Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan angka perkembangan industri keuangan syariah per September 2026. Hal ini disampaikan Ketua DK OJK Friderica Widyasari Dewi dalam acara puncak Syariah Financial Fair (SYAFIF) Goes to Makassar di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (1/11).
Friderica menyampaikan total aset industri keuangan syariah tumbuh 9,28 persen secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 3.307,73 triliun per September 2026.
“Dengan rincian total aset perbankan syariah sebesar Rp 1.108,45 triliun, pasar modal syariah Rp 2.000,71 triliun dan Industri Keuangan Non-Bank mencapai Rp 198 triliun,” sebut Friderica dalam sambutannya di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (1/11).
Dari sisi kinerja sektoral, Friderica memaparkan pembiayaan perbankan syariah tumbuh 12,05 persen secara tahunan menjadi Rp 757,32 triliun. Sementara itu, rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) tercatat sebesar 2,28 persen.
“Kemudian kita lihat untuk dana pihak ketiga (DPK) di perbankan syariah juga tumbuh sebesar Rp 794,3 triliun menjadi Rp 853,70 triliun dan kapitalisasi pasar modal syariah juga terus tumbuh,” lanjut Friderica.
Friderica menambahkan, posisi Indonesia di kancah global juga menunjukkan perkembangan positif. Indonesia menempati peringkat keempat dalam ekosistem ekonomi Islam global, dengan kekuatan pada sejumlah sektor.
“Posisi yang kuat pada aspek modest fashion, halal food, kemudian media, recreation, farmasi, kosmetik muslim friendly, dan Islamic finance. Ini luar biasa,” tutur Friderica.
OJK Luncurkan PELITA Syariah, Dorong Masyarakat Melek Keuangan SyariahDalam kesempatan yang sama, OJK juga memperkuat upaya peningkatan literasi keuangan syariah melalui peluncuran Buku Panduan Literasi dan Referensi Dakwah Keuangan Syariah (PELITA Syariah). Inisiatif ini ditujukan untuk mengoptimalkan peran pendakwah, penyuluh agama, dan tokoh masyarakat dalam memberikan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan syariah kepada masyarakat.
Menurut Friderica, peluncuran ini harus diiringi dengan sinergi dan kolaborasi berbagai pihak untuk meningkatkan edukasi dan literasi keuangan syariah di masyarakat.
“Tujuan akhirnya apa? Tujuan akhirnya adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat kita melalui produk keuangan syariah,” sebut Friderica.
Melalui buku ini, OJK mendorong para tokoh agama untuk menyampaikan informasi mengenai penggunaan produk dan layanan keuangan syariah secara tepat dan bertanggung jawab. Panduan ini juga diharapkan dapat membantu masyarakat mengenali serta menghindari berbagai bentuk penipuan dan praktik keuangan ilegal.
Sekretaris Daerah Sulawesi Selatan, Andi Winarno, menyebutkan wilayahnya memiliki sekitar 9 juta penduduk yang menjadi potensi besar bagi pengembangan keuangan syariah.
“Kami di Sulsel sekitar 9 juta orang, pangsanya (keuangan syariah) sangat besar sekali. Artinya walaupun mungkin hanya kecil-kecil sekali tapi kalau banyak Insya Allah akan membawa berkat kepada semua,” sebut Andi dalam kesempatan yang sama.
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan indeks literasi keuangan syariah berada di level 43,07 persen, sementara indeks inklusinya baru mencapai 13,24 persen. Perbedaan kedua angka tersebut mencerminkan masih adanya peluang untuk meningkatkan pemanfaatan produk dan layanan keuangan syariah oleh masyarakat.
Peluncuran PELITA Syariah ini sendiri menjadi bagian dari kegiatan SYAFIF Goes to Makassar 2026 yang digelar di Trans Studio Mall Makassar pada Jumat (30/10) hingga Minggu (1/11). Agenda ini sekaligus menandai penyelenggaraan terakhir SYAFIF sepanjang 2026, setelah sebelumnya diadakan di Banjarmasin dan Aceh.
Dari rangkaian kegiatan SYAFIF Goes to Makassar 2026, tercatat sebanyak 10.598 rekening baru berhasil dibuka. Sementara itu, total transaksi penghimpunan dan penyaluran dana mencapai Rp230,94 miliar. Capaian tersebut merupakan akumulasi kegiatan pra-acara yang berlangsung pada 19-29 Oktober 2026 dan acara utama pada 30 Oktobe-1 November 2026.





