HARIAN.FAJAR.CO.ID, WASHINGTON—FBI mengaitkan Korea Utara dengan pencurian aset virtual senilai $6,3 miliar (Rp114 triliun) dari bursa mata uang kripto Binance yang menjadi kasus terbesar sepanjang sejarah.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu, FBI menyebutkan bahwa pelaku kejahatan asal Korea Utara terpantau mencuci aset-aset curian tersebut dengan cara mengubahnya, terutama menjadi mata uang kripto Ethereum.
Badan AS tersebut secara spesifik menuding kelompok bernama TraderTraitor sebagai pihak di balik operasi ini—kelompok yang sama yang juga dituding bertanggung jawab atas pencurian senilai $1,5 miliar dari platform Bybit pada Februari tahun lalu.
Menurut pernyataan tersebut, aset-aset itu diperkirakan akan “terus dicuci” secara bertahap.
FBI mengimbau para penyedia layanan aset virtual untuk memblokir transaksi yang digunakan dalam operasi pencucian dana terbaru ini, seraya memberikan daftar alamat digital yang dicurigai untuk diawasi.
Dalam pernyataan terpisah pada hari Sabtu, Binance menyatakan telah mengganti 90 persen dari jumlah yang dicuri dengan menggunakan dana perusahaan untuk membeli token-token baru.
Sisanya, sebesar 10 persen, terdiri dari token yang likuiditasnya lebih rendah, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk dibeli kembali, tambah pihak perusahaan.
“Kami akan terus membeli sisa aset token yang relevan… hingga jumlah yang diganti mencapai 100 persen untuk semua token. Binance akan menanggung dampak finansial dari dana yang dicuri ini, bukan pengguna kami,” ungkap perusahaan tersebut melalui platform X dikutip dari Al Jazeera.
Dana yang digunakan untuk membeli kembali token-token tersebut berasal dari Secure Asset Fund for Users (SAFU) senilai $1 miliar—sebuah dana cadangan Bitcoin yang dikelola Binance untuk melindungi pelanggan jika terjadi pelanggaran keamanan—serta sebagian dari Futures Insurance Fund dan kas perusahaan.
Harga mata uang kripto sempat turun pada hari Jumat, sementara Binance—yang mengoperasikan bursa kripto terbesar di dunia—berupaya meyakinkan pelanggan bahwa dana mereka aman.
Salah satu CEO Binance, Richard Teng, mengatakan pada hari Jumat bahwa peretasan tersebut merupakan serangan kompleks yang melibatkan laptop yang telah disusupi serta perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk menghapus jejak aktivitas pelaku, sehingga menyulitkan proses pelacakan dan investigasi.
Setelah peretasan terjadi, pihak bursa sempat menghentikan layanan penarikan dana bagi para pelanggan.
Pada Sabtu malam, Binance menyatakan bahwa mereka berada di jalur yang tepat untuk membuka kembali layanan penarikan pada hari Minggu.
Binance juga mengumumkan penerbitan snapshot bukti cadangan (proof-of-reserves) yang baru, yang memungkinkan pengguna untuk memverifikasi secara mandiri bahwa aset mereka didukung dengan rasio minimal 1:1. (amr)





