Warisan Budaya Tak Benda: Menelusuri Jejak Manuk Nom, Kuliner Keraton Yogyakarta Padukan Tape dan Emping

beritajatim.com
6 jam lalu
Cover Berita

YOGYAKARTA (beritajatim.com) – Kekayaan kuliner Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak hanya dikenal melalui gudeg, bakpia, atau geplak. Ada pula Manuk Nom, hidangan tradisional Keraton Yogyakarta yang menyimpan cerita panjang tentang kehidupan keluarga kerajaan sekaligus pertemuan budaya Jawa dan Belanda.

Manuk Nom merupakan puding tradisional berbahan dasar tape ketan hijau dan telur. Keunikan makanan ini terletak pada bentuk penyajiannya yang menyerupai burung kecil. Emping melinjo ditempatkan di kedua sisi puding sehingga terlihat seperti sepasang sayap yang sedang mengembang.

Di balik tampilannya yang sederhana, Manuk Nom memiliki nilai sejarah dan budaya yang menarik untuk ditelusuri. Kuliner ini berkembang di lingkungan Keraton Yogyakarta sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII hingga Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Penelitian Sri Wahyuning Septarina yang diterbitkan dalam jurnal Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts pada 2019 mengungkapkan bahwa Manuk Nom merupakan salah satu bentuk akulturasi kuliner Jawa dan Belanda pada masa pemerintahan kedua sultan tersebut.

Kajian berjudul Manuk Nom as a Java-Netherland Acculturation Form of the Government Culinary Sultan HB VII-VIII (1877-1939) itu menjelaskan bahwa perkembangan hidangan ini tidak dapat dilepaskan dari perubahan kehidupan sosial dan kebudayaan di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII (1877–1921), Yogyakarta mengalami masa peralihan menuju kehidupan modern. Pengaruh pendidikan modern, pemikiran Barat, serta kebudayaan Eropa mulai masuk dan berinteraksi dengan kehidupan masyarakat keraton.

Pertemuan dua kebudayaan tersebut turut memengaruhi perkembangan tradisi kuliner. Manuk Nom menjadi salah satu bukti bagaimana budaya lokal dan pengaruh asing dapat berpadu hingga menghasilkan hidangan dengan karakter tersendiri.

Pernah Menjadi Hidangan Favorit Para Sultan

Sejarah Manuk Nom juga berkaitan erat dengan kebiasaan makan keluarga kerajaan. Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII, Manuk Nom umumnya disajikan sebagai hidangan penutup atau dessert. Puding tradisional tersebut menjadi salah satu sajian yang melengkapi jamuan makan di lingkungan keraton.

Memasuki pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII (1921–1939), terdapat perubahan dalam tata cara penyajiannya. Manuk Nom mulai dihidangkan sebagai makanan pembuka sebelum menyantap hidangan utama.

Meski mengalami perubahan fungsi, kuliner ini tetap menjadi salah satu sajian khas yang dikenal di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.

Nama Manuk Nom sendiri memiliki arti yang cukup unik. Dalam bahasa Jawa, manuk berarti burung, sedangkan nom berarti muda. Nama tersebut merujuk pada bentuk penyajiannya yang dibuat menyerupai seekor burung muda.

Penampilan makanan ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Puding berwarna kehijauan ditata sedemikian rupa, kemudian dilengkapi emping melinjo pada bagian samping yang menyerupai sayap burung.

Perpaduan Tape Ketan dan Puding Telur

Keistimewaan Manuk Nom tidak hanya terlihat dari sejarah dan penampilannya, tetapi juga dari komposisi bahan yang digunakan.

Bahan utama makanan ini adalah tape ketan hijau yang dicampurkan dengan telur. Adonan tersebut kemudian dipadukan dengan susu atau santan, gula, vanili, dan sedikit garam.

Seluruh bahan dicampur hingga merata sebelum dimasukkan ke dalam wadah tahan panas untuk dikukus sampai matang.

Hasilnya berupa puding dengan tekstur lembut dan cita rasa manis yang berpadu dengan sedikit rasa asam khas fermentasi tape ketan.

Sajian tersebut kemudian dilengkapi emping melinjo. Kehadiran emping memberikan sensasi renyah dan gurih yang menjadi pembeda Manuk Nom dari hidangan puding lainnya.

Perpaduan rasa manis, asam, dan gurih tersebut memperlihatkan kreativitas masyarakat pada masa lalu dalam mengolah bahan pangan menjadi sajian istimewa.

Menariknya, jejak resep Manuk Nom juga ditemukan dalam literatur kuliner berbahasa Belanda berjudul De Kookgids voor Huisvrow yang terbit pada 1930. Catatan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa hidangan ini telah dikenal dalam tradisi kuliner pada masa kolonial.

Dari Meja Jamuan Keraton Menuju Masyarakat Luas

Pada masa lalu, Manuk Nom lebih banyak dikenal sebagai sajian keluarga kerajaan. Tidak banyak masyarakat yang dapat menikmati hidangan tersebut karena keberadaannya berkaitan dengan tradisi jamuan di lingkungan keraton.

Namun, perkembangan pariwisata dan kuliner Yogyakarta membuat makanan tradisional ini semakin dikenal masyarakat.

Manuk Nom mulai diperkenalkan melalui restoran yang menyajikan hidangan khas Keraton Yogyakarta. Upaya tersebut menjadi salah satu cara memperkenalkan kembali kekayaan kuliner masa lalu kepada generasi sekarang.

Kuliner ini juga pernah menarik perhatian publik ketika disajikan dalam rangkaian pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Gudono pada 2022.

Kehadirannya dalam acara tersebut menjadi salah satu momentum yang kembali memperkenalkan makanan tradisional keraton kepada masyarakat luas.

Lebih dari sekadar hidangan, Manuk Nom menyimpan cerita tentang perjalanan kebudayaan Yogyakarta. Kuliner ini memperlihatkan bagaimana tradisi lokal mampu beradaptasi dengan pengaruh budaya asing tanpa kehilangan identitasnya.

Di tengah berkembangnya makanan modern, keberadaan Manuk Nom menjadi pengingat bahwa kekayaan kuliner daerah juga merupakan bagian penting dari sejarah dan identitas budaya masyarakat.

Karena itu, pengenalan resep, dokumentasi sejarah, serta regenerasi pembuat makanan tradisional menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan warisan kuliner Yogyakarta. [aje]


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
USBR Dorong Lulusan Perguruan Tinggi Kuasai Teknologi AI
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
Ramalan Zodiak Minggu Ini: Hubungan, Karier, dan Keuangan di 2 - 8 November 2026
• 4 jam lalubeautynesia.id
thumb
Sistem CPNS RI Ternyata dari Zaman Belanda, Ini Ceritanya!
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
LPS Ingatkan Bahaya Belanja Impulsif, 42 Persen Konsumen Tergoda Promo
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Percepat Pembangunan Pascabencana, Realisasi Tambahan TKD Aceh Barat Capai 50,87 Persen
• 3 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.