Seekor kucing peliharaan yang ketakutan tiba-tiba menendang keras perut pemiliknya hingga nyaris merenggut nyawanya. Baru-baru ini, sebuah insiden medis yang jarang terjadi berlangsung di Huizhou, Provinsi Guangdong. Seorang wanita mengalami perdarahan dan penumpukan darah serta gumpalan darah di rongga perut hingga mencapai 1.000 mililiter setelah ditendang keras oleh kucing peliharaannya sendiri.
EtIndonesia.com Beruntung, ia segera mendapatkan pertolongan medis dan berhasil diselamatkan melalui operasi darurat. Saat ini, wanita tersebut telah pulih dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Peristiwa itu terjadi pada 14 Oktober sore. Seorang tamu yang tidak dikenal datang ke rumah Nyonya Zhu, warga Kabupaten Huidong, Kota Huizhou.
Kucing kesayangannya yang telah dipelihara selama enam tahun dan memiliki berat sekitar 12 jin (6 kilogram) tiba-tiba ketakutan.
Ketika Nyonya Zhu berusaha menenangkan dan menggendong kucing tersebut, hewan itu tiba-tiba menendang bagian perutnya dengan sangat kuat.
Saat itu, Nyonya Zhu hanya mengalami luka gores dan lecet pada kulit perut, disertai rasa nyeri ringan. Karena menganggap kondisinya tidak serius, ia tidak terlalu memperhatikannya.
Namun, pada dini hari berikutnya, ia tiba-tiba terbangun akibat rasa sakit yang hebat di bagian perut. Rasa nyeri tersebut semakin lama semakin parah. Melihat kondisinya, keluarga segera membawanya ke rumah sakit.
Setelah memberikan suntikan pereda nyeri dan melakukan pemeriksaan tomografi komputer (CT scan), pihak rumah sakit mendiagnosis bahwa ia mengalami pecahnya kista korpus luteum ovarium sebelah kanan, yang telah menyebabkan perdarahan hebat di dalam rongga perut.
Tim medis segera menjadwalkan operasi eksplorasi laparoskopi darurat. Dalam operasi tersebut, dokter membersihkan sekitar 1.000 mililiter darah dan gumpalan darah yang terkumpul di rongga perut dan panggul. Dokter juga melakukan pengangkatan serta perbaikan kista tersebut.
Selama tindakan medis berlangsung, pasien menerima transfusi dua unit sel darah merah pekat dengan golongan darah yang sesuai serta 400 mililiter plasma darah.
Setelah menjalani perawatan dan pemantauan di rumah sakit, Nyonya Zhu akhirnya pulih dan diperbolehkan pulang.
Dokter menjelaskan bahwa kista korpus luteum ovarium merupakan struktur fisiologis yang terbentuk setelah wanita mengalami ovulasi.
Pada paruh kedua siklus menstruasi (fase luteal), kista tersebut dapat semakin membesar, sehingga tekanan pada permukaannya meningkat. Pembuluh darah di dalamnya cukup banyak, sementara jaringannya relatif rapuh.
Dalam kondisi tersebut, benturan dari luar pada bagian perut, seperti akibat injakan atau tendangan keras hewan peliharaan, dapat dengan mudah memicu pecahnya kista dan menyebabkan perdarahan hebat.
Dalam kasus yang parah, kondisi ini dapat mengakibatkan syok akibat kehilangan darah, bahkan mengancam nyawa.
Dokter secara khusus mengingatkan wanita agar meningkatkan kewaspadaan dan melindungi diri selama paruh kedua siklus menstruasi.
Beberapa langkah pencegahan yang disarankan antara lain:
- Melindungi bagian perut dari benturan atau tekanan keras.
- Menghindari olahraga berat.
- Mengurangi aktivitas berlari dan melompat secara intensif.
- Menghindari latihan otot perut dengan intensitas tinggi.
- Tidak mengejan terlalu kuat saat buang air besar karena dapat meningkatkan tekanan di dalam rongga perut.
Dokter juga mengingatkan bahwa jika seorang wanita mengalami benturan pada perut selama paruh kedua siklus menstruasi, atau tiba-tiba merasakan nyeri hebat di bagian bawah perut yang disertai sensasi tekanan pada anus, pusing, jantung berdebar, maupun gejala lainnya, jangan sembarangan mengkonsumsi obat atau menahan rasa sakit.
Segera pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.





