Demo Buruh Berujung Chaos, Tuntut Gaji Naik 140%-Mobil Polisi Dibakar

cnbcindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita
Foto: REUTERS/Jannatul Ferdaus

Jakarta, CNBC Indonesia - Aksi protes ribuan buruh garmen di Bangladesh terus meluas dan diwarnai bentrokan dengan aparat keamanan. Para pekerja turun ke jalan, memblokir jalan raya hingga membakar kendaraan polisi untuk mendesak pemerintah menaikkan upah minimum bulanan menjadi lebih dari dua kali lipat gaji saat ini.

Negara berpenduduk sekitar 170 juta jiwa itu merupakan eksportir pakaian terbesar kedua di dunia setelah China. Industri garmennya memasok produk untuk sejumlah merek internasional besar dan menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Bangladesh.

AFP pada Senin (2/11/2026) melaporkan ratusan buruh di Gazipur, sebelah utara ibu kota Dhaka, memblokir Jalan Raya Dhaka-Tangail. Sejumlah kendaraan dirusak dalam aksi tersebut. Sementara itu, massa dalam jumlah besar juga berkumpul di distrik Mirpur.


Baca: Buruh Ngamuk Tuntut Gaji Naik 140%, Puluhan Pabrik Garmen Tutup

Polisi membubarkan demonstran menggunakan gas air mata. Dalam perkembangan aksi, sejumlah pekerja juga membakar sebuah kendaraan milik kepolisian.

Kerusuhan ini terjadi meskipun pemerintah sehari sebelumnya mengumumkan rencana pembentukan dewan pengupahan untuk meninjau upah minimum di sektor garmen. Industri tersebut mempekerjakan jutaan orang dan menghasilkan sebagian besar pendapatan ekspor Bangladesh.

Namun, para pemimpin buruh menilai persoalan yang dihadapi pekerja tidak cukup diselesaikan dengan pembentukan dewan tersebut. Mereka juga menyoroti lonjakan inflasi dan meningkatnya biaya kebutuhan rumah tangga.

Para pekerja menuntut upah bulanan sebesar 30.000 taka atau sekitar US$241. Jumlah itu lebih dari dua kali lipat atau 140% penghasilan mereka sekarang, yang menurut Kalpona Akter dari Bangladesh Center for Workers Solidarity berada di kisaran 13.000 taka per bulan.

Di Ashulia, kawasan pinggiran Dhaka yang menjadi lokasi sejumlah pabrik terbesar di Bangladesh, polisi menembakkan granat kejut dan gas air mata untuk membubarkan massa.

Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari menjadi salah satu alasan utama buruh turun ke jalan. Seorang pekerja pabrik berusia 28 tahun bernama Mamum mengatakan harga pangan, gas untuk memasak, hingga tagihan listrik terus meningkat.

"Harga makanan, gas untuk memasak, dan tagihan listrik semuanya naik. Pemerintah harus menurunkan harga barang-barang kebutuhan pokok atau menaikkan upah kami," ujarnya.

Operator mesin berusia 24 tahun, Sharmin, juga meminta pemerintah mendengarkan tuntutan para pekerja yang selama ini menopang kegiatan ekonomi negara.

"Kami yang membuat roda perekonomian terus berputar. Mereka harus mendengarkan kami," katanya.

Menteri Dalam Negeri Salahuddin Ahmed memperingatkan pemerintah akan mengambil tindakan tegas untuk menghentikan aksi protes. Pernyataan itu disampaikan setelah dirinya bertemu dengan para pemimpin industri pada Senin.

"Siapapun yang terlibat dalam kegiatan melanggar hukum dan konspirasi dengan berkedok gerakan buruh akan ditindak dengan tangan besi," kata Ahmed.

Sebelumnya, Ahmed mengatakan Perdana Menteri Tarique Rahman telah memberikan instruksi kepada jajaran pemerintah setelah menggelar rapat kabinet darurat pada Minggu malam. Rahman meminta pemerintah memastikan hak-hak pekerja terlindungi dan taraf hidup mereka meningkat.

Kepala pemerintahan Bangladesh itu juga menginstruksikan agar kegiatan produksi dan ekspor tetap berlangsung tanpa gangguan.

Di sisi lain, asosiasi utama produsen garmen dan pakaian rajut Bangladesh memperingatkan dampak berkepanjangan dari kerusuhan tersebut. Menurut laporan kantor berita pemerintah BSS pada Senin, mereka menilai gejolak yang terus berlanjut berpotensi mengganggu produksi, menunda pengiriman ekspor, serta memengaruhi komitmen Bangladesh kepada pembeli internasional.

Sekretaris Jenderal Ekota Garments Sramik Federation, Kamrul Hasan, mengatakan kepada AFP bahwa sejumlah pemimpin buruh bahkan memilih bersembunyi di tengah situasi yang semakin tidak terkendali.

"Kami juga tidak siap menghadapi kerusuhan ini, karena dewan pengupahan sudah dibentuk," ujarnya. "Namun, sekarang pekerja memprotes upah dan berbagai persoalan lain yang belum terselesaikan."

Situasi di Ashulia juga diwarnai aksi kejar-kejaran antara petugas keamanan dan demonstran. Para pekerja berlarian ke gang-gang sempit untuk menghindari aparat, sementara gas air mata menyebar hingga ke kawasan permukiman padat yang sebagian besar dihuni keluarga dalam kamar-kamar kecil.

Seorang warga bernama Kamona, 24 tahun, mengaku gas air mata bahkan ditembakkan ke dalam kompleks tempat tinggalnya.

"Polisi menembakkan gas air mata ke dalam kompleks kami. Kami punya anak-anak, tetapi mereka tidak peduli," katanya.

Perwakilan industri menyebut pekerja dari sedikitnya 529 pabrik di Dhaka dan kawasan industri sekitarnya telah meninggalkan tempat kerja pada Minggu. Wilayah tersebut meliputi Savar, Ashulia, Jirani, dan Gazipur.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:
Video:Demi Redam Protes, Prancis Guyur Rp. 81 T Untuk Renovasi Sekolah

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Warga Jaksel, Ini Jadwal Klinik Hewan Keliling 2-7 November 2026
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
FLYMiX, Girl Group Asia Berisi Member dari Jepang, China, dan Indonesia, Rilis Single Pre-debut
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Transjakarta kembalikan fungsi steril "busway" di Koridor 9
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Ibas Ajak Anak Muda Ponorogo Ciptakan Lapangan Kerja Lewat Reog, Kuliner, dan Industri Digital
• 9 jam lalupantau.com
thumb
Sisa Long Weekend 2026, Masih Ada Kesempatan di Akhir Tahun, Ini Rinciannya!
• 10 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.