EtIndonesia.com Perekonomian Tiongkok terus mengalami kelesuan. Kasus penunggakan upah dan aksi pekerja menuntut hak mereka semakin sering terjadi di berbagai daerah. Peristiwa ini melibatkan banyak sektor, termasuk konstruksi, manufaktur, pariwisata, dan pendidikan.
Masalah seperti pemilik perusahaan yang melarikan diri, penunggakan gaji, serta pembayaran biaya proyek yang tertunda semakin menonjol. Sementara itu, para pekerja dan kontraktor semakin kesulitan memperjuangkan hak mereka untuk mendapatkan upah dan pembayaran yang belum diterima.
Hanya sepanjang Oktober, berbagai daerah di Tiongkok telah melaporkan banyak kasus aksi menuntut pembayaran gaji, demonstrasi untuk memperjuangkan hak, bahkan pemogokan. Peristiwa-peristiwa tersebut melibatkan berbagai sektor industri dan wilayah. Berikut beberapa informasi mengenai aksi tuntutan hak yang dipublikasikan secara terbuka di internet.
Kemerosotan ekonomi Tiongkok semakin parah. Gelombang perusahaan yang menunggak pembayaran gaji hingga pemiliknya melarikan diri dilaporkan terjadi di berbagai industri. Akibatnya, aksi pekerja menuntut pembayaran upah dan memperjuangkan hak-hak mereka semakin sering terjadi. (Tangkapan layar video)Pada 28 Oktober, seorang pria melakukan aksi menuntut pembayaran haknya di kantor proyek Jalur Penghubung Han-Ma milik China Railway Third Bureau Group Co., Ltd.
“Proyek Handan-Matou milik China Railway Third Bureau masih berhutang uang dan tidak mau membayar. Mereka tidak bisa terus menunda pembayaran tanpa batas seperti ini,” kata seorang pria yang menuntut pembayaran gaji.
Pada 29 Oktober, seorang warganet mengunggah video yang memperlihatkan para pekerja di kawasan wisata Yaoshan, Kota Pingdingshan, Provinsi Henan, melakukan pemogokan karena gaji mereka belum dibayarkan. Akibatnya, sejumlah besar wisatawan tidak dapat memasuki kawasan wisata tersebut.
Pada 28 Oktober, sejumlah besar pekerja dari perusahaan Zhongjian Magnesia Brick Co., Ltd. di Dashiqiao, Kota Yingkou, Provinsi Liaoning, berkumpul di depan kantor pemerintah kota untuk menuntut pembayaran gaji yang tertunggak. Di lokasi terlihat banyak polisi dan pasukan polisi khusus yang dikerahkan untuk menjaga stabilitas.
Pada 26 Oktober, para guru dari sebuah sekolah negeri di Kota Zunhua, Tangshan, Provinsi Hebei, secara bersama-sama mendatangi kantor Dinas Pendidikan Kota Zunhua dan memblokir pintu masuk untuk menuntut pembayaran gaji yang belum dibayarkan.
Pada 20 Oktober, para karyawan Guangxi Baise Tianyang Nanhua Paper Industry Co., Ltd. berkumpul di depan gerbang pabrik untuk melakukan protes. Mereka serentak meneriakkan slogan, “Lindungi kepentingan kami! Kami menuntut uang kompensasi!”
Pada hari yang sama, di depan kantor China Unicom di Changsha, Provinsi Hunan, para karyawan yang mengenakan rompi merah bertuliskan “Unicom”, “Bayar Utang” dan “Tuntut Gaji” juga menggelar aksi protes untuk memperjuangkan hak mereka.
Seorang kontraktor asal Shandong, Cao Fang (nama samaran), sebelumnya mengerjakan proyek konstruksi kedap air di sebuah lokasi proyek milik China Railway Tenth Bureau di Provinsi Shandong.
Proyek tersebut telah selesai pada akhir 2023, tetapi hingga kini ia belum menerima sisa pembayaran sebesar 1 juta yuan (RMB).
“China Railway Tenth Bureau, kantor pusat Jinan, masih berutang 1 juta yuan kepada kami. Itu adalah uang hasil jerih payah rakyat biasa. Kami hanyalah rakyat kecil dan hanya memiliki uang itu. Sekarang kami bahkan tidak punya uang untuk membeli makanan. Orang tua di rumah menderita kanker, ayah sudah meninggal, tetapi mereka tetap tidak mau membayar,” ujar Cao Fang, kontraktor asal Shandong (nama samaran).
Cao Fang mengatakan bahwa pihak perusahaan terkait memaksanya mengikuti prosedur birokrasi dengan tujuan menghindari tanggung jawab. Ia menolak tuntutan tersebut.
Pihak perusahaan kemudian khawatir masalah ini akan meluas dan berdampak pada reputasi mereka. Mereka bahkan memperingatkannya agar tidak mengunggah informasi mengenai kasus tersebut di internet ataupun melakukan siaran langsung.
“Saya hanya menginginkan keadilan. Saya ingin suara kami didengar. Kami tidak mencuri dan tidak merampok. Kami datang untuk menuntut uang hasil kerja keras kami sendiri, dan tuntutan ini sepenuhnya masuk akal. Apa salahnya? Begitu banyak rakyat kecil yang bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup karena perlakuan mereka,” ujar Cao Fang.
Cao Fang menyatakan bahwa dirinya tidak takut mengalami tekanan maupun tindakan balasan, dan akan terus memperjuangkan haknya sampai tuntas.
“Sekarang kami tidak takut lagi. Terserah bagaimana kalian memperlakukan atau menekan saya, saya tidak takut. Semua kerja keras, semua kelelahan, dan segala kesulitan yang kami alami, semuanya kami tanggung sendiri,” jelasnya.
Reporter NTD kemudian mencoba menghubungi kantor pusat China Railway Tenth Bureau di Jinan melalui telepon, tetapi tidak ada yang menjawab.
Laporan dan wawancara oleh reporter NTD, Hong Ning dan Chen Jianming.





