Tekanan di pasar saham Indonesia diperkirakan masih berlanjut pada November di tengah ketidakpastian global, pelemahan rupiah, serta tingginya outflow asing.
IDXChannel – Tekanan di pasar saham Indonesia diperkirakan lanjut membayangi November di tengah ketidakpastian global, pelemahan rupiah, serta tingginya arus keluar dana (outflow) asing.
Investor pun disarankan lebih selektif dalam memilih saham dan tidak terburu-buru meningkatkan eksposur di tengah volatilitas pasar.
Dalam riset yang dirilis Phintraco Sekuritas pada 3 November 2026, IHSG tercatat turun 16,7 persen secara bulanan sepanjang Oktober dan melemah 41,52 persen sejak awal tahun.
Hingga akhir Oktober, investor asing juga membukukan net sell Rp126,2 triliun di pasar reguler.
Tekanan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, harga minyak yang tetap tinggi, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian terkait konsultasi MSCI mengenai kemungkinan perubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Meski demikian, kondisi pasar yang tertekan mulai membuka peluang bagi investor untuk mengakumulasi saham dengan valuasi menarik.
Fundamental korporasi domestik dinilai masih relatif bertahan, meskipun ketidakpastian dapat membatasi ruang pemulihan pasar.
Dalam kondisi tersebut, strategi yang disarankan adalah memanfaatkan peluang perdagangan jangka pendek dan melakukan akumulasi saham secara bertahap dengan alokasi modal yang terbatas.
Diversifikasi ke instrumen pasar uang dan surat berharga negara juga dinilai dapat membantu mengelola risiko portofolio.
“Kami merekomendasikan pendekatan investasi yang lebih selektif, dengan berfokus pada peluang perdagangan jangka pendek dan akumulasi bertahap pada saham dengan valuasi menarik, menggunakan alokasi modal terbatas,” tulis Phintraco.
Dari sisi global, Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan pada 3,75 persen-4,00 persen pada Oktober 2026, tetapi masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember di tengah tekanan inflasi.
Inflasi di Negeri Paman Sam meningkat, dengan inflasi konsumen mencapai 3,7 persen secara tahunan dan inflasi PCE sebesar 3,6 persen pada September 2026.
Tekanan inflasi turut dipengaruhi tingginya harga energi, dengan harga minyak mentah masih berada di atas USD100 per barel.
Sementara itu, ekonomi AS tumbuh lebih kuat dengan laju tahunan 3,4 persen pada kuartal III-2026, dibandingkan 2,2 persen pada kuartal sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang investasi swasta dan konsumsi rumah tangga yang tetap kuat.
Di kawasan lain, ECB dan Bank of Japan mempertahankan suku bunga, sedangkan ekonomi China tumbuh 4,5 persen secara tahunan pada kuartal III-2026.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan inflasi dan aktivitas ekonomi yang relatif kuat masih dapat menjaga kebijakan moneter global tetap ketat.
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate pada 5,75 persen pada Oktober 2026, sementara Deposit Facility Rate dinaikkan 25 basis poin menjadi 5,00 persen untuk mendukung stabilitas rupiah.
Namun, rupiah masih melemah hingga ditutup pada level Rp18.132 per USD pada akhir Oktober.
Inflasi domestik sedikit melandai menjadi 3,23 persen secara tahunan pada Oktober dari 3,28 persen pada September, tetapi inflasi pangan meningkat menjadi 4,82 persen akibat tekanan pasokan yang berkaitan dengan El Niño.
Di sisi lain, PMI manufaktur Indonesia menguat menjadi 54,0 pada Oktober, level tertinggi sejak Maret 2024. Neraca perdagangan juga masih mencatat surplus USD3,36 miliar pada September.
Untuk November 2026, sektor logam dan pertambangan, batu bara, CPO, serta pelayaran atau perkapalan menjadi sektor yang masuk dalam pilihan investasi menurut Phintraco. (Aldo Fernando)





