Oleh Shoba Rajamani
Di dunia yang semakin terhubung secara digital dan terus mendorong kita untuk meraih lebih banyak prestasi, memperoleh lebih banyak penghasilan, serta menjadi pribadi yang lebih baik, bersyukur dengan mudah tersisih ke latar belakang.
Kita begitu terfokus pada apa yang kita “butuhkan” sehingga sering kali mengabaikan apa yang sebenarnya sudah kita miliki. Rasa syukur, yang dahulu terjalin erat dalam kehidupan sehari-hari, tampaknya perlahan-lahan mulai menghilang dari rutinitas kita.
Paradoks kelimpahanKehidupan modern menyuguhkan beragam pilihan peningkatan kualitas hidup yang begitu menggoda. Kita mengejar jabatan yang lebih tinggi, tren fesyen terbaru, dan koneksi internet yang lebih cepat. Namun, di balik tampilan kehidupan yang seolah menawarkan kemungkinan tanpa batas ini, kepuasan tetap sulit diraih. Kita terus dihantui perasaan bahwa ada sesuatu yang masih kurang.
Kita telah berkembang menjadi masyarakat yang terus-menerus bersaing tanpa henti. Kita mengukur kehidupan nyata kita yang penuh ketidaksempurnaan dengan pencapaian rekan kerja serta berbagai momen terbaik yang ditampilkan secara selektif di media sosial.
Meskipun membandingkan diri dengan orang lain dapat mendorong kita untuk berkembang dan mengejar tujuan-tujuan yang baik, hal itu menjadi masalah ketika kita mengukur kebahagiaan berdasarkan pencapaian orang lain.
Kita kehilangan pandangan terhadap nilai kemajuan yang telah kita raih sendiri dan justru terjebak dalam perasaan tidak mampu yang semakin membebani. Diliputi kekecewaan, kita gagal menghargai pencapaian pribadi dan malah berfokus pada hal-hal yang masih berada di luar jangkauan.
Bersyukur menawarkan sudut pandang yang berbeda. Bersyukur tidak meminta kita meninggalkan ambisi atau berhenti berusaha meraih masa depan yang lebih baik. Sebaliknya, bersyukur mengingatkan kita untuk mengenali nilai dari apa yang kita miliki saat ini, sembari tetap berusaha mencapai tujuan.
Ada perbedaan yang sangat besar antara menginginkan lebih banyak hal dalam hidup dan meyakini bahwa apa yang kita miliki saat ini pada dasarnya tidaklah cukup.
Menilai kembali hal-hal sederhanaBersyukur dapat dimulai dari berbagai hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Pikirkan orang yang membuatkan kopi untuk Anda, anggota keluarga yang memastikan Anda tiba di rumah dengan selamat, atau orang asing yang membukakan pintu untuk Anda.
Tindakan-tindakan sederhana tersebut mengandung kebaikan kecil yang memiliki makna besar.
Pertimbangkan pula kenyamanan yang kita peroleh dari air minum bersih, tempat tidur yang aman, hidangan yang dinikmati bersama orang-orang terkasih, atau hangatnya sinar matahari pada suatu hari di musim gugur.
Sama seperti penyakit yang membuat kita lebih menghargai kesehatan, kita sering kali baru menyadari nilai berbagai hal tersebut ketika semuanya sudah tidak ada.
Rasa syukur dimulai ketika kita menyadari pentingnya hal-hal sederhana sebelum keadaan memaksa kita untuk menyadarinya.
Bersyukur lebih dari sekadar mengucapkan “terima kasih”Kita sering mengaitkan bersyukur dengan sopan santun. Kita mengucapkan terima kasih ketika seseorang membantu, memberikan hadiah, atau melakukan sesuatu yang baik kepada kita.
Namun, bersyukur yang sesungguhnya melampaui sekadar kata-kata sopan. Bersyukur mencakup pengakuan terhadap pemikiran, usaha, dan kebaikan yang melatarbelakangi suatu tindakan.
Bersyukur mengubah cara kita memandang dunia di sekitar. Alih-alih menganggap kebaikan orang lain sebagai sesuatu yang memang sudah menjadi hak kita, kita belajar menghargai nilainya.
Kesadaran ini dapat membuat kita menjadi pribadi yang lebih peduli terhadap orang lain.
Ketika menyadari berbagai upaya yang dilakukan orang lain demi kepentingan kita, kita menjadi lebih memperhatikan bagaimana tindakan kita sendiri memengaruhi mereka.
Dengan cara ini, bersyukur dapat diteruskan dari satu orang kepada orang lain dan secara perlahan menciptakan budaya kebaikan.
Bersyukur ibarat perekat hubungan antarmanusiaHubungan antarmanusia dipertahankan melalui tindakan-tindakan kecil yang berulang, yang menunjukkan kepedulian dan perhatian.
Namun, kedekatan yang terlalu akrab terkadang membuat kita lengah. Kita berterima kasih kepada orang asing atas bantuan kecil yang diberikan, tetapi lupa mengapresiasi orang yang setiap hari mendukung kita.
Kita mungkin beranggapan bahwa orang-orang terkasih sudah mengetahui betapa berartinya mereka bagi kita. Namun, penghargaan yang tidak pernah diungkapkan dengan mudah disalahartikan sebagai tidak adