Cuaca Esktrem Picu Banjir dan Longsor di Jatim Selatan Tewaskan 2 Warga

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Warga perlu mewaspadai datangnya pancaroba kali ini. Cuaca ekstrem yang terjadi tiga hari terkhir mengakibatkan longsor hingga banjir di wilayah selatan Jawa Timur. Dua orang tewas akibat longsor dan sejumlah rumah terdampak.

Di Kabupaten Malang, hujan pada Sabtu (31/10/2026) dini hari, mengakibatkan longsor dan jalan amblas. Air hujan dan lumpur meluap pada beberapa titik di Desa Tirtoyudo, Kecamatan Tirtoyudo. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat 21 rumah rusak ringan-sedang akibat longsor di Dusun Krajan, Sidodadi, Sukomulyo, dan Sukodono.

“Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Hujan dengan intensitas tinggi terjadi mulai (Sabtu) pukul 01.00 WIB sehingga pukul 05.00 terjadi longsor,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan, Minggu (1/11/2026).

Tak hanya di Kecamatan Tirtoyudo, pada hari yang sama, longsor juga terjadi di Desa Tirtomarto dan Wirotaman di Kecamatan Ampelgading. Tiga rumah warga dilaporkan mengalami rusak ringan sampai sedang akibat tertimpa material longsor. Sedangkan angin kencang di wilayah Kecamatan Singosari, Jumat (30/10/2026), berbuntut pada rusak ringan 14 rumah warga dan gedung SMPN 4 Satu Atap.

Menurut Sadono hujan mulai turun di wilayah Kabupaten Malang dengan intensitas masih rendah. Diperkirakan, curah hujan dengan intensitas tinggi mulai berlangsung sejak dasarian ketiga Desember. Meski demikian, sejak saat ini warga diimbau waspada.

Di Kabupaten Malang terdapat belasan titik rawan banjir dan longsor. Daerah-daerah tersebut berada di wilayah pegunungan, baik di Malang timur dan Malang barat, seperti Pujon, Kasembon, Ngantang, Poncokusumo, Dampit, Tirtoyudo, dan Sumbermanjing Wetan.

Hujan deras sejak siang hingga dini hari juga memicu longsor di Kabupaten Lumajang, Sabtu (31/10/2026) dini hari. Korban longsor adalah Imron Rosadi (40) dan anaknya, Hilya (9), warga Dusun Jonggrang, Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo.

Saat peritiwa terjadi, keduanya tengah dalam kondisi terlelap. Jonggrang sendiri berada di pegunungan di sisi selatan Semeru. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang Isnugroho tebing yang longsor memiliki dimensi lebar sekitar 8 meter dan tinggi 10 meter.

Baca JugaOperasi Modifikasi Cuaca untuk Kurangi Dampak Cuaca Ekstrem di Jatim

Selain rumah yang ditempati korban, menurut Isnugroho, longsor juga menimpa dua rumah lainnya. “Rumah korban rusak pada bagian dapur. Sedang dua rumah lainnya, milik Wardi rusak bagian belakang. Satu lagi rumah Sulaiman rusak bagian pagar,” ucapnya.

Hujan deras juga mengakibatkan banjir di wilayah Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek, Jumat (30/10/2016). Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Besar kerugian masih dikalkulasi.

Secara terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek Stefanus Triadi Atmono mengatakan selain faktor drainase, banjir dan longsor di Munjungan kali ini juga terjadi akibat hujan curah hujan ekstrem. Untuk satu wilayah se-Jawa Timur, berdasarkan citra satelit, hujan paling ekstrem terjadi di Munjungan.

Banjir luapan terjadi di Desa Masaran dengan ketinggian 40 sentimeter. Sedangkan longsor terjadi pada 13 titik di tiga desa. “Sebanyak 27 rumah rusak ringan akibat longsor, ada 28 keluarga terdampak. Sedangkan banjir sempat merendam gedung SMPN 1 Munjungan. Sekitar pukul 08.00, Sabtu air telah surut,” ucapnya.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bencana hidrometeorologi juga terjadi di wilayah lain di Jawa Timur. Di Kabupaten Magetan, 11 unit rumah, 1 fasilitas pendidikan, dan 1 fasilitas kesehatan rusak akibat angin hujan deras disertai angin kencang, Kamis (29/10/2026).

Hal serupa terjadi di Kabupaten Ngawi. Hujan deras disertai angin mengakibatkan 11 pohon di enam desa di Kecamatan Kedawung dan Ngawi tumbang. Empat rumah rusak dan kabel listrik putus.

Baca JugaKarhutla Belum Usai, Masyarakat Diminta Waspada Banjir

Di luar Jawa, pada hari yang sama, bencana serupa dilaporkan terjadi di Kuningan, Jawa Barat; Langkat, Sumatera Utara; dan Sragen, Jawa Tengah.

Di Kuningan ada 80 rumah rusak (66 rusak ringan, 6 rusak sedang, dan 8 rusak berat) akibat hujan deras disertai angin kencang. Sedangkan banjir berdampak terhadap 310 unit rumah di tiga desa di Kecamatan Tanjungpura. Adapun hujan deras di Sragen menyebabkan banjir di Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang.

BNPB menetapkan delapan langkah kesiapsiagaan menghadapi musim hujan 2026/2027. Langkah itu mencakup pemetaan wilayah rawan bencana, penyiapan personel dan logistik, pemantauan informasi cuaca, penguatan sistem peringatan dini, hingga edukasi masyarakat.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Kepala BNPB Nomor 4 Tahun 2026 tentang Langkah-Langkah Kesiapsiagaan Menghadapi Musim Hujan Tahun 2026/2027. Surat edaran yang ditandatangani Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi pada 30 Oktober 2026 tersebut ditujukan kepada gubernur serta bupati dan wali kota di seluruh Indonesia.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton S Panjaitan, dalam siaran pers, mengatakan berdasarkan informasi resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengenai prediksi musim hujan 2026/2027 pada 2 Oktober 2026, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim hujan pada akhir 2026 hingga awal 2027.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, dan gelombang tinggi. Oleh karena itu, kesiapsiagaan sejak dini, kata Berton diperlukan untuk menyelamatkan jiwa, meminimalkan kerugian harta benda, serta memastikan koordinasi dan penanganan darurat berjalan cepat, tepat, dan terpadu.

Salah satu langkah yang menjadi perhatian adalah pemetaan wilayah rawan bencana hidrometeorologi. Pemetaan dilakukan berdasarkan dokumen kajian risiko bencana, rencana kontingensi, portal InaRISK, Portal Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI), maupun sumber informasi resmi lainnya. Hasilnya menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan dan prioritas kesiapsiagaan di masing-masing daerah.

Kesiapan personel, peralatan, dan logistik penanganan darurat juga menjadi bagian dari langkah antisipasi. Hal ini dilakukan melalui penyelenggaraan apel kesiapsiagaan. Selain itu, Dana Siap Pakai (DSP) dapat dioptimalkan apabila dibutuhkan dengan penetapan status keadaan darurat bencana.

Aspek pemantauan juga menjadi perhatian melalui peningkatan pengawasan informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG secara berkala. Analisis wilayah rawan bencana perlu dilakukan agar informasi yang diperoleh dapat disebarluaskan melalui saluran komunikasi yang tersedia dan menjadi dasar bagi masyarakat dalam mengambil langkah antisipasi.

Koordinasi penanggulangan bencana dilakukan melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, masyarakat, lembaga usaha, akademisi, dan media. Kesiapan posko penanganan darurat bencana selama 24 jam juga menjadi bagian penting untuk mendukung koordinasi apabila terjadi keadaan darurat.

Di sisi masyarakat, edukasi dan sosialisasi kesiapsiagaan berbasis komunitas perlu ditingkatkan. Materi edukasi meliputi mekanisme evakuasi mandiri serta perlindungan kelompok rentan. Kesiapan dan keberfungsian sistem peringatan dini beserta mekanisme penyampaian informasinya kepada masyarakat juga perlu dipastikan.

Sebelumnya, BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur (Jatim), dalam rilisnya memprediksi musim hujan, awal Oktober lalu. BMKG memperkirakan sebagian kecil daerah di Jatim mengawali musim hujan Bulan November, yakni 5 zona musim (8,5 persen luas daratan), antara lain sebagian wilayah Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, dan Kediri. Sedangkan sebagian besar wilayah lainnya baru memasuki musim hujan Bulan Desember.

“Sebanyak 68 zona musim dari 74 zona musim di Jawa Timur, atau kalau kita bagi dalam luasan daratan Jawa Timur, sebanyak 90,6 persen atau hampir 91 persen memasuki musim hujan baru di Desember (29 zona dasarian 1, 28 zona dasarian 2, 11 zona dasarkan3),” kata Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Jatim Anung Suprayitno..  

Sebagian wilayah Tapal Kuda yang secara klimatologi iklimnya cukup kering, seperti Situbondo, mulai dari Kecamatan Bungatan, Kapongan, Kendit, Mangaran, Panarukan, Panji, dan Kota Situbondo, menurut Anung awal musim hujannya baru terjadi Januari 2027.

Jika dibandingkan terhadap normal klimatologi selama 30 tahun, menurut Anung dampak dari kemunculan El Nino di pertengahan tahun telah memundurkan awal musim hujan di Jatim kali ini.

“Dampak El Nino sangat kuat inilah yang kemudian men-trigger, memicu datangnya musim hujan menjadi mundur sebanyak 70 zona musim atau hampir 97 luas daratan di Jatim. Ada beberapa wilayah yang kemudian awal musim hujannya sama, hanya meliputi 3 zona musim. Dan ini ada yang unik juga, satu zona musim itu datangnya lebih awal,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Melalui Tasikmalaya International Job Fair 2026, KP2MI Hadirkan Peluang Kerja Luar Negeri
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
Musim Hujan Diprediksi Lebih Awal, Begini Persiapan DKI Hadapi Potensi Banjir
• 4 jam laludetik.com
thumb
Prabowo Terima 250 Anggota Kadin di Hambalang, Anindya Bakrie Laporkan PMDN Tembus Hampir Rp2.000 Triliun
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Enam Desa di Aceh Barat Terendam Banjir Akibat Luapan Sungai
• 14 jam laludetik.com
thumb
Tipe-X hingga Guyon Waton Cabut dari RANS Carnival! Begini Penjelasan Resmi Mereka
• 12 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.