Lengan investasi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara yaitu PT Danantara Investment Management (DIM) mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari investasi di luar negeri hingga menyimpan asetnya dalam bentuk kas dan setara kas yang didominasi deposito berjangka.
Geliat kinerja perseroan selama empat bulan perdana 2026 terpantau dari prospektus penerbitan Global Medium Term Note DIM di Bursa Efek Singapura (SGX). Dari dokumen tersebut tercatat DIM membukukan laba bersih Rp 705,73 miliar atau US$ 40,61 juta per April 2026. Capaian ini naik dari laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp 116,33 miliar.
Torehan laba itu ditopang oleh total pendapatan sebesar Rp 1,10 triliun per April 2026. Pundi-pudni pendapatan berasal dari pendapatan bunga deposito sebesar Rp 2,12 triliun sebelum dikurangi beban pajak final atas bunga Rp 424,91 miliar.
Selain itu, posisi aset moneter likuid dalam mata uang dolar Amerika Serikat menyumbang keuntungan selisih kurs (gain on foreign exchange) sebesar Rp 306,03 miliar (US$ 17,61 juta) akibat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS selama periode tersebut.
Mengutip prospektus tersebut DIM menyatakan, portofolio investasinya terdiversifikasi berdasarkan wilayah geografis, sektor dan target imbal hasil. DIM bakal menempatkan investasi di dalam maupun luar negeri, mencakup Amerika Utara, Asia di luar Indonesia, Eropa, Timur Tengah dan Afrika Utara (Middle East and North Africa atau MENA) serta kawasan lainnya di dunia (Rest of the World atau RoW).
DIM menetapkan delapan sektor sebagai prioritas investasi, yaitu mineral, energi dan energi terbarukan, infrastruktur digital, layanan kesehatan, jasa keuangan, infrastruktur dan utilitas, kawasan industri dan properti serta pangan dan pertanian.
Manajemen DIM menyatakan sektor-sektor tersebut sejalan dengan prioritas pembangunan strategis Indonesia yang tertuang dalam Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045. DIM menyebut strategi investasinya di setiap sektor akan disesuaikan dengan mandat ganda yang diemban perseroan.
“Sejumlah investasi yang telah dan berpotensi kami lakukan berada di sektor energi dan energi terbarukan, real estat, serta pangan dan pertanian,” tulis DIM dalam dokumen Offering Memorandum, dikutip Selasa (3/11).
Optimalisasi AsetHingga 30 April 2026, total aset DIM mencapai Rp 140,03 triliun atau US$ 8,06 miliar. Sebagian besar aset tersebut masih ditempatkan pada kas dan setara kas senilai Rp 123,03 triliun, yang utamanya berupa deposito berjangka.
Penempatan dana tersebut didominasi oleh bank-bank milik negara atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Secara rinci, DIM menempatkan dana sebesar Rp 56,56 triliun di PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), Rp 36 triliun di PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan Rp 36 triliun di PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
Selain itu, terdapat penempatan deposito sebesar Rp 17,1 triliun di PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dan Rp 6 triliun di PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). DIM juga menempatkan deposito dalam dolar AS di Bank Mandiri dan BNI dengan nilai setara sekitar Rp 5 triliun.
Meski instrumen likuid masih mendominasi, DIM mulai meningkatkan alokasi dana ke aset investasi. Nilai aset investasi perseroan melonjak menjadi Rp 16,63 triliun per 30 April 2026, dibandingkan hanya Rp 30,01 miliar pada akhir Desember 2025.
Pertumbuhan aset DIM ditopang oleh sejumlah sumber pendanaan. Salah satunya berasal dari suntikan modal ekuitas (equity injection) sebesar Rp 70 triliun dari BPI Danantara pada 2025.
Selain itu, DIM menghimpun pendanaan melalui penerbitan obligasi swasta atau Patriot Bonds. Nilai penghimpunan dana dari instrumen utang jangka panjang tersebut mencapai Rp 68,38 triliun per Maret 2026.
DIM juga menerbitkan surat utang global melalui program Global Medium Term Note (GMTN). Pada Juni 2026, perseroan menerbitkan obligasi senilai US$ 1,5 miliar dengan peringkat investment grade, di bawah plafon program sebesar US$ 5 miliar.
Obligasi tersebut terbagi menjadi dua seri. Seri pertama senilai US$ 750 juta menawarkan kupon 5,35% dengan jatuh tempo pada 2031. Sementara itu, seri kedua senilai US$ 750 juta memiliki kupon 5,95% dan jatuh tempo pada 2036.
Strategi Investasi dan Ekspansi Luar Negeri DIMMenjalankan mandatnya, DIM menerapkan tiga pilar strategi utama. Pertama, mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menghasilkan imbal hasil melalui investasi di sektor-sektor strategis.
Kedua, menghasilkan imbal hasil berkelanjutan dan menyediakan likuiditas nasional melalui investasi pada berbagai kelas aset global. Ketiga, memperluas kapasitas investasi melalui kemitraan investasi bersama (co-investment partnerships) dan pendanaan utang untuk meningkatkan kemampuan alokasi modal.
DIM memanfaatkan jasa manajer investasi eksternal (external investment managers). Melalui pengelola investasi eksternal itu, DIM menyasar sederet instrumen, antara lain private equity dan real estate funds.
Sementara di dalam negeri, DIM memberikan investasi kepada sejumlah proyek strategis nasional dan sektor prioritas. Salah satunya melalui pembentukan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) sebagai perusahaan induk (holding) untuk mengembangkan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy (WtE).
Pada proyek tersebut, Denera menggandeng konsorsium dan penyedia teknologi internasional untuk mengembangkan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik.
DIM juga terlibat dalam proyek hilirisasi industri petrokimia. Bersama Indonesia Investment Authority (INA) dan Chandra Asri Group, DIM menandatangani Share Subscription Agreement (SSA) pada Maret 2026 untuk mendanai proyek Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC).
Sementara itu untuk jangka panjang, DIM merancang portofolio investasinya agar bergerak secara bertahap menuju target alokasi aset strategis 2030 (2030 Strategic Asset Allocation).
Dalam rancangan tersebut, DIM menetapkan lima kelompok alokasi aset. Cadangan likuiditas (liquidity reserves) ditargetkan sebesar 5% dari total portofolio.
Sementara itu, alokasi fleksibel (flexible allocation pool) ditetapkan pada kisaran 15% hingga 25%. Investasi publik (public investments) ditargetkan sebesar 20% hingga 40% sedangkan investasi privat (private investments) sebesar 20% hingga 45%.
Adapun investasi strategis (strategic investments) ditargetkan mencapai 10% hingga 20% dari total portofolio.




