Harga Gas Eropa Diprediksi Naik pada 2027, Risiko di Timur Tengah Penyebabnya

metrotvnews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Brusel: Harga gas alam Eropa berpotensi tetap rentan terhadap lonjakan tajam pada 2027, seiring dengan kekhawatiran pasar akan kemungkinan kembali terjadinya konflik di Timur Tengah serta potensi kerusakan pada infrastruktur gas alam cair (LNG).

Dikutip dari Investing, Minggu, 1 November 2026, analis Citi memperkirakan, harga acuan Dutch TTF untuk musim dingin 2026-2027 dapat mencapai 85 euro per megawatt-jam (MWh) jika konflik meningkat, namun fasilitas pencairan gas (liquefaction) tetap tidak mengalami kerusakan. Harga bisa melonjak hingga sekitar 154 euro/MWh jika fasilitas LNG terkena dampak dan tidak dapat beroperasi.

Dengan memperhitungkan probabilitas dari kedua skenario tersebut, Citi mengestimasi harga tertimbang sekitar 103 euro/MWh dalam skenario eskalasi, dibandingkan dengan harga yang berlaku saat analisis dilakukan, yakni sekitar 95 euro/MWh. Jika tidak terjadi eskalasi, harga diperkirakan akan bergerak di kisaran 60–70 euro/MWh.

Citi menyatakan bahwa harga untuk kontrak musim dingin 2026-2027, serta kontrak tahun 2028 dan 2029, tampaknya mencerminkan probabilitas eskalasi yang serupa, dengan perkiraan peluang sekitar 25 persen bahwa fasilitas pencairan gas akan terkena dampak.

Namun, bank tersebut mempertanyakan apakah pasar telah menilai risiko kerusakan infrastruktur secara akurat, mengingat hubungan yang membaik antara Iran dan Qatar, seraya memperingatkan bahwa perkembangan konflik tetap sulit diprediksi.

Citi juga menyoroti lonjakan tajam pada kontrak gas Eropa untuk jangka waktu yang lebih panjang, di mana harga TTF untuk tahun 2028 telah naik sekitar 60 persen dalam tiga bulan terakhir. Langkah ini tergolong tidak lazim untuk kontrak dengan jangka waktu yang begitu jauh ke depan, dan telah mendorong harga mendekati level yang terlihat pada 2022, menyusul pecahnya perang Rusia-Ukraina.

Baca Juga :

OPEC+ Diprediksi Pertahankan Tingkat Produksi Minyak pada Desember

(Ilustrasi. Foto: Unplash) Potensi kerusakan fasilitas LNG Bank tersebut menyatakan bahwa pasar mungkin tengah mengantisipasi kemungkinan kerusakan pada fasilitas pencairan LNG (gas alam cair) yang dapat menyebabkan fasilitas tersebut tidak beroperasi selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun; sentimen ini juga diperkuat oleh aksi penutupan posisi jual (short-covering).

Sementara itu, Citi menilai terdapat potensi kenaikan yang lebih besar pada harga gas acuan AS, Henry Hub, dibandingkan dengan harga gas Eropa (TTF), seandainya terjadi cuaca dingin ekstrem atau fenomena polar vortex. 

Harga gas Henry Hub untuk periode musim dingin telah turun tajam, sementara posisi spekulatif di kalangan investor pengelola dana (managed-money investors) berada di salah satu level posisi jual (short position) terendah sejak awal 2020.

Citi menambahkan bahwa upaya diplomatik yang melibatkan Qatar, Arab Saudi, dan Tiongkok, serta perkembangan seputar pemilihan umum di Israel, tetap menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi prospek ke depan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hadiri Pertemuan G20 di AS, Menlu RI Soroti Dampak Perang Terhadap Ketahanan Pangan dan Energi
• 52 menit laluidxchannel.com
thumb
PKB Tentukan Langkah Politik usai MA Nyatakan Suket Ijazah Gibran Tak Sah
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Harga BBM 1 November 2026 Tak Berubah: Pertamax Rp 15.950, Dexlite Rp 23.700/L
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Menkes Pastikan Klinik Kesehatan di Kopdes Bisa Melayani Peserta BPJS | KOMPAS PETANG
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Mengapa Raffi Ahmad dan Willie Salim Dihujat Usai Deklarasi di Bundaran HI? Tipe-Ex Mundur dari Festival RANS
• 21 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.