Hujan deras mulai turun di sejumlah wilayah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Kondisi kabut asap kebakaran pun mulai mereda. Namun, hal itu tidak berarti dampak kesehatan akibat paparan asap kebakaran pada sebagian masyarakat otomatis pulih.
Asap yang sudah menghilang tidak serta merta menghilangkan dampak yang telah ditimbulkan. Paparan yang terjadi dalam intensitas besar di waktu yang tidak singkat sangat memungkinkan membuat sejumlah organ tubuh rusak, mulai dari saluran pernapasan, otak, dan organ lainnya.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi dan imunologi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) Sukamto Koesnoe mengatakan, kadar partikel PM2,5 yang terjadi saat puncak kebakaran telah melebihi batas aman yang ditetapkan WHO maksimal sebesar 15 mikrogram per meter kubik untuk rata-rata 24 jam. Sementara konsentrasi PM2,5 yang sempat dilaporkan di Palangka Raya sempat mencapai 1.195 mikrogram per meter kubik.
Paparan asap kebakaran dengan kandungan berbahaya tersebut tidak sekadar bisa merusak organ paru. Partikel tersebut berpotensi menyebabkan stres oksidatif dan peradangan sitokin yang dapat menyebar ke berbagai organ tubuh lainnya.
Asap kebakaran hutan dan lahan dapat pula merusak sistem pertahan tubuh. Dari studi laboratorium, ekstrak dari asap kayu dapat merusak sambungan antarsel epitel. Paparan yang terjadi terus menerus dapat mengurangi daya tahan tubuh sehingga kuman menjadi lebih mudah masuk ke dalam tubuh.
Selain itu, pada orang yang terpapar asap karhutla dalam jangka panjang menjadi lebih mudah mengalami asma dan penyakit alergi. Kelompok ini juga menjadi lebih rentan terhadap berbagai infeksi penyakit akibat sistem imun tubuh yang sudah rusak.
“Asap yang sudah hilang itu tidak berarti dampaknya selesai. Perubahan imunitas membuat orang tersebut jadi lebih rentan terhadap penyakit. Fungsi paru yang belum pulih juga membuat lebih rentan mengalami gangguan. Kematian dini pun bisa bertambah,” kata Sukamto dalam seminar daring yang diselenggarakan FKUI dan IMERI, Sabtu (31/10/2026).
Dengan tingginya risiko tersebut, ia mengatakan, pemberian vaksinasi bisa dipertimbanglan. Vaksin memang tidak bisa melindungi diri dari paparan asap. Akan tetapi, vaksin dapat melindungi dari paparan infeksi di saat pertahan tubuh sedang melemah.
Asap yang sudah hilang itu tidak berarti dampaknya selesai.
Vaksin influenza, vaksin pneumokokus, vaksin RSV, dan vaksin Covid-19 bisa dipertimbangkan untuk diberikan pada kelompok berisiko yang terpapar asap karhutla. Meski belum teruji klinis, vaksin telah terbukti dapat mencegah penyakit yang terkait dengan paparan asap.
Upaya surveilans kesehatan terkait pemantauan kesehatan masyarakat diharapkan bisa terus dilakukan sekalipun asap kebakaran sudah mereda. Surveilans dan pemantauan kesehatan amat penting, terutama terkait ISPA, asma, dan penyakit kardiovaskuler untuk melihat dampak jangka panjang dari paparan asap karhutla.
Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis neurologi subspesialis neurobehaviour, gangguan gerak, geriatri, dan degeneratif FKUI-RSCM, Pukovisa Prawiroharjo menyampaikan, paparan asap karhutla dapat berdampak pula pada kesehatan otak dan sistem saraf. Karbon monoksida dan gas hidrogen sianida yang terkandung dalam asap bersifat neurotoksik yang dapat merusak sistem saraf. Selain itu, partikel yang sangat halus dapat terbawa ke otak yang dapat memicu proses degeneratif yang berisiko menyebabkan penyusutan pada otak.
