Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan, Senin (2/11/1016), bergerak melemah 2 poin atau 0,01 persen menjadi Rp18.149 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.147 per dolar AS.
Lukman Leong Analis Doo Financial memperkirakan rupiah akan bergerak datar seiring investor menantikan serentetan data ekonomi domestik pada siang hari ini.
“Rupiah diperkirakan dibuka datar, dengan investor menantikan serentetan data ekonomi domestik siang ini, di antaranya inflasi dan perdagangan,” ucapnya di Jakarta, Senin (2/11/2026), yang dilansir Antara.
Inflasi diperkirakan sedikit naik dari 3,28 persen ke 3,3 persen, sedangkan neraca perdagangan diprediksi surplus 1,9 miliar dolar AS.
Di samping itu, sentimen lain berasal dari harga minyak dunia yang turun seiring harapan perundingan damai untuk mengakhiri perang AS dengan Iran.
Mengutip Sputnik, Mohsen Rezaei Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada, Sabtu (31/1/2026), mengatakan bahwa Iran dan Amerika Serikat (AS) hanya akan menggelar perundingan jika Washington menerima tujuh syarat yang diajukan Teheran. Syarat-syarat itu berbeda dari ketentuan dalam nota kesepahaman Islamabad.
Dia menambahkan bahwa Iran harus “menghukum” AS. Menurutnya, jika hal itu tidak dilakukan, negara-negara lain mungkin akan beranggapan bahwa mereka juga dapat melancarkan serangan militer serupa terhadap Iran.
Kendati ada potensi perundingan, sentimen domestik umumnya disebut masih lemah karena sell off asing di pasar ekuitas. Mata uang Asia juga terpantau dibuka melemah. “Sepekan lalu, asing net sell Rp3 triliun all market,” ungkapnya.
Berdasarkan faktor-faktor itu, rupiah diprediksi berkisar Rp18.100-Rp18.200 per dolar AS. (ant/fia/bil/ham)




