Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata harga beras di tingkat penggilingan, grosir, hingga eceran naik pada Oktober 2026. Rata-rata harga beras di tingkat eceran mencapai Rp 15,765 per kg.
Harga beras yang dicatat BPS merupakan harga rata-rata beras mencakup berbagai jenis kualitas dan juga mencakup seluruh wilayah di Indonesia.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, rata-rata harga beras di penggilingan secara total naik 0,26% secara bulanan atau 6,89% secara tahunan menjadi Rp 14.365 per kg. Harga beras di tingkat penggilingan, menurut dia, dibedakan menurut kualitas.
“Harga beras premium secara month to month naik 0,01% dan secara year-on-year naik 11,32%. Kualitas beras medium secara month to month naik 0,35% dan secara year-on-year naik 5,57%,” kata Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/11).
Tak hanya di penggilingan, kenaikan rata-rata harga beras juga terjadi pada tingkat grosir dan eceran. Di tingkat grosir terjadi inflasi sebesar 0,01% secara month to month dan secara year-on-year terjadi inflasi sebesar 5,13% dengan rata-rata harga beras Rp 14.994 per kg.
“Di tingkat eceran, inflasi month to month sebesar 0,08% dan inflasi secara year-on-year pada tingkat eceran sebesar 4,10%,” ujarnya.
Tambahan Produksi BulogDirektur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani sebelumnya mengatakan Bulog diperintahkan untuk memproduksi dan menggelontorkan sebanyak 300 ribu beras premium dalam rangka mengendalikan harga di pasaran.
"Dengan adanya kenaikan beras premium, Bulog diperintahkan untuk segera membuat beras komersial dengan jumlah 300 ribu ton," kata Rizal di Jakarta, Jumat (9/10).
Menurut dia, peningkatan harga pada beras premium memang telah terjadi, apalagi pada September hingga Desember bukan musim panen sehingga harga beras akan naik.
Kenaikan harga beras premium kata Rizal, dikarenakan harga gabah saat ini diatas Rp 7.000-8000 per kilogram hal itu dikarenakan pasokan dan produksi petani juga menurun. Namun yang pasti ujar Rizal, untuk beras medium masih aman, apalagi Bulog pada tahun 2026 telah menyerap beras petani sebanyak 4,11 juta ton.
"Kenaikan beras premium ini karena September, Oktober ini kan bukan musim panen. Sedangkan kalau beras medium dipastikan aman," ujarnya.
Rizal mengatakan dengan adanya kenaikan harga beras premium di pasaran maka pemerintah memerintahkan Bulog untuk mengintervensi harga dengan cara menggelontorkan beras premium dari hasil penyerapan.
Ia menjelaskan data terkini Bulog telah mendistribusikan sebanyak 71-72 ribu ton dan didistribusikan melalui ritel modern serta agen Bulog yang berada di pasar.
"Kami sedang pacu untuk pemasaran dan mengolah gabah yang kita beli secara komersial untuk dijadikan beras premium. Saat ini kami sudah mulai mengisi beras premium di toko maupun ritel modern," katanya.




