November Baru Mulai, RI Langsung Diguncang 10 Kabar Panas Pekan ini!

cnbcindonesia.com
5 jam lalu
Cover Berita
  • Pasar keuangan Indonesia jatuh pekan lalu, saham dan rupiah anjlok dalam sepekan
  • Wall Street babak belur akhir pekan lalu, Intel anjlok 29% sehari
  • Data inflasi dan pertumbuhan ekonomi, PMI hingga pemilu jeda Amerika Serikat menjadi penggerak pasar keuangan pekan ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia anjlok pada pekan lalu. Baik bursa saham ataupun rupiah jatuh dalam sepekan.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada hari ini dan sepanjang pekan ke depan. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan Indonesia bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Pasar saham Indonesia bahkan babak belur dengan anjlok 7,03% pada pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,80% atau 41,01 poin ke 5.057,05 pada Jumat (30/10/2026).

IHSG bahkan sempat terperosok ke 4.979,34 sebelum kembali menembus level psikologis 5.000.

Sebanyak 523 saham melemah, 187 saham menguat, dan 81 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp11,7 triliun dengan volume 37,6 miliar.

Dari 11 indeks sektoral, sembilan berakhir di zona merah. Sektor transportasi turun 3,13%, bahan baku melemah 2,84%, dan infrastruktur

Sepanjang Oktober, IHSG anjlok16,70%. Artinya, IHSG sudah mendekam di zona merah dalam tujuh dari 10 bulan di 2026.

Tekanan jual asing menjadi pemicu utama. Investor asing mencatatkan net sell jumbo Rp 3,06 triliun pada pekan lalu seiring ketidakpastian global, drama MSCI hingga jatuhnya nilai tukar.

Baca: Hancur! Market Cap 10 Saham Jumbo RI Menguap Rp3.147 T, Terburuk BREN

 

Saham dengan penurunan terbesar pada pekan lalu adalah PT VKTR Multi Mobilitas Tbk (VKTR) yang ambruk 30% disusul dengan

PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) yang jatuh 29,94% dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang merosot 29,55%.

Di tengah ambruknya pasar, sejumlah saham justru mencetak lonjakan harga. PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT) memimpin daftar top gainers sepekan dengan kenaikan 83,33% disusul dengan

PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) yang melesat 34,75% dan PT Apollo Global Interactive Tbk BOGA yang terbang 27,78%.

Baca: OJK Denda Sinar Mas Tunggal Rp1,5 Triliun, 9 Sekuritas Terkait DSSA

Dari pasar mata uang, pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (30/10/2026), rupiah ditutup di level Rp18.120/US$, menguat 0,03% dibandingkan penutupan Kamis (29/10/2026) di posisi Rp18.125/US$.
Penguatan ini sekaligus memperpanjang tren positif rupiah menjadi dua hari perdagangan berturut-turut.

Namun, dalam sepekan lalu, rupiah melemah 0,44%. Artinya rupiah sudah ambruk selama empat pekan beruntun.

Rupiah bahkan sempat ditutup melemah 0,17% ke posisi Rp18.175/US$ pada Rabu (28/10/2026). Posisi tersebut menjadi rekor baru penutupan terlemah rupiah sepanjang masa, melewati rekor sebelumnya di Rp18.170/US$ pada 8 Juni 2026.


Sepanjang Oktober 2026, rupiah juga melemah 1,4%. Dengan demikian, sepanjang tahun ini, mata uang Garuda hanya menguat dalam dua bulan saja yakni pada Februari dan Agustus.

Dari pasar Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil SBN tenor 10 tahun ditutup di posisi 7,643% pada Jumat. Posisi ini jauh lebih tinggi dibandingkan Jumat pekan sebelumnya (7,46%).

Imbal hasil bahkan sempat menyentuh 7,7% pada Rabu pekan lalu, posisi tertingginya sejak pandemi Covid-19.

