Washington: Bank Dunia memperkirakan harga komoditas global akan meningkat 23 persen hingga akhir 2026, yang dipicu lonjakan harga energi akibat perang di Iran serta meningkatnya harga pangan karena konflik global dan fenomena cuaca El Nino.
Dalam laporan Commodity Markets Outlook yang dikutip TRT World, Minggu, 1 November 2026, Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia Ayhan Kose mengatakan pasar komoditas global tengah menghadapi sejumlah guncangan besar secara bersamaan.
"Biaya energi yang lebih tinggi dan gangguan perdagangan mendorong kenaikan harga berbagai komoditas. Kondisi ini mengancam memperburuk inflasi, kerawanan pangan, dan pertumbuhan ekonomi," kata Kose dalam pernyataan yang menyertai peluncuran laporan tersebut. Harga pangan tertekan konflik dan El Nino Bank Dunia memperkirakan harga pangan meningkat 10 persen pada 2026 dan kembali naik 7 persen pada tahun berikutnya.
Kenaikan tersebut dipengaruhi gangguan jalur pasokan biji-bijian akibat konflik, dampak fenomena El Nino ekstrem, serta tingginya harga bahan bakar dan pupuk.
El Nino merupakan fenomena iklim alami yang diperkirakan meningkatkan suhu di sebagian besar wilayah dunia pada tahun ini. Dampaknya juga berpotensi memperburuk kondisi akibat perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia.
Bagi produsen pangan, fenomena tersebut diperkirakan meningkatkan risiko banjir, kekeringan, dan tekanan panas di berbagai kawasan. Harga energi diperkirakan melonjak 32 persen Dalam laporan yang sama, Bank Dunia memproyeksikan harga energi meningkat 32 persen sepanjang 2026 sebelum mulai melandai pada 2027. Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa konflik di Iran dan Ukraina tidak mengalami eskalasi lebih lanjut.
Harga energi dan pupuk global melonjak sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada akhir Februari. Konflik tersebut memicu kekerasan di Timur Tengah.
Iran merespons dengan melancarkan serangan terhadap sekutu-sekutu AS di kawasan serta secara efektif melumpuhkan sebagian besar aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan rute penting bagi pasokan minyak, gas alam, dan pupuk dunia.
Bank Dunia memperingatkan bahwa fenomena El Nino yang lebih kuat dari perkiraan, peningkatan serangan terhadap pengiriman biji-bijian di Laut Hitam dalam perang Rusia-Ukraina, serta lonjakan harga energi akibat perang Iran dapat memicu krisis pangan.
Dalam skenario terburuk ketika berbagai risiko tersebut terjadi secara bersamaan, harga minyak mentah Brent diperkirakan rata-rata mencapai USD105 per barel pada 2027. Sementara itu, harga komoditas pangan dapat 12 persen lebih tinggi dibandingkan proyeksi dasar dan melampaui tingkat harga pada 2022.
Sejak perang di Iran dimulai, Bank Dunia telah menyalurkan bantuan darurat senilai USD8,7 miliar untuk negara-negara rentan.
"Prioritas utama haruslah melindungi masyarakat termiskin dan mendukung negara-negara berpendapatan rendah yang telah berjuang menghadapi beban utang yang berat," kata Kose. Pasokan minyak global diperkirakan menyusut Bank Dunia juga memperkirakan pasokan minyak global turun 5,2 persen pada 2026. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar dalam lebih dari empat dekade di luar periode pandemi, akibat dampak perang di Timur Tengah serta konflik Rusia-Ukraina.
Laporan tersebut mencatat proyeksi harga minyak global sebenarnya dapat lebih tinggi apabila konsumsi minyak tidak diperkirakan turun 2,5 persen tahun ini.
Penurunan konsumsi tersebut menjadi yang terbesar ketiga dalam sejarah, setelah penurunan pada masa pandemi Covid-19 dan krisis minyak 1980.
Secara keseluruhan, proyeksi harga pangan, energi, dan komoditas global dalam laporan terbaru Bank Dunia jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan lembaga tersebut pada April lalu.
Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Langkah Antisipasi Dampak El Nino dan La Nina




