Tidak ada alasan bagi Persebaya untuk tidak meraih tiga angka dalam pertandingan melawan Persijap Jepara, di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jumat (30/10/2026). Selain berstatus tuan rumah di pekan ke delapan Super League 2026-27, mereka menghadapi juru kunci klasemen sementara.
Dari tujuh pertandingan sebelumnya, Persijap tak pernah menang dan hanya merndulang satu kali hasil seri. Sisanya, mereka babak belur dipermak lawan. Seharusnyanya Persebaya menambah torehan luka pada lawan.
Dari aspek kualitas skuad, Persebaya jelas di atas Persijap. Jika mengacu Tranfermarkt, skuad Persebaya di pasaran lebih mahal dibandingkan Persijap: Rp107 miliar berbanding Rp44,93 miliar.
Produktivitas gol Persebaya lebih bagus: 9 gol berbanding 3 gol dalam tujuh pertandingan. Aspek defensif Persebaya juga lebih kokoh: kebobolan hanya 6 gol berbanding 15 gol dalam tujuh laga.
Di atas lapangan, statistik menunjukkan betapa superiornya Persebaya malam itu. Tak hanya menguasai 74 persen aliran bola, Green Force melancarkan 20 tembakan ke gawang Persijap yang dikawal Sendri Johansah. Bandingkan dengan Persijap yang hanya melancarkan 9 tembakan ke gawang Persebaya, kendati kedua tim sama-sama mencatatkan masing-masing lima tembakan akurat.
Namun apalah daya. Persebaya nyaris menelan kekalahan kedua musim ini dan kekalahan pertama di kandang sendiri. Pertahanan Persebaya tampil mengecewakan dan beberapa kali melakukan kesalahan sendiri di hadapan 9.188 penonton.
Menit ke-30, penyerang Persijap Yaya Sogodogo nyaris membobol gawang Reza Arya, setelah berhasil mencuri bola dari Yuran Fernandes. Tinggal berhadapan dengan Reza, bola tembakan penyerang asal Pantai Gading itu melebar.
Setelah bermain imbang di babak pertama, Persijap unggul lebih dulu melalui Vasko Kalezic pada menit 55. Persebaya baru bisa membalas pada menit krusial 90+2 melalui skema bola mati. Bola dari sepak pojok yang dikirimkan Francisco Rivera disambar dengan kepala oleh Risto Mitrevski. Ini untuk kesekian kalinya Persebaya selamat dari kekalahan pada menit-menit jelang akhir pertandingan. Sesuatu yang menjadi tanda tanya tebal.
Persebaya ini benar-benar membingungkan. Kemenangan pada pekan sebelumnya atas tim kuat Madura United seharusnya menjadi motivasi untuk meraih kemenangan beruntun. Namun tak ada yang bisa menjelaskan kenapa Persebaya hanya bermain imbang melawan tim terlemah di klasemen sementara.
Oryza A. WirawanSemua penjelasan terdengar klise. “Namun, terkadang sepak bola memang berjalan seperti itu,” kata Bernardo Tavares, pelatih Persebaya. Entah berapa kali dia akan menggunakan kalimat ini untuk menjelaskan hasil buruk timnya selain permintaan maaf.
“Klub dari pemain ini sudah memenangi gelar piala presiden tahun ini. Season kemarin membuat 58 poin. Saat ini, tidak ada yang lebih frustrasi daripada kami (pelatih, manajemen, maupun pemain),” kata Tavares kepada Bonek-Bonita yang mengadang akses keluar rombongan kendaraan pelatih dan manajemen di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT).
Itu yang jadi pertanyaan. Bagaumana mungkin hanya dalam waktu singkat, Persebaya berubah menjadi lebih buruk. Rata-rata angka setiap pertandingan yang diraih Persebaya hingga pekan kedelapan hanya 1,63, Bandingkan dengan musim 2025-26 yang mencatatkan 1,71.
Pada musim lalu, Persebaya memang berada di peringkat ketujuh setelah delapan pertandingan. Namun saat itu Persebaya mengantongi empat kemenangan, dua hasil imbang, dan dua kekalahan, dengan mengoleki 14 angka. Saat ini Persebaya hanya mengoleksi 13 angka dengan jumlah pertandingan yang sama. Tidak ada peningkatan.
Tidak ada yang berharap Persebaya mengulangi siklus pecat pelatih di tengah musim. Namun Tavares harus bisa menjawab sekian pertanyaan di balik buruknya performa Persebaya. Dan sudah saatnya manajemen lebih tegas untuk mengakhiri kebingungan ini dengan kemenangan. [wir/but]