Imbal hasil yang menanjak menandai harga SBN yang tengah jatuh karena banyak dijual investor.

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street ambruk pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (30/10/2026).

Indeks Nasdaq Composite anjlok sementara Dow Jones Industrial Average mencatat penurunan yang lebih terbatas. Investor mulai keluar dari saham-saham utama yang terkait dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan beralih ke sektor pasar yang lebih defensif.

Nasdaq yang didominasi saham teknologi merosot 2,86% dan ditutup di level 25.437,00. Penurunan ini menjadi kinerja harian terburuk indeks tersebut sejak Juni. Nasdaq juga berada sekitar 8% di bawah level tertinggi terbarunya.

Dow Jones melemah 572,25 poin atau 1,09% ke 51.770,31. Sementara itu, S&P 500 turun 1,82% ke 7.580,07.

Baca: OJK Denda Tigonis Capital Cs Rp 100 M Lebih dalam Kasus IPO CUAN

Tekanan jual semakin kuat pada perdagangan sore ketika investor merealisasikan keuntungan menjelang akhir bulan dan pemilihan sela (midterm elections) AS yang diperkirakan berlangsung sengit pekan ini.

Saham Amazon turun lebih dari 1% setelah perusahaan melaporkan laba dan pendapatan kuartal III yang berada di bawah ekspektasi Wall Street. Raksasa e-commerce dan komputasi awan itu juga mencatat arus kas bebas negatif sebesar US$42,4 miliar serta mempertahankan proyeksi belanja modal 2026 sebesar US$220 miliar.

Intel mengalami penurunan lebih tajam, anjlok hampir 29% setelah memberikan proyeksi kinerja kuartal berjalan yang lemah. Perusahaan menyoroti perlambatan pasar PC. Pendapatan divisi client computing dan komputasi AI fisik turun 5% secara tahunan menjadi US$8,1 miliar.

Saham Sandisk juga merosot 13%, meskipun hasil keuangan kuartal pertama fiskalnya melampaui perkiraan analis. Perusahaan penyimpanan data tersebut turut mengumumkan pemecahan saham (stock split) dengan rasio delapan banding satu.

Tekanan juga melanda produsen cip lainnya. Advanced Micro Devices (AMD) turun hampir 11%, sedangkan Nvidia dan Broadcom masing-masing melemah 4% dan 5%.

Baca: Saham Intel Ambruk 29%, Terburuk Sejak 1974-'Duit' Trump Rp217 T Ludes

Investor beralih ke sektor defensif

Di tengah aksi jual saham teknologi, investor mengalihkan dana ke sektor yang dinilai lebih defensif, seperti barang kebutuhan pokok dan kesehatan.

Saham Walmart dan Coca-Cola masing-masing naik lebih dari 1%, sehingga membantu membatasi pelemahan Dow Jones. Saham anggota Dow lainnya, Merck dan Amgen, juga mencatat kenaikan.

Keith Buchanan dari Globalt mengatakan perubahan sentimen pasar mulai terlihat, meskipun keberlanjutan rotasi investasi tersebut masih belum dapat dipastikan.

Menurut dia, investor kini semakin kritis dalam menilai prospek bisnis dan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan nyata dari investasi teknologi.

Baca: OJK Denda Pelaku Saham SHID, IMPC - KIOS Hingga Miliaran Rupiah

"Tahun lalu adalah tentang harapan. Tahun ini, pertanyaannya adalah: pada akhirnya, bagaimana semua ini bekerja dalam dunia nyata, seperti bagaimana membiayainya dan siapa yang mendapatkan keuntungan ekonominya," kata Buchanan, dikutp dari CNBC International.

Ia menambahkan, risiko terhadap ekonomi riil mulai menjadi perhatian pasar.

Sentimen negatif juga diperkuat laporan Financial Times yang mengutip sejumlah sumber bahwa Blackstone memberi tahu investor bahwa Anthropic mungkin tidak memperoleh peringkat layak investasi setelah perusahaan tersebut melantai di bursa.

