Yerusalem, VIVA - Menjegal otoritas Benjamin Netanyahu terus dilakukan kelompok oposisi Israel berupaya mengambil alih kendali Knesset (parlemen Israel) dengan mengganti ketua parlemen dan mendorong pengesahan undang-undang yang menyasar Pemimpin menurut laporan media setempat, Minggu (1/11). Terbaru kelompok oposisi juga berupaya mengesahkan rancangan undang-undang yang melarang seseorang yang sedang menghadapi dakwaan pidana membentuk pemerintahan, bahkan sebelum ada putusan bersalah.
Kasus yang dihadapi Netanyahu (76) di pengadilan cukup banyak. Netanyahu sedang menjalani persidangan atas sejumlah tuduhan korupsi, termasuk penyuapan, penipuan, dan penyalahgunaan kepercayaan. Jika terbukti bersalah, dia dapat menghadapi hukuman penjara.
Penggantian ketua Knesset dapat menjadi langkah awal penting untuk menggeser keseimbangan kekuatan politik, meskipun perundingan pembentukan pemerintahan masih berlangsung.
Namun, pelaksanaan rencana tersebut mengharuskan para pemimpin oposisi menyepakati satu calon dan mengamankan suara yang cukup untuk memilihnya. Meski menerapkan kesepakatan berbagi kekuasaan dengan bergantian menjabat sebagai perdana menteri, Eisenkot berulang kali menyatakan tidak akan bergabung dengan pemerintahan yang dipimpin Netanyahu.
Pemerintahan Netanyahu memimpin koalisi partai-partai sayap kanan sejak akhir 2022 disebut sebagai pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel.
Sejak 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait perang di Jalur Gaza.
Hasil sementara pemilihan parlemen pada Selasa menunjukkan blok Netanyahu memperoleh 53 kursi di Knesset yang beranggotakan 120 orang. Sementara itu, oposisi meraih 48 kursi dan partai-partai Arab memperoleh 19 kursi.
Hingga kini, tidak satu pun blok berhasil mengamankan sedikitnya 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.
Situs berita Walla, dengan mengutip sejumlah sumber yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa para pemimpin oposisi berencana menggelar pertemuan empat pihak di kediaman pemimpin oposisi Yair Lapid, yang juga memimpin Partai Yesh Atid.
Selain Lapid, pertemuan tersebut akan dihadiri pemimpin Partai Yashar Gadi Eisenkot, Avigdor Lieberman dari Partai Yisrael Beiteinu, serta Yair Golan dari Partai Demokrat.
Menurut Walla, pertemuan itu bertujuan menyusun rencana bersama untuk mengubah hasil pemilu menjadi kekuatan politik di dalam Knesset.





