Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat Dorong Penguatan Literasi Digital Anak agar Mampu Berpikir Kritis dan Melestarikan Budaya

pantau.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya penguatan literasi digital secara konsisten agar anak-anak mampu menggunakan teknologi secara kritis, bertanggung jawab, serta menjadikan ruang digital sebagai sarana mengekspresikan dan mengembangkan budaya bangsa.

Lestari menilai kemampuan menggunakan perangkat teknologi saja belum cukup untuk membekali anak menghadapi perkembangan dunia digital.

Menurutnya, anak-anak juga perlu memahami cara menyaring informasi, memeriksa kebenaran konten, serta berinteraksi secara etis di berbagai platform digital.

"Ruang digital memang menjadi panggung baru bagi ekspresi budaya, tetapi tanpa literasi yang kuat, anak-anak kita hanya akan menjadi konsumen konten, bukan pewaris budaya yang kritis," kata Lestari dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Ia menekankan bahwa literasi digital harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.

Penguatan tersebut diperlukan agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang mencerminkan nilai budaya dan identitas bangsa.

Lestari Moerdijat Tekankan Pentingnya Literasi Digital Sejak Dini

Lestari Moerdijat mengatakan perkembangan teknologi telah membuka ruang baru bagi anak-anak untuk mengakses informasi dan mengekspresikan diri.

Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan memahami dan mengevaluasi informasi yang diterima.

Menurutnya, anak-anak harus dibekali keterampilan untuk membedakan informasi yang dapat dipercaya dengan konten yang belum terverifikasi.

Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Lestari juga menekankan perlunya pemahaman mengenai etika ketika berkomunikasi dan membagikan informasi di ruang digital.

Ia menilai pendidikan literasi digital tidak boleh hanya berfokus pada penguasaan perangkat dan aplikasi.

Aspek berpikir kritis, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap perbedaan juga harus menjadi bagian dari pembelajaran.

"Yang kita butuhkan adalah anak yang mampu berpikir kritis sebelum memercayai, memeriksa sebelum membagikan, dan menghargai perbedaan dalam setiap interaksi. Itulah wujud literasi yang berbasis budaya," kata Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat.

Keluarga dan Sekolah Diminta Bangun Kebiasaan Digital yang Bertanggung Jawab

Lestari menilai keluarga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan anak saat menggunakan teknologi.

Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak mempelajari nilai, tanggung jawab, dan cara berinteraksi dengan orang lain.

Karena itu, penanaman literasi digital perlu dimulai melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Orang tua diharapkan dapat membantu anak memahami pentingnya memeriksa informasi sebelum memercayai atau membagikannya.

Selain keluarga, sekolah juga memiliki peran dalam memperkuat kemampuan literasi digital peserta didik.

Lestari yang juga merupakan anggota Komisi X DPR RI mendorong agar penguatan literasi digital di sekolah menjadi gerakan nasional yang berkelanjutan.

Menurutnya, pendidikan literasi digital tidak seharusnya hanya menjadi kegiatan tambahan atau program seremonial.

Pembelajaran tersebut perlu diterapkan secara konsisten agar menjadi bagian dari pembentukan karakter anak.

Empat Pilar Literasi Digital Jadi Dasar Pendidikan Anak

Lestari merujuk pada empat pilar literasi digital nasional sebagai dasar penguatan kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi.

Keempat pilar tersebut meliputi kecakapan digital, keamanan digital, budaya digital, dan etika digital.

Kecakapan digital berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi dan memanfaatkan informasi secara tepat.

Sementara itu, keamanan digital menjadi bagian dari pemahaman mengenai perlindungan diri ketika beraktivitas di ruang digital.

Aspek budaya digital berkaitan dengan penerapan nilai dan identitas budaya dalam penggunaan teknologi.

Adapun etika digital menekankan pentingnya perilaku yang bertanggung jawab ketika berkomunikasi dan berinteraksi melalui media digital.

Menurut Lestari, aspek budaya dan etika memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan anak untuk mengekspresikan budaya secara positif.

Ia menilai penguatan kedua aspek tersebut dapat membantu generasi muda menggunakan ruang digital tanpa meninggalkan nilai-nilai kebangsaan.

Anak Didorong Jadi Kreator Konten Budaya, Bukan Sekadar Penonton

Selain meningkatkan kemampuan menyaring informasi, Lestari juga mendorong anak-anak agar mampu menghasilkan konten digital yang bermanfaat.

Menurutnya, generasi muda perlu mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas melalui pemanfaatan teknologi.

Konten yang dihasilkan diharapkan tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga memiliki nilai pendidikan dan budaya.

Ia menilai ruang digital dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan serta mengembangkan ekspresi budaya kepada masyarakat yang lebih luas.

"Anak-anak kita perlu dibekali kemampuan memproduksi konten yang bernilai, bukan hanya menjadi penonton," ucap Rerie.

Lestari menekankan bahwa kemampuan memproduksi konten merupakan bagian dari penguatan literasi digital.

Melalui kegiatan produktif, anak-anak diharapkan dapat mengembangkan karakter sekaligus memperkuat pemahaman terhadap identitas bangsa.

MPR Dorong Kolaborasi Pendidikan dan Budaya dalam Penguatan Literasi Digital

Lestari mengingatkan bahwa peningkatan literasi digital memerlukan kebijakan serta pembiasaan yang dilaksanakan secara berkelanjutan.

Menurutnya, penguatan literasi tidak cukup dilakukan melalui kampanye sesaat tanpa tindak lanjut.

Ia mendorong agar pembangunan sektor pendidikan dan budaya dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama lintas sektor.

Kolaborasi tersebut diperlukan untuk menciptakan lingkungan digital yang mendukung perkembangan karakter dan nilai kebangsaan.

Lestari berharap ruang digital dapat menjadi tempat yang aman dan produktif bagi generasi muda untuk belajar, berkarya, serta mengekspresikan budaya.

"Kemajuan teknologi wajib diiringi kebijaksanaan. Jika literasi digital ditanamkan secara konsisten, ruang digital akan menjadi taman budaya yang subur bagi generasi penerus, bukan sekadar arus informasi tanpa arah," katanya.

Ia menegaskan bahwa penguatan literasi digital harus terus dilakukan agar anak-anak mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijaksana sekaligus menjaga nilai budaya bangsa.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 10,8 Juta Batang Rokok Ilegal di Perairan Aceh Utara
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dapur Rumah Warga Hangus Terbakar, Diduga Akibat Korsleting | KOMPAS PETANG
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Antusiasme Tinggi, Pendaftar Makassar Domino Championship 2026 Sudah 1.700 Pasang Peserta
• 14 jam laluharianfajar
thumb
Pemerintah Atasi Krisis Air Bersih Akibat Kemarau Panjang di Sorong
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Danantara Perluas Jaringan Global, Perkenalkan Potensi Investasi Indonesia melalui Kolaborasi dengan TIME
• 23 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.