Danantara Indonesia sukses menyelenggarakan Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 yang berlangsung pada 26–28 Oktober di Hotel Fairmont, Jakarta. Forum berskala global ini mendorong pengembangan industri nasional berbasis teknologi dan inovasi guna memperkuat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Selama tiga hari penyelenggaraan, DTIIF 2026 dihadiri lebih dari 3.000 peserta serta ratusan pembicara dari dalam dan luar negeri. Ajang ini mempertemukan para pembuat kebijakan, inovator global, eksekutif teknologi, lembaga riset, investor, akademisi, hingga ekosistem BUMN untuk menjalin kolaborasi nyata.
Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia sekaligus Ketua DTIIF 2026, Sigit Puji Santosa, menegaskan bahwa pengembangan industri ke depan tidak lagi bertumpu semata pada intensitas industri konvensional, melainkan berfokus pada inovasi dan teknologi yang memberi dampak langsung pada perekonomian.
Sigit menggarisbawahi bahwa penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam forum ini hanyalah langkah awal. Danantara menargetkan setiap kesepakatan segera ditindaklanjuti hingga ke tahap kontrak komersial dan implementasi konkret di lapangan.
"Kita ada cukup banyak MoU dan kesepakatan yang ditandatangani dengan perusahaan dalam dan luar negeri, serta perguruan tinggi. Di mana kita akan mulai melakukan mapping dan matching, mengawal bagaimana industri BUMN di bawah Danantara didukung oleh riset perguruan tinggi, baik pakar nasional maupun lokal di mana industri kita berada," kata Sigit, dikutip dari tayangan Primetime News Metro TV, Senin, 2 November 2026.
Ia mencontohkan pembangunan smelter aluminium di Mempawah yang disinergikan dengan keterlibatan perguruan tinggi lokal seperti Universitas Tanjungpura guna mengawal proses hilirisasi industri secara terpadu.
Baca Juga :
Transformasi BUMN Berhasil, Danantara: Laba Naik 18,4%Pentingnya forum pertukaran gagasan ini turut diapresiasi oleh peraih Nobel Ekonomi, Prof. Thomas J. Sargent. Sargent mengungkapkan bahwa forum semacam DTIIF memberikan nilai besar karena membuka ruang bagi beragam perspektif lintas disiplin ilmu.
"Pengalaman saya ketika menghadiri acara seperti ini, saya mendengarkan dan menemukan ide-ide baru dari sudut pandang yang berbeda. Perkembangan sains, bisnis, maupun kreativitas akan terus bertumbuh ketika orang-orang mengadopsi cara pandang baru," ucap Thomas Sargent.
Manfaat forum ini juga dirasakan langsung oleh peserta. Karina Aprilia, salah seorang pengunjung profesional di bidang teknologi, mengaku mendapatkan wawasan strategis mengenai arah adopsi teknologi industri nasional. Menurutnya, pemaparan komprehensif dari Danantara memberikan gambaran jelas mengenai implementasi riset ke skala industri.
Sepanjang gelaran DTIIF 2026, sejumlah kemitraan strategis telah disepakati, meliputi sektor energi, riset sains, infrastruktur digital antara penyedia teknologi dan ekosistem BUMN, hingga pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Sebagai kelanjutan dari komitmen ini, Danantara Indonesia dijadwalkan akan menggelar ajang perdana New Asia Forum pada 3–4 Desember mendatang di Bali, guna memperluas jaringan kemitraan dan investasi teknologi di tingkat kawasan Asia.




