CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Klub ini sudah 111 tahun, tetapi pekerjaan terpentingnya justru dimulai dari anak-anak yang usianya belum genap 20. Di usia yang sudah sepuh, PSM Makassar memilih menanam benih, bukan sekadar merawat kenangan.
Benih-benih itu kini berlarian di lapangan latihan di Makassar, mengejar bola dengan sepatu yang mungkin belum sepenuhnya pas di kaki.
Sebagian datang dari kota, sebagian lain menempuh perjalanan jauh dari kabupaten-kabupaten di Sulawesi. Mereka membawa mimpi yang sama, suatu hari mengenakan jersey merah milik Juku Eja.
Bagi PSM, pemandangan ini bukan sekadar nostalgia. Sepanjang sejarahnya, klub ini menyimpan deretan prestasi dan kenangan yang membanggakan.
Namun di balik perjalanan panjang itu, ada pekerjaan besar yang tak pernah selesai yaitu menyiapkan generasi penerus.
Di tengah persaingan sepak bola modern yang kian ketat, akademi tak lagi sekadar pelengkap. Ia adalah fondasi, tempat bakat diasah sebelum akhirnya tampil di panggung utama.
PSM sadar betul akan hal itu. Sulawesi Selatan dan kawasan Indonesia Timur selama ini dikenal sebagai lumbung talenta sepak bola. Yang dibutuhkan adalah pembinaan terstruktur agar potensi itu tidak berhenti sebagai bakat mentah.
Karena itu, Akademi PSM kembali diaktifkan di Makassar. Jaring pencarian bakat pun dilebarkan ke berbagai penjuru Pulau Sulawesi, menjangkau anak-anak yang selama ini mungkin luput dari perhatian.
Hasilnya mulai terlihat. Hingga Juli 2026, sebanyak 1.476 anak telah terdata lewat proses talent identification di 11 kabupaten dan kota. Dari angka itu, 153 pemain terpilih untuk menjalani pembinaan di tiga kelompok usia.
Rinciannya, 53 pemain memperkuat PSM U-16, 51 pemain masuk PSM U-18, dan 39 pemain lolos ke PSM U-20 yang akan berlaga di Elite Pro Academy (EPA) One 2026/27. Bagi mereka, seleksi ini bukan akhir perjuangan, melainkan baru pintu pertama.
Regenerasi pemain tak bisa dilakukan secara instan. Ada teknik yang harus diasah berulang-ulang, pemahaman taktik yang tumbuh perlahan, kondisi fisik yang dibangun tahap demi tahap, juga mental dan karakter yang ditempa lewat kemenangan, kekalahan, dan latihan yang melelahkan. Semua itu membutuhkan waktu, kesabaran, dan konsistensi.
Kabar baiknya, jalan dari akademi menuju tim senior kini mulai terlihat nyata. Tiga pemain muda, yakni Kaka Amrullah Ronaldo Messi, Jonathan Kawalo, dan Riski Aditya, dipromosikan ke skuad utama untuk menghadapi Super League 2026/27.
Nama-nama itu menjadi bukti bahwa pintu tersebut benar-benar ada. Bagi ratusan anak lain yang masih berlatih di kelompok usia, kesempatan ini bisa menjadi bahan bakar semangat untuk terus berkembang.
Di usia 111 tahun, harapan pada pembinaan pemain lokal terasa semakin relevan. PSM tidak hanya butuh pemain untuk mengisi daftar skuad, tetapi juga talenta yang mampu menjadi wajah kualitas sepak bola Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur.
Sebab, warisan terbesar sebuah klub tak selalu berbentuk piala yang tersimpan di lemari kaca. Kemampuan melahirkan generasi baru yang siap meneruskan perjuangan para pendahulunya juga merupakan ukuran keberhasilan.
Jika pembinaan ini dijaga konsisten, bukan mustahil suatu hari nanti PSM kembali memiliki sosok yang mampu menapaki jejak legenda seperti Ramang, striker legendaris yang namanya abadi dalam sejarah sepak bola Indonesia. Sebuah mimpi yang kini sedang ditanam, dan menjadi bagian dari perjalanan panjang Juku Eja.




