Jakarta, VIVA - Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB), Sudarsono Soedomo, menilai upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu diperkuat menjelang puncak El Nino ekstrem yang diperkirakan terjadi pada akhir 2026.
Menurut dia, kondisi alam yang ekstrem akan membuat karhutla semakin sulit dicegah dan dikendalikan. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama dan gotong royong dari berbagai pihak untuk menghadapi ancaman tersebut.
"Dalam kondisi alam yang sangat ekstrem seperti ini, kebakaran hutan dan lahan menjadi jauh lebih sulit dicegah dan dikendalikan. Karena itu, yang perlu kita gelorakan adalah semangat kebersamaan, gotong royong, dan kolaborasi untuk menghadapi bencana ini bersama-sama," ujar Sudarsono dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Sementara itu, Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) memperingatkan bahwa El Nino diperkirakan mencapai intensitas ekstrem pada akhir 2026. Fenomena ini bahkan berpotensi menjadi salah satu yang terkuat sejak 1950.
Anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tropis diproyeksikan mencapai 3,7 derajat Celsius di atas normal. Kondisi tersebut terlihat dalam peta suhu global yang didominasi warna merah, menandakan semakin kuatnya fenomena El Nino.
Sudarsono menegaskan, ancaman Super El Nino membuat upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla membutuhkan keterlibatan semua pihak. Menurut dia, penanganan kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum terhadap perusahaan yang wilayah konsesinya ditemukan titik api.
"Di tengah ancaman Super El Nino dengan proyeksi anomali suhu permukaan laut di Pasifik yang meningkat, upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran dinilai membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, bukan semata-mata mengandalkan penegakan hukum terhadap perusahaan yang wilayah konsesinya ditemukan titik api," ujar Sudarsono.
Ia menjelaskan, El Nino ekstrem berpotensi menurunkan curah hujan secara signifikan, terutama di wilayah yang rawan karhutla. Akibatnya, lahan gambut dapat menjadi semakin kering, termasuk lapisan organik yang berada di bawah permukaan tanah.
"Kondisi tersebut membuat lahan gambut semakin kering, termasuk lapisan organik di bawah permukaan tanah. Kombinasi kondisi yang kering, kelembapan udara rendah, dan angin kencang turut meningkatkan risiko kebakaran berskala besar atau megafire, yang dapat berkembang melampaui kapasitas pemadaman di lapangan," jelas dia.