Pukovisa menjelaskan, partikel dapat masuk ke otak lewat dua jalur, yani lewat hidung dan menembus ke saraf penciuman maupun lewat jalur kardiopulmoner yang terbawa lewat darah. Berbagai riset pun telah mengungkapkan bahwa paparan PM2,5 jangka panjang menyebabkan gangguan pada kemampuan kognitif. Risiko demensia juga semakin tinggi.
“Gangguan fungsi kognitif ini tidak harus menunggu setelah beberapa tahun setelah paparan, tetapi bisa terjadi segera sekitar seminggu atau satu bulan setelah paparan. Gangguan perkembangan saraf ini juga bisa terjadi pada anak-anak,” ujarnya.
Riset terhadap dampak paparan asap kebakaran hutan dan lahan di Indonesia masih sangat minim. Namun, riset yang dilakukan di banyak negara telah menunjukkan paparan asap karhutla berdampak pada kemampuan pemelajaran anak sekolah.
Studi di Amerika Serikat dan Brasil telah mengaitkan paparan asap kebakaran hutan dan lahan dengan penurunan nilai ujian dari anak sekolah. Selama kebakaran, anak-anak sekolah terpaksa belajar dari jarak jauh. Hal ini turut membuat terjadinya penurunan motivasi belajar serta penurunan interaksi antara murid dan guru.
Paparan pada asap kebakaran hutan dan lahan yang mengandung partikel PM2,5 yang tinggi bisa memicu stres oksidatif, peradangan, cedera pada epitel saluran pernapasan.
Dampak jangka panjang dari paparan asap kebakaran hutan dan lahan disampaikan pula oleh dokter spesialis paru dan pernapasan konsultan paru kerja dan lingkungan FKUI-RSUP Persahabatan, Feni Fitriani. Paparan pada asap kebakaran hutan dan lahan yang mengandung partikel PM2,5 yang tinggi bisa memicu stres oksidatif, peradangan, cedera pada epitel saluran pernapasan.
Dalam jangka panjang, berbagai risiko yang bisa muncul, antara lain hiperresponsivitas bronkus, perubahan struktur saluran pernapasan, penurunan fungsi paru, asma persisten, asma baru, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan fibrosis paru. Senyawa karsinogenik dalam asap juga berisiko menyebabkan terjadinya kanker.
“Partikel pada asap karhutla ini sangat halus sehingga memang diharapkan menggunakan masker N95 atau KN95. Ini adalah model masker minimal yang dapat dipilih masyarakat saat kondisi kebakaran hutan dan lahan,” kata Feni.
Dokter spesialis anak konsultan respirologi anak FKUI-RSCM, Nastiti Kaswandani menyebutkan, dampak jangka panjang dari paparan asap karhutla pada anak bisa berpengaruh pada tumbuh kembang anak di masa depan. Anak merupakan kelompok rentan dari paparan asap karhutla.
Secara akut, paparan asap karhutla dapat menyebabkan gangguan pernapasan seperti ISPA, serangan asma, iritasi mata, hingga penurunan napsu makan. Partikel asap yang amat halus juga dapat masuk melalui saluran pernapasan hingga menyebabkan gangguan pada organ tubuh, termasuk paru.
Jika pada masa anak-anak sudah mengalami gangguan pada pertumbuhan paru, kondisi itu bisa terbawa seumur hidup. Paparan asap yang terjadi sejak dalam kandungan juga bisa berdampak pada pertumbuhan anak dengan efek yang bertahan 10-17 tahun kemudian.
Bukti lain menunjukkan adanya potensi gangguan pencapaian kognitif pada anak yang terpapar asap karhutla, termasuk penurunan IQ serta gangguan perilaku dan memori. Untuk itu, monitoring jangka panjang dibutuhkan pada anak yang terpapar asap karhutla.
“Ketika asap sudah mereka, kita masih punya PR (pekerjaan rumah) untuk memonitoring secara ketat jangka panjang terhadap anak yang terdampak karhutla. Kita harus melakukan sesuai untuk menjaga supaya generasi kita merupakan generasi yang berkualitas,” tutur Nastiti.