Dokumen pendaftaran penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) Anthropic sempat mendorong saham terkait AI pada awal pekan. Namun, tekanan kembali muncul ketika investor mencerna laporan keuangan perusahaan teknologi.

Sehari sebelumnya, saham Alphabet mencatat penurunan harian terburuk dalam sejarahnya setelah perusahaan induk Google itu melaporkan laba dan pendapatan kuartal III di bawah ekspektasi, serta arus kas bebas negatif sebesar US$9,07 miliar. Pelemahan Alphabet turut menyeret Nasdaq turun lebih dari 1% pada perdagangan reguler Kamis.

Baca: Google Berdarah: Rp 9.000 T Menguap, AI Mulai Goyang Tahta Sang Raja

Belanja AI dan utang mulai menghantui pasar

Perdagangan Jumat menjadi hari terakhir pasar saham AS pada Oktober. Sepanjang bulan tersebut, investasi AI menghadapi tekanan seiring meningkatnya perhatian investor terhadap besarnya belanja infrastruktur yang dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi tersebut.

Alphabet dan Microsoft, dua perusahaan hyperscaler yang mengoperasikan infrastruktur komputasi awan berskala besar, tidak menaikkan proyeksi belanja modal mereka.

Di sisi lain, perusahaan neocloud-penyedia komputasi awan yang menopang infrastruktur pusat data AI-menghadapi sorotan terkait tingkat utang mereka.

CoreWeave menjadi salah satu contoh utama kekhawatiran tersebut. Imbal hasil obligasinya melonjak, sementara sahamnya anjlok 37% sepanjang Oktober. Saham Nebius juga merosot hampir 35% pada periode yang sama.

Tekanan turut terlihat pada produk investasi yang berkaitan dengan memori AI dan teknologi. Roundhill Memory ETF (DRAM), yang mencakup saham Micron dan Seagate Technology, turun 20% sepanjang Oktober. Sementara itu, iShares A.I. Innovation and Tech Active ETF (BAI) melemah hampir 17%.

Pada akhir Oktober, Nasdaq mencatat penurunan bulanan sebesar 5,3%, menjadi yang terdalam sejak Maret 2025. S&P 500 turun 0,9%, sedangkan Dow Jones justru menguat 1,7%.

Pergerakan tersebut memperlihatkan perubahan selera risiko investor: saham teknologi dan AI yang sebelumnya menjadi motor pasar kini menghadapi tekanan, sementara sektor yang lebih defensif relatif mampu bertahan.

Pasar keuangan Indonesia dan global menghadapi pekan krusial pada awal November 2026. Sejumlah agenda ekonomi dan politik berpotensi menggerakkan rupiah, IHSG, imbal hasil obligasi, hingga arus modal asing.

Dari dalam negeri, investor menanti data inflasi, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, neraca perdagangan, serta cadangan devisa. Sementara dari AS, pemilu sela, data tenaga kerja, dan aktivitas manufaktur menjadi sorotan utama.

Berikut tujuh sentimen pasar yang wajib dicermati pekan depan.

1. PMI Manufaktur RI

Pada hari ini, Senin (2/11/2026), S&P Global akan merilis data PMI Manufaktur Indonesia untuk Oktober 2026.

Sebagai catatan, aktivitas manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi pada September 2026 setelah mengalami kontraksi di Agustus.

Data Purchasing Managers' Index (PMI) menunjukkan PMI Indonesia berada di 52,48 di September 2026 atau mengalami ekspansi,


Permintaan terhadap barang Indonesia meningkat. Pesanan baru tumbuh pada laju tercepat sejak Februari, didorong oleh peningkatan permintaan dan dimulainya proyek-proyek baru.

Pesanan ekspor juga meningkat untuk bulan kedua berturut-turut, sekaligus mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.

