Sarwendah Menang Hak Asuh Anak, Sang Presenter Ngaku Hanya Minta Satu Hal Ini
• 2 jam lalugrid.id
thumb
OJK Denda Pelaku Saham SHID, IMPC - KIOS Hingga Miliaran Rupiah
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pemprov Aceh Dukung Australia dan The Asia Foundation Perkuat Demokrasi Partisipatif
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Menag Ingin Pesantren Lahirkan Kembali Kejayaan Baitul Hikmah
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Gen Z Jerman Gelar Aksi Nasional, Protes Rencana Hidupkan Kembali Wajib Militer
• 4 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.