EtIndonesia.com Pada Sabtu (31 Oktober), puluhan ribu orang turun ke jalan di berbagai wilayah Jerman dalam gelombang demonstrasi yang dipimpin oleh Gen Z. Gerakan yang dipelopori kaum muda ini menuntut perbaikan sistem pendidikan dan penurunan biaya hidup.
Menurut laporan berbagai media, gelombang demonstrasi di Jerman ini diprakarsai oleh kelompok advokasi bernama “Gen Z regelt” (Gen Z Mengambil Kendali). Aksi direncanakan berlangsung di 34 kota, termasuk Berlin, Frankfurt, dan München.
Pada 31 Oktober, demonstrasi bertepatan dengan perayaan Halloween. Aksi pada siang hari sebagian besar berlangsung damai. Namun, pada malam harinya, situasi mulai memanas setelah sebagian demonstran menolak membubarkan diri.
Pada 31 Oktober 2026, polisi anti huru-hara bersiaga di dekat kendaraan meriam air saat terjadi bentrokan dengan pengunjuk rasa sayap kiri dalam sebuah demonstrasi Gen Z di Hamburg, Jerman. (Alexander Koerner/Getty Images)Pada 31 Oktober 2026, para pengunjuk rasa sayap kiri terlibat bentrokan dengan polisi anti huru-hara dalam sebuah aksi unjuk rasa generasi Z di Hamburg, Jerman. (Alexander Koerner/Getty Images)
Di kota Hamburg, Jerman utara, sejumlah barikade dibakar.
Di Frankfurt, Jerman bagian barat, polisi diserang dengan lemparan benda-benda. Polisi kemudian menggunakan meriam air dan semprotan merica untuk berupaya membubarkan para demonstran.
Di Bonn, seorang polisi mengalami luka ringan saat terlibat bentrokan dengan sekelompok orang.
Sementara itu, demonstrasi di Leipzig berubah menjadi bentrokan yang disertai kekerasan. Polisi juga menggunakan semprotan merica untuk mengendalikan situasi.
Pada malam harinya, sebuah demonstrasi lain yang tidak diprakarsai oleh gerakan “Gen Z regelt” berlangsung di Berlin. Menurut keterangan polisi, petugas menjadi sasaran lemparan telur dan botol.
Karena khawatir akan terjadi kerusuhan, sejumlah toko di berbagai kota Jerman menutup jendela mereka dengan papan kayu sebelum demonstrasi berlangsung dan memilih tutup lebih awal. Langkah ini juga dilakukan oleh toko-toko di sepanjang Kurfürstendamm, salah satu kawasan perbelanjaan mewah di Berlin.
Data kepolisian hingga sore hari pada 31 Oktober menunjukkan bahwa jumlah peserta demonstrasi lebih rendah daripada perkiraan awal penyelenggara yang mencapai 182.000 orang.
Menurut laporan kepolisian Frankfurt, München, dan Berlin, jumlah demonstran di ketiga kota tersebut secara keseluruhan mencapai sekitar 18.000 orang. Angka ini hanya sekitar setengah dari perkiraan 36.000 orang yang tercantum di situs web penyelenggara.
Bagi pihak penyelenggara, fokus utama gerakan ini adalah tekanan yang semakin besar terhadap generasi muda di Jerman, negara dengan perekonomian terbesar di Eropa.
Belakangan ini, berbagai wilayah Eropa dilanda gelombang demonstrasi yang dipimpin oleh Generasi Z.
Di Serbia, aksi protes yang dipimpin mahasiswa mendorong pemimpin yang telah lama berkuasa mengalami kekalahan dalam pemilu.
Di Prancis, demonstrasi nasional kembali berlangsung selama tiga akhir pekan berturut-turut. Namun, aksi protes tersebut berkembang menjadi kerusuhan dan penjarahan.
Italia juga menggelar demonstrasi nasional besar-besaran pada 30 Oktober. Di ibu kota Roma, puluhan ribu mahasiswa dan warga turun ke jalan untuk memprotes berbagai persoalan, termasuk tingginya harga kebutuhan hidup dan ketidakpastian masa depan kaum muda.
Demonstrasi serupa juga terjadi di Spanyol, sehingga semakin memperkuat gelombang gerakan protes anak muda di berbagai negara Eropa.
Sumber : NTDTV.com