2. Inflasi Oktober 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis inflasi Oktober 2026 pada hari ini Senin (2/11/2026). Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi/lembaga memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik atau mengalami inflasi sebesar 0,24% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Oktober 2026.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diperkirakan mencapai 3,25%.

Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi September sebesar 0,30% mtm dan 3,28% yoy. Namun, kenaikan harga beras dan minyak goreng berpotensi menahan perlambatan inflasi.

Kepala ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menjelaskan inflasi akan melandai seiring meredanya inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food), inflasi inti yang tetap terkendali, serta penurunan tipis harga yang diatur pemerintah (administered prices).

Namun, sejumlah harga pangan tetap menunjukkan kenaikan, terutama beras, minyak goreng, dan gula pasir.

Kepala ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan kelompok harga yang diatur pemerintah diproyeksikan mencatat deflasi didorong oleh tarif angkutan udara serta tidak berubahnya harga BBM nonsubsidi.

"Inflasi Oktober terutama didorong oleh kenaikan harga sejumlah bahan pangan, seperti gula, minyak goreng, daging sapi, gandum, kedelai, cabai merah, dan bawang merah," ujarnya kepada CNBC Indonesia.

3. Neraca Perdagangan September 2026

BPS juga akan merilis data neraca perdagangan untuk September 2026. Publik menunggu apakah neraca perdagangan masih akan melanjutkan surplus di tengah tingginya nilai impor minyak.

Sebagai catatan, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$ 3,55 miliar per Agustus 2026. Surplus ini ditopang oleh kinerja ekspor Indonesia yang mencapai US$ 26,61 miliar melampaui nilai impor US$ 23,06 miliar per Agustus 2026.

4. Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2026

BPS dijadwalkan mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 pada Kamis (5/11/2026).

Data ini sangat penting untuk menjadi tolak ukur ketahanan ekonomi RI di tengah masih panasnya perang serta minimnya katalis pertumbuhan dari dalam negeri.

Sebagai catatan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh sebesar 5,29 % secara tahunan (yoy). Pertumbuhan ini tercatat melambat jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya 5,61% yoy.

Sementara secara kuartalan, ekonomi tumbuh 3,73% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq).

Menteri Keuangan Suahasil Nazara pada 25 September lalu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai minimal 5,5% pada semester II-2026, termasuk kuartal III-2026. Target ini mencerminkan optimisme pemerintah terhadap momentum pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun ini.

5. Cadangan Devisa per Oktober 2026

Bank Indonesia (BI) pada Jumat (6/11/2026) akan mengumumkan, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2026.

Data ini akan mencerminkan berapa besar cadev yang digunakan BI untuk intervensi nilai tukar di tengah amblesnya rupiah pada Oktober 2026.

Sebagai catatan, posisi cadangan devisa per September 2026 mencapai US$ 146,3 miliar. Jumlah ini turun tipis sekitar US$200 juta dibanding dengan posisi pada akhir Agustus 2026.

Posisi cadangan devisa pada akhir September 2026 setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

6. Aturan Baru BEI: Saham HSC Keluar dari IHSG

BEI akan mengeluarkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG mulai Senin (2/11/2026).

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan kebijakan ini tidak serta-merta memicu penurunan atau lonjakan drastis indeks. Bobot saham yang dikeluarkan akan didistribusikan kepada konstituen IHSG lainnya.

Baca: Besok Ada Pengumuman Penting, Sepertinya Ada Kabar Baik

Selain pemberlakuan pengeluaran saham-saham HSC, BEI juga akan mengosongkan daftar saham short selling pada November 2026, di tengah kondisi pasar yang mengalami volatilitas dan tekanan jual tinggi.

Kebijakan tersebut diambil setelah BEI menilai fluktuasi pasar saat ini tidak didukung analisis fundamental yang baik.

