TOKYO, KOMPAS.TV - Peluang kerja bagi warga negara Indonesia (WNI) di Jepang semakin terbuka seiring meningkatnya kebutuhan tenaga kerja asing di Negeri Sakura.
Indonesia bahkan menjadi salah satu negara pengirim pekerja dengan pertumbuhan tercepat, dengan jumlah tenaga kerja yang terus bertambah melalui berbagai skema penempatan.
Di tengah perkembangan tersebut, pemerintah Jepang bersiap mengubah sistem pemagangan tenaga kerja asing dari Technical Intern Training Program (TITP) menjadi Employment for Skill Development Program (ESDP).
Perubahan yang dijadwalkan mulai berlaku pada April 2027 ini diharapkan memberikan jalur pengembangan keterampilan dan karier yang lebih jelas bagi pekerja asing, termasuk asal Indonesia.
Persiapan menghadapi perubahan kebijakan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam 3rd Forum on the Current Situation Surrounding Indonesian Human Resources in Japan yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo bersama Japan-Indonesia Association, Inc. (JAPINDA), Rabu (28/10/2026).
Baca Juga: Momen Kepala BGN Sudaryono Berbahasa Jepang Bahas Inovasi MBG, Disambut Tepuk Tangan
Forum yang berlangsung di KBRI Tokyo itu dihadiri sekitar 80 peserta dari perusahaan anggota JAPINDA, lembaga penerima dan pendukung pekerja asing, serta pemerintah daerah di Jepang.
Pertemuan tersebut menjadi wadah untuk membahas perkembangan kebijakan ketenagakerjaan kedua negara sekaligus mengidentifikasi peluang baru bagi pekerja Indonesia.
Duta Besar RI untuk Jepang Nurmala Kartini P. Sjahrir mengatakan, kebutuhan tenaga kerja Jepang dan kesiapan sumber daya manusia Indonesia memiliki peluang untuk saling melengkapi.
Namun, peluang tersebut perlu dikelola melalui sistem penempatan, peningkatan keterampilan, dan pelindungan pekerja yang memadai.
"ESDP dirancang untuk membina pekerja selama tiga tahun hingga siap beralih ke pekerja berketerampilan spesifik (Specified Skilled Worker/SSW), sehingga jalur karir mereka di Jepang menjadi lebih jelas dan berkesinambungan," ujar Kartini melalui siaran pers, Sabtu (31/10/2026).
Transisi Sistem Magang Jepang ke ESDP pada 2027Peralihan dari TITP ke ESDP menjadi perhatian utama dalam forum tersebut. Perubahan ini berkaitan dengan upaya Jepang menyiapkan sistem pengembangan tenaga kerja asing yang lebih terarah, terutama dalam peningkatan keterampilan sebelum pekerja melanjutkan karier melalui jalur SSW.
Senior Vice President Japan International Trainee & Skilled Worker Cooperation Organization (JITCO), Shigeo Matsutomi, memaparkan kesiapan sistem penerimaan pekerja asing di Jepang serta perkembangan migrasi tenaga kerja global. Dalam paparannya, ia juga menyoroti posisi Indonesia sebagai salah satu negara pengirim tenaga kerja yang semakin menonjol.
Dari pihak Indonesia, Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Dwi Setiawan Susanto, menjelaskan arah kebijakan penempatan dan pelindungan pekerja migran Indonesia (PMI).
Pembahasan turut mencakup penguatan kerja sama Indonesia-Jepang serta pembaruan Memorandum of Cooperation (MoC) terkait skema SSW yang masih dalam tahap negosiasi.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI Muhammad Arfian memaparkan strategi talent circulation atau sirkulasi talenta. Strategi tersebut diarahkan untuk menggeser fokus penempatan tenaga kerja dari kuantitas menuju kualitas melalui pelatihan vokasi, sertifikasi kompetensi, dan peningkatan kemampuan bahasa Jepang.
Jumlah WNI di Jepang Tembus 307.456 OrangBesarnya peluang kerja di Jepang juga terlihat dari pertumbuhan jumlah warga negara Indonesia yang tinggal di negara tersebut.
