OGAN KOMERING ILIR -- Pemerintah mengalirkan air dari Sungai Lumpur untuk membasahi kembali lahan gambut yang mulai kering di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Sistem pompa berkapasitas total empat juta liter per jam itu juga disiapkan untuk mendukung pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Baca Juga
KLH Telusuri Karhutla di 335 Konsesi Perusahaan
Super El Nino Picu Megafire, Pakar Dorong Strategi Pencegahan Karhutla Diubah
Sebanyak 175 Regu Dikerahkan untuk Tangani Karhutla di Palangka Raya
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menggunakan empat unit pompa yang masing-masing berkapasitas satu juta liter per jam. Pompa dioperasikan secara estafet selama 20 jam per hari untuk mengalirkan air menuju area pembasahan sejauh 23 kilometer melalui jaringan kanal dan parit kecil.
Dalam keterangannya, Senin (2/11/2026), KLH menjelaskan distribusi air melalui jaringan kanal dan parit kecil ditujukan agar pembasahan menjangkau area gambut yang lebih luas. Pasokan air juga dapat dimanfaatkan ketika terjadi kebakaran di kawasan tersebut.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Mohammad Jumhur Hidayat mengatakan, pemerintah mengutamakan pencegahan karhutla melalui penguatan tata air gambut dan pemanfaatan teknologi.
"Semangat gotong royong ini harus terus diperkuat, tidak hanya dalam pemadaman, tetapi juga melalui upaya pencegahan, salah satunya dengan mengembangkan inovasi pembasahan kembali lahan gambut melalui pemanfaatan aliran air sungai, pompa, dan sekat kanal," kata Jumhur seperti dikutip dari pernyataan KLH.
Jumhur menyampaikan hal tersebut saat meninjau infrastruktur pembasahan gambut di Distrik Simpang Tiga, OKI. Dalam kunjungan itu, Jumhur memeriksa operasional pompa dan kanal pembasahan untuk memastikan pasokan air dapat menjaga kelembapan ekosistem gambut.
Jumhur juga menyaksikan praktik penggunaan pompa pemadaman gambut bersama Tim Water Management PT Bumi Mekar Hijau. Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah Pompa Sambunesia karya Sambusir.
Pompa tersebut memiliki tiga fungsi, yakni memadamkan api di permukaan, menyemprotkan air ke lapisan gambut, serta mendistribusikan air melalui sistem penyiram otomatis atau sprinkler.
Setelah meninjau infrastruktur pembasahan, Jumhur mengunjungi Desa Penyandingan, Kecamatan Tulung Selapan. Dia berdialog dengan anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) yang terlibat dalam penanganan karhutla di wilayah tersebut.
Lebih dari 100 anggota MPA terlibat dalam operasi pemadaman selama lebih dari 50 hari, sejak 5 September hingga 26 Oktober 2026. Mereka menghadapi kendala berupa keterbatasan sumber air, sulitnya akses menuju lokasi kebakaran, cuaca panas, dan karakteristik lahan gambut. Melalui kerja sama lintas sektor, kebakaran di area sekitar 2.000 hektare berhasil ditangani.
Jumhur menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan kebakaran, mulai dari Manggala Agni, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, hingga MPA.
"Kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh pihak, mulai dari Manggala Agni, BNPB, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, hingga Masyarakat Peduli Api yang telah bekerja keras dalam penanganan karhutla," ujarnya.
KLH juga menggelar pemeriksaan kesehatan bagi anggota MPA dan masyarakat setempat. Pemeriksaan dilakukan untuk mengantisipasi kelelahan dan dampak paparan asap setelah petugas terlibat dalam operasi pemadaman selama berhari-hari.
Sementara itu, Kepala BPGMN Satyawan Pudyatmoko mengatakan, pemerintah memperkuat koordinasi pusat dan daerah untuk mencegah kebakaran berulang. Pemerintah juga mendorong peningkatan peran desa dalam pengendalian karhutla.
"Kami terus memperkuat koordinasi dan menyelaraskan langkah antara pemerintah pusat dan daerah agar program pencegahan serta penanggulangan karhutla dapat dilaksanakan secara konkret dan terarah," kata Satyawan.
Menurut Satyawan, pemerintah akan memetakan wilayah prioritas, mendata infrastruktur pembasahan gambut, serta memperbaiki fasilitas yang rusak. Infrastruktur yang menjadi perhatian mencakup sekat kanal dan sumur bor, terutama di kawasan gambut rawan kebakaran.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meminta seluruh pihak tetap waspada meskipun hujan mulai turun di sejumlah wilayah. Potensi cuaca kembali kering masih perlu diantisipasi agar kebakaran tidak kembali meluas.
"Kita tidak boleh lengah meskipun sekarang sudah mulai turun hujan. Berdasarkan prediksi BMKG, masih ada potensi cuaca kembali kering sehingga penanganan karhutla melalui berbagai upaya tetap harus dilanjutkan," kata Herman.
Selain pembasahan gambut, pemerintah melanjutkan pengendalian karhutla melalui operasi modifikasi cuaca dan peningkatan kesiapsiagaan di wilayah rawan. Langkah tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko kebakaran berulang sekaligus melindungi masyarakat dan ekosistem gambut.