Jakarta, VIVA - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kehilangan mayoritas dukungan koalisinya di parlemen setelah pemilihan legislatif yang digelar pada 27 Oktober. Namun, blok partai-partai Yahudi yang menentang Netanyahu juga gagal meraih mayoritas di parlemen Israel (Knesset) yang memiliki 120 kursi. Kondisi ini membuat Israel belum memiliki jalan yang jelas untuk membentuk pemerintahan baru.
Israel diperkirakan akan menghadapi beberapa pekan negosiasi politik yang alot. Berbagai kelompok politik kini mempertimbangkan sejumlah kemungkinan, termasuk membentuk pemerintahan persatuan nasional yang melibatkan kubu-kubu yang selama ini berseberangan atau pemerintahan minoritas yang bergantung pada dukungan partai lain.
Jika kesepakatan tidak tercapai, Israel berpeluang kembali menggelar pemilihan umum. Lantas seperti apa prosesnya? Kapan pemerintahan baru akan terbentuk dan siapa pemimpinnya? Berikut sejumlah hal yang perlu diketahui mengenai proses pembentukan pemerintahan baru Israel seperti dikutip dari laman Al Jazeerah, Senin (2/11/2026).
Koalisi pendukung Netanyahu memperoleh 53 kursi dengan rincian sebagai berikut:
- Likud: 27 kursi
- United Torah Judaism: 7 kursi
- Otzma Yehudit: 7 kursi
- Shas: 6 kursi
- Religious Zionism: 6 kursi
Sementara itu, blok partai-partai Yahudi yang menentang Netanyahu memperoleh 48 kursi, dengan rincian:
- Yashar: 21 kursi
- B'Yachad: 12 kursi
- The Democrats: 8 kursi
- Yisrael Beytenu: 7 kursi
Adapun partai-partai yang dipimpin warga Arab memperoleh total 19 kursi, terdiri atas:
- Joint List: 11 kursi
- Ra'am: 8 kursi
Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu pun blok politik yang berhasil mencapai batas minimal 61 kursi untuk menguasai mayoritas di Knesset.
Artinya, sejumlah partai harus mengubah haluan politik atau bekerja sama dengan partai dari blok lain agar dapat membentuk pemerintahan baru.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?Hasil pemilu Israel harus disahkan secara resmi dan diserahkan kepada Presiden Isaac Herzog paling lambat 4 November. Anggota Knesset yang baru terpilih dijadwalkan mengucapkan sumpah jabatan pada 10 November. Selanjutnya, Herzog harus menunjuk salah satu anggota Knesset yang baru terpilih untuk membentuk pemerintahan paling lambat 11 November.
Dalam menentukan pilihannya, Herzog diperkirakan akan mempertimbangkan masukan dari para pemimpin partai. Dia akan menunjuk kandidat yang dinilai memiliki peluang terbesar untuk membangun koalisi pemerintahan. Kandidat yang mendapat mandat dari Herzog memiliki waktu 28 hari untuk membentuk koalisi. Masa tersebut dapat diperpanjang hingga 14 hari.





