HARIAN.FAJAR.CO.ID, WASHINGTON—Komentator AS, Tucker Carlson, mengklaim pada 2 November 2026 bahwa Benjamin Netanyahu sedang menekan Donald Trump untuk melancarkan serangan nuklir terhadap sebuah lokasi di Iran, yakni Pickaxe Mountain.
Meskipun Carlson mengutip seorang “pengamat yang mengetahui situasi” untuk mendukung klaimnya, pihak AS maupun Israel belum mengonfirmasi rencana semacam itu.
Selain itu, dalam sebuah wawancara pada 16 Oktober, Trump sempat menyatakan bahwa ia tidak akan menggunakan senjata nuklir.
“Di bawah tekanan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, pemerintahan Trump mungkin akan melancarkan serangan nuklir ke Iran dalam hitungan hari,” tulis Carlson dalam sebuah unggahan di X dikutip dari The Independent.
“Netanyahu terpojok dan putus asa… Netanyahu harus tetap dekat dengan Trump. Dia membutuhkan perang ini,” lanjutnya.
Komentator AS tersebut, yang dalam dua tahun terakhir semakin kritis terhadap pemerintah Israel dan dukungan tanpa syarat dari AS, tidak memberikan bukti apa pun untuk mendukung klaimnya, namun ia mengutip seorang pengamat yang mengetahui situasi.
Ia mengklaim bahwa serangan semacam itu kemungkinan besar akan menyasar Pickaxe Mountain. Trump telah berulang kali mengancam akan mengebom sebuah gunung di Iran bagian tengah—yang menurut Washington mungkin menampung fasilitas nuklir bawah tanah—di tengah dugaan bahwa sebagian persediaan uranium yang diperkaya tingkat tinggi milik Teheran mungkin disimpan di sana.
Carlson menyatakan bahwa senjata konvensional AS tidak mampu menjangkau cukup dalam untuk menghantam terowongan bawah tanah yang diduga menjadi lokasi pengayaan nuklir.
“Satu-satunya opsi militer adalah serangan nuklir. Netanyahu terus mendesak agar opsi ini diambil. ‘Bibi menelepon Trump setiap hari untuk membahas hal itu,’ ujar seorang pengamat yang mengetahui situasi tersebut,” tulisnya.
“Setelah hasil pemilihan umum pekan lalu, ia tidak dapat membentuk pemerintahan kecuali Trump melakukan intervensi langsung dalam politik Israel dan menengahi kesepakatan dengan partai-partai lain yang dapat memberikan 61 kursi di Knesset bagi Netanyahu. Jika tidak, ia akan kehilangan jabatannya sebagai perdana menteri dan menghadapi kehinaan, penyelidikan hukum, bahkan kemungkinan dipenjara,” jelasnya.
AS dan Israel belum mengonfirmasi apakah serangan semacam itu telah dipertimbangkan. Trump sebelumnya bahkan telah menepis kemungkinan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran; dalam sebuah wawancara dengan Newsmax pada 16 Oktober, ia menyatakan bahwa ia “tidak akan menggunakan senjata nuklir” dan bahwa Washington “tidak perlu” melakukannya.
Namun, presiden AS tersebut telah mengisyaratkan akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran segera setelah pemilihan paruh waktu (midterm) berakhir.
The Wall Street Journal melaporkan pekan lalu bahwa pemerintahan Trump telah meminta sejumlah sekutu di kawasan Teluk untuk bersiap menghadapi serangkaian serangan intensif yang mungkin dimulai paling cepat pada 4 November, sehari setelah pemilihan paruh waktu berakhir.
Ini merupakan indikasi terbaru dari serangkaian tanda bahwa Washington tengah bersiap untuk kembali berperang melawan Iran—setelah AS dan Israel pertama kali memulai perang tersebut pada 28 Februari, yang menyebabkan gangguan besar terhadap ekonomi dunia dan arus minyak global.
Menurut laporan media tersebut, militer AS tengah menambah persenjataan di kawasan itu, dengan rencana pengerahan satu gugus tugas kapal induk tambahan untuk bergabung bersama 20 kapal perang lainnya yang sudah berada di Timur Tengah.
Perang ini sangat tidak populer di AS dan tingkat ketidaksetujuannya terus meningkat; menurut riset dari Pew Research Center pada bulan Oktober, sekitar dua pertiga warga Amerika (65 persen) tidak menyetujui cara Trump menangani aksi militer di Iran, sementara 33 persen menyatakan setuju.
Hal ini juga sangat memakan biaya bagi AS, dengan estimasi pengeluaran mencapai $47,1 miliar hingga pertengahan Oktober, belum termasuk kerusakan pada pangkalan-pangkalan AS di seluruh kawasan tersebut. (amr)





