EtIndonesia.com Di kota-kota Ukraina yang berada di bawah pendudukan militer Rusia, warga bahkan terpaksa memakan rumput karena kelaparan. Pada 31 Oktober, ratusan warga sipil akhirnya berhasil dievakuasi dari wilayah pendudukan Rusia dan kembali dengan selamat ke Ukraina.
Mereka berasal dari Kota Oleshky, Provinsi Kherson. Sejak kota tersebut diduduki oleh militer Rusia pada 2022, kehidupan penduduk setempat semakin sulit.
Kota yang sebelumnya dihuni lebih dari 20.000 orang itu kini hanya menyisakan kurang dari 2.000 penduduk. Ancaman ranjau darat dan drone membuat pasokan makanan serta obat-obatan sulit masuk ke wilayah tersebut. Sementara itu, aliran air, listrik, dan pemanas ruangan juga telah terputus.
Sejumlah warga mengatakan bahwa bahkan roti pun sudah tidak bisa dibeli di kota tersebut. Penduduk hanya bisa menanam sayuran sendiri atau merebus rumput liar yang tumbuh di kebun untuk dimakan. Ada warga yang kehilangan berat badan hingga 20 kilogram dalam waktu satu tahun.
Beruntung, kali ini Ibu Negara Amerika Serikat Melania Trump membantu memfasilitasi tercapainya gencatan senjata terbatas, sehingga warga akhirnya memiliki kesempatan untuk melarikan diri.
Pada 30 Oktober, bus-bus evakuasi diberangkatkan dari wilayah tersebut. Rombongan melewati Krimea yang diduduki Rusia, Rusia, dan Belarus, sebelum akhirnya kembali ke Ukraina.
Menurut laporan BBC, korban yang berhasil diselamatkan berusia mulai dari yang termuda, yakni 1 tahun, hingga yang tertua, 94 tahun. Beberapa lansia berada dalam kondisi fisik yang sangat lemah sehingga harus berbaring di atas tandu.
Salah seorang warga yang berhasil diselamatkan mengatakan bahwa dirinya tidak bisa tidur sepanjang malam sebelum keberangkatan karena takut terjadi sesuatu selama perjalanan. Kini, ia akhirnya merasa aman.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga membenarkan bahwa ratusan orang telah kembali dengan selamat. Ia menyampaikan terima kasih atas bantuan Melania Trump.
Namun, Rusia saat ini belum menunjukkan niat untuk memperluas gencatan senjata tersebut ke garis depan lainnya.
Perkembangan terbaru di garis depan
Sementara itu, muncul kabar terbaru mengenai kerugian militer Rusia di medan perang.
Hari ini, seorang komandan Pasukan Sistem Nirawak Ukraina mengungkapkan bahwa sekitar 40 persen personel militer Rusia yang kehilangan kemampuan bertempur selama Oktober kemungkinan merupakan hasil operasi pasukan tersebut.
Pasukan ini baru dibentuk pada 2024 dan secara khusus menggunakan drone serta berbagai senjata nirawak lainnya dalam operasi militer.
Sang komandan mengatakan bahwa sejak sistem pertahanan drone terintegrasi diterapkan, setiap unit militer dapat menentukan sendiri strategi pertempuran dan jenis perlengkapan yang akan dibeli. Hal ini telah meningkatkan efisiensi operasi secara signifikan.
Militer Ukraina juga mengumumkan bahwa Rusia kehilangan lebih dari 46.000 personel pada September. Angka tersebut menjadi jumlah kerugian bulanan tertinggi sepanjang tahun ini menurut data yang diumumkan pihak Ukraina.
Komandan militer Ukraina menilai bahwa jika Rusia terus mengerahkan pasukan untuk melakukan serangan dan memaksakan kemajuan di medan perang, negara tersebut hanya akan menanggung jumlah korban yang semakin besar.
Sumber : NTDTV.com