BEI menetapkan 5 saham yang dikeluarkan dari daftar efek short sell, antara lain, PT. Astra International Tbk (ASII), PT. Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT. Barito Pacific Tbk (BRPT), PT. Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Selain itu, BEI juga mencatat sebanyak 11 saham dikeluarkan dari daftar efek margin, yaitu PT. Makmur Berkah Amanda Tbk (AMAN), PT. Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk (BSML), PT. Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT. Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR), PT. Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Selanjutnya, ada PT. Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), PT. Esta Indonesia Tbk (NEST), PT. Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT), PT. Putra Mandiri Jembar Tbk (PMJS), PT. Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE), dan PT. Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM).

7. Data Manufaktur China


China akan merilis data Indeks PMI manufaktur RatingDog untuk Oktober 2026.

Sebagai catatan, aktivitas manufaktur versi RatingDog menunjukkan indeks naik menjadi 52,1 di September 2026 dari 51,5 pada Agustus, melampaui ekspektasi pasar sebesar 51,6. Capaian ini menandai ekspansi terkuat sejak April.

Baca: Merawat 'Emas Cokelat' di Tanah Sulawesi, Ubah Hidup Lewat Layar HP

Penguatan ditopang meningkatnya permintaan dari pasar domestik dan luar negeri. Penjualan ekspor tumbuh pada laju tercepat dalam tujuh bulan, sementara produksi mencatat pertumbuhan terkuat sejak April seiring tingginya permintaan pelanggan dan peningkatan kapasitas produksi.

PMI Manufaktur Umum China versi RatingDog, yang disusun S&P Global, didasarkan pada survei bulanan terhadap sekitar 650 perusahaan manufaktur dari berbagai sektor dan skala usaha. Survei ini menggunakan pembobotan berdasarkan kontribusi masing-masing perusahaan terhadap produk domestik bruto (PDB).

Pada Sabtu (1/11/2026), National Bureau of Statistics (NBS) China sudah merilis data aktivitas manufaktur untuk Oktober 2026.

Aktivitas manufaktur China kembali masuk zona kontraksi pada Oktober 2026 dengan indeks ada di 49,3 dari 50,1 pada September, sekaligus menjadi level terendah sejak Juli. Angka ini juga di bawah ekspektasi pasar sebesar 50,0.

Pelemahan terjadi seiring meredanya dorongan belanja selama libur Golden Week dan lesunya permintaan domestik. Permintaan eksternal juga melemah, meski perdagangan terkait kecerdasan buatan (AI) masih relatif tangguh.

Optimisme bisnis turut melemah. Indeks kepercayaan usaha turun ke 53,4, level terendah dalam tujuh bulan.

Data ini mengindikasikan pemulihan sektor manufaktur China masih rapuh, dengan permintaan domestik dan eksternal belum cukup kuat untuk menopang ekspansi.

8. Pemilu Sela AS: Ujian Berat bagi Trump

Pemilu sela AS akan digelar pada Selasa (3/11/2026) waktu setempat. Pemilu akan menentukan penguasaan Kongres dan memengaruhi kemampuan Presiden Donald Trump menjalankan agenda pemerintahannya.

Seluruh 435 kursi DPR AS dan 35 dari 100 kursi Senat akan diperebutkan. Secara historis, partai yang menguasai Gedung Putih cenderung kehilangan kursi DPR dalam pemilu sela.

Survei Reuters/Ipsos yang rampung pada 26 Oktober menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Trump sebesar 32%. Demokrat juga unggul dalam preferensi pemilih terdaftar, dengan dukungan 47% dibandingkan 36% untuk Republik.

Baca: Perang Crazy Rich Pemilu AS! Elon Musk-Soros Bakar Duit Demi Politik

Hasil pemilu berpotensi memengaruhi arah kebijakan fiskal dan politik AS, sekaligus menjadi perhatian investor global.

9. Data Tenaga Kerja AS

AS akan mengumumkan sejumlah data tenaga kerja pada pekan ini.

Pada Selasa (3/11/2026), data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) untuk September 2026 akan dirilis. Data ini akan menjadi indikator permintaan tenaga kerja melalui jumlah lowongan yang tersedia.

Selanjutnya, laporan ADP untuk September 2026 akan dirilis pada Rabu (4/11/2026).
Data ini akan memberikan gambaran perubahan tenaga kerja sektor swasta, meski tidak dapat dijadikan prediksi langsung laporan tenaga kerja resmi pemerintah atau Nonfarm Payrolls (NFP) karena perbedaan metodologi.

Baca: 10 Perampokan Kripto Terbesar Sepanjang Sejarah, Binance Ikut Terseret

Puncak perhatian tertuju pada Jumat (6/11/2026), saat data NFP dan angka pengangguran Oktober 2026 akan dirilis.

Sebagai catatan, jumlah lowongan kerja di AS turun 256.000 menjadi 7,079 juta pada Agustus 2026, terendah dalam lima bulan. Angka ini di bawah posisi Juli sebesar 7,335 juta dan ekspektasi pasar 7,23 juta.

Ekonomi AS juga hanya menambah 29.000 tenaga kerja pada September 2026, jauh di bawah ekspektasi 90.000 dan turun tajam dari 133.000 pada Agustus.

Tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,2% pada September 2026 dari 4,1% pada Agustus, sedikit di atas ekspektasi pasar 4,1%.

Jumlah pengangguran bertambah 78.000 menjadi 7,11 juta orang. Namun, jumlah penduduk bekerja meningkat 406.000 menjadi 163,15 juta, sementara.

10. Data Manufaktur dan Jasa AS

AS akan mengumumkan data ISM Manufacturing Services Oktober 2026 pada hari ini, Senin (2/12/2026) dan data PMI Manufaktur Oktober 2026 pada Rabu (4/11/2026).

Sebagai catatan, PMI Jasa AS turun menjadi 54,9 di September 2026 dari 55,4 di Agustus, tetapi tetap berada di zona ekspansi selama 27 bulan berturut-turut. Aktivitas bisnis dan pesanan baru melambat, sedangkan tenaga kerja kembali tumbuh tipis.

Sementara itu, PMI Manufaktur AS turun tipis menjadi 54,5 pada September 2026 dari 54,6 pada Agustus, tetapi masih menunjukkan ekspansi yang kuat. Pesanan baru dan tenaga kerja meningkat, sementara produksi melambat

Berikut agenda ekonomi hari ini:

  • S&P Global akan mengumumkan data PMI Manufaktur RI  Oktober 2026
  • S&P Global akan mengumumkan data PMI Manufaktur ASEAN  Oktober 2026
  • China akan mengumumkan data RatingDog Manufacturing PMI untuk Oktober 2026
  • BPS akan mengumumkan data inflasi Oktober dan neraca perdagangan September 2026
  • Penandatanganan MoU BEI dengan Kementerian UMKM dan Surveyor Indonesia dilanjutkan dengan peluncuran Go Public for SME dan RISE to IPO talkshow di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan. 

a
Berikut agenda korporasi hari ini:

Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk
Tanggal cum Saham Bonus PT Prima Globalindo Logistik Tbk.

Berikut indikator ekonomi terbaru:

Next Page
Wall Street Berguguran, Saham AI Ditinggalkan Investor Jelang Pemilu AS
Pages
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
Next

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
126 UMKM Ikuti Pasar Rakyat di Porong Sidoarjo, Produk Warga Binaan Ikut Dipasarkan
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
KSP Resmikan Renovasi SDN di Yogya, Tinjau Pembelajaran Koding dan AI
• 1 jam laludetik.com
thumb
Revisi UU LLAJ, DPR Soroti Jaminan Keselamatan Transportasi
• 13 jam lalurctiplus.com
thumb
Perluas Akses Pasar, 50 UMKM Produk Lokal Siap Ekspansi
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Laba BFI Finance Naik 12,5%, Modal Kerja Tembus Rp3,7 Triliun
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.