REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR, – Akademisi sekaligus penulis asal Sulawesi Selatan, Anis Kurniawan, mengingatkan generasi muda agar tidak tergantung pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ia menilai ketergantungan tersebut berpotensi menggerus kejernihan berpikir, kreativitas, dan otentisitas karya tulis siswa.
Peringatan ini disampaikan Anis berdasarkan pengalamannya sebagai juri lomba penulisan novel dan cerita pendek tingkat siswa yang diikuti 40 peserta. "Dari pengamatan selama proses penjurian, ada indikasi kuat penggunaan AI pada sekitar 90 persen naskah," kata Anis di Makassar, Minggu.
Saat menjadi pemateri dalam Seminar Literasi bertajuk "Menjaga Jiwa dalam Aksara", ia menyebutkan penggunaan AI secara berlebihan telah memengaruhi dua sektor penting, yakni jurnalistik dan pendidikan. Di dunia jurnalistik, teknologi tersebut mendorong produksi konten secara massal demi mengejar kecepatan dan monetisasi.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Sementara di lingkungan pendidikan, kemudahan AI membuat siswa semakin bergantung pada jawaban instan. Tradisi membaca, diskusi kritis, dan proses berpikir mandiri pun berisiko semakin melemah. Kegiatan tersebut diikuti 108 guru dan 370 siswa SMA se-Kota Makassar.
Naskah Kehilangan Karakter dan Keunikan
Dalam pemaparannya, Anis membedah perubahan besar ekosistem kepenulisan sejak hadirnya berbagai teknologi AI seperti ChatGPT dan Claude yang kini mempermudah produksi teks, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan terhadap kualitas dan kedalaman karya. Kondisi tersebut terlihat dari kecenderungan naskah yang memiliki pola seragam, kalimat normatif, serta pesan moral yang disampaikan secara kaku.
Fenomena ini menjadi peringatan bahwa kemudahan teknologi dapat menghilangkan karakter dan keunikan gagasan apabila penulis menyerahkan seluruh proses kreatif kepada mesin. "Kita akan kehilangan otentitas, kita kehilangan kejernihan," tegas Anis.
Pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi Klikhijau.com tersebut menjelaskan bahwa karya sastra membutuhkan waktu, kesabaran, dan pergulatan pemikiran untuk menemukan kedalaman maknanya. Ketika proses tersebut dipangkas demi menghasilkan tulisan secara instan, karya yang dihasilkan berisiko hanya menjadi rangkaian kata tanpa pengalaman, substansi, dan kedalaman emosional.
Algoritma Kunci Pembaca dalam Lingkaran Selera
Anis juga menyoroti bagaimana algoritma platform digital dapat mengunci pembaca dalam lingkaran selera yang sama melalui mekanisme collaborative filtering dan content-based filtering. Akibatnya, pembaca cenderung terus disuguhi karya serupa berdasarkan riwayat bacaan sebelumnya, sehingga kesempatan mengenal karya yang lebih kompleks dan menantang pemikiran menjadi terbatas.
Menurut dia, kondisi tersebut semakin memperkuat pentingnya peran guru, editor, kritikus sastra, dan komunitas literasi dalam membangun ekosistem bacaan berkualitas. Penulis semestinya tidak hanya mengikuti selera pasar, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan baru yang memperluas perspektif pembaca.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, ia menawarkan empat langkah penting bagi generasi muda, yakni mempertahankan kebiasaan membaca buku cetak, membangun tradisi menulis secara organik, menggunakan AI sebatas alat bantu dan bukan pengganti kreativitas, serta terus menjaga ruang dialog dan diskusi kritis.
Anis mendorong guru Bahasa Indonesia agar berperan sebagai penggerak ekosistem literasi di sekolah dengan memperkenalkan karya sastra bermutu, termasuk karya-karya yang menantang pemikiran seperti novel "Cantik Itu Luka" karya Eka Kurniawan. "Guru-guru Bahasa Indonesia harus menjadi agensi untuk ekosistem bacaan berkualitas. Baca yang menantang, tulis yang bermakna. Pilih karya yang memperluas wawasan. Gunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti kreasi. Terus rawat tradisi, dialog, dan kualitas sastra. Jaga proses, jaga pikiran," ujarnya.