Berdasarkan data per Juni 2026, jumlah WNI di Jepang mencapai 307.456 orang. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai kelompok warga negara asing terbesar keenam di Jepang, setelah mengalami penambahan 41.387 orang dalam enam bulan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 108.367 orang bekerja melalui jalur SSW, sedangkan 139.846 orang berada dalam skema TITP. Kedua jalur tersebut secara keseluruhan mencakup sekitar 81 persen dari total WNI di Jepang.
Baca Juga: Presiden Prabowo Beri Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games-Asian Para Games Jepang, Ini Pesannya
Tren peningkatan juga terlihat dari jumlah pekerja baru asal Indonesia yang masuk ke Jepang melalui kedua skema tersebut. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, jumlahnya mencapai 57.200 orang atau meningkat 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian tersebut sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara pengirim pekerja terbanyak melalui jalur TITP dan SSW pada periode tersebut.
Peluang Kerja Jepang Tidak Hanya untuk Pekerja MagangSelain membahas perubahan sistem pemagangan, forum tersebut juga menyoroti peluang bagi lulusan perguruan tinggi dan tenaga profesional Indonesia untuk berkarier di Jepang.
Board of Director JP-MIRAI, Kenichi Shishido, menguraikan sejumlah tantangan dalam penerimaan pekerja Indonesia. Hal itu meliputi pengembangan sumber daya manusia, retensi pekerja, pengembangan karier, hingga pelindungan tenaga kerja.
Sementara itu, Akinori Ariga dari International Human Resources Promotion Association (IPESA) membahas kesempatan bagi lulusan perguruan tinggi dan pelajar asing untuk memasuki pasar kerja Jepang melalui jalur tenaga profesional maupun program magang internasional.
Pengalaman bekerja sambil menempuh pendidikan juga menjadi salah satu topik pembahasan. Asep Bara, alumni Universitas Terbuka, membagikan pengalamannya menjalani perkuliahan jarak jauh selama bekerja di Jepang.
Peluang lain turut diperkenalkan oleh Kenichi Hikawa dari KS Global, yakni perekrutan pengemudi bus asal Indonesia melalui skema SSW. Kesempatan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kerja Jepang tidak hanya terbatas pada sektor pemagangan, tetapi juga membuka ruang bagi pekerja dengan keterampilan khusus.
Pelindungan Pekerja Migran Jadi PerhatianDi tengah meningkatnya kesempatan kerja, KBRI Tokyo menekankan pentingnya proses rekrutmen yang adil serta pelindungan bagi pekerja Indonesia.
Kartini menyebut pelindungan pekerja sebagai fondasi dalam membangun hubungan ketenagakerjaan yang berkelanjutan.
Menurut dia, pekerja yang direkrut secara adil dan merasa aman akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan memberikan kontribusi optimal di tempat kerja.
Dubes RI juga mendorong perluasan kerja sama Indonesia-Jepang hingga mencakup tenaga profesional berketerampilan tinggi, termasuk lulusan perguruan tinggi Indonesia yang memiliki kesiapan untuk berkarier di Jepang.
Dalam sambutannya, Kartini turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya mantan Perdana Menteri Jepang sekaligus Ketua JAPINDA, Yasuo Fukuda.
Pada masa kepemimpinannya, Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) mulai berlaku pada 2008 dan membuka jalan bagi penerimaan perawat serta pekerja perawatan lansia asal Indonesia di Jepang.
Melalui forum tersebut, KBRI Tokyo berharap pemerintah, dunia usaha, dan lembaga terkait di kedua negara memiliki pemahaman yang sama mengenai perubahan kebijakan ketenagakerjaan Jepang.
Pertemuan ini juga diharapkan menghasilkan peluang kerja sama konkret sekaligus memperkuat akses tenaga kerja Indonesia ke pasar kerja Jepang.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel, sesi tanya jawab, dan networking yang mempertemukan para pemangku kepentingan di bidang ketenagakerjaan Indonesia dan Jepang.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Dian Nita Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- jepang
- peluang kerja
- kbri tokyo
- sistem magang





