Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat melorotnya ekspor sektor pertanian dan pertambangan pada September 2026. Sementara itu, sektor industri pengolahan menjadi satu-satuya yang naik dibanding bulan yang sama tahun lalu.
Meski begitu, total kinerja ekspor pada September 2026 masih membukukan kenaikan sebesar 12,39% menjadi US$ 26,64 miliar, dari sebelumnya pada September 2025 sebesar US$23,70 miliar.
Nilai ekspor pertanian hanya US$ 510 juta pada September 2026, turun hingga 18,14% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sedangkan ekspor sektor pertambangan senilai US$ 2,86 miliar atau turun 9,37% dibanding September 2025 yang sebesar 3,15 miliar.
"Ekspor sektor pertambangan dan lainnya turun 9,37% secara tahunan, dan pertanian, kehutanan, serta perikanan mengalami penurunan 18,14%," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (2/11/2026).
Khusus untuk industri pengolahan yang ekspornya naik hingga 16,78% nilainya menjadi sebesar US$ 23,27 miliar pada September 2026, dari sebelumnya pada bulan yang sama tahun lalu hanya sebesar US$ 19,93 miliar.
Nilai industri pengolahan yang naik 16,78% itu kata Ateng ditopang oleh tingginya ekspor untuk komoditas minyak mentah kelapa sawit atau CPO, tembaga, nikel, hingga kimia dasar organik.
"Industri pengolahan naik secara tahunan sebesar 16,78%. dengan memberikan andil terhadap kenaikan total ekspor sebesar 13,56%," ucap Ateng.
(arj/arj)




