CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Sulawesi Selatan (Sulsel) mengalami inflasi bulanan atau month-to-month (m-to-m) sebesar 0,57 persen pada Oktober 2026.
Sedangkan inflasi tahunan (y-on-y) berada di angka 4,24 persen dengan inflasi tertinggi terjadi di Kota Makassar sebesar 4,55 persen dan terendah di Bulukumba 2,86 persen.
Lonjakan inflasi bulanan ini didorong utama oleh kenaikan harga pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, yang menyumbang andil inflasi m-to-m sebesar 0,51 persen.
Sejumlah komoditas pangan menjadi penyumbang terbesar kenaikan harga bulanan ini, diantaranya: cabai rawit yang memberikan andil 0,13%, tomat 0,12%, Cabai merah 0,07%. Ikan bandeng/ikan bolu juga memberikan andil 0,05%. Daging ayam juga memberikan andil 0,04%.
Inflasi bulanan yang dipicu oleh kebutuhan pokok dapur, tentu membuat pengeluaran rumah tangga otomatis membengkak. Warga terpaksa harus mengeluarkan uang lebih banyak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar, di tengah tren kenaikan tahunan (y-on-y) yang juga merambah sektor pendidikan, transportasi, hingga perawatan pribadi seperti emas perhiasan. Kondisi ini membuat ruang untuk menabung bagi warga kian menyempit akibat alokasi anggaran yang tersedot untuk kebutuhan perut sehari-hari.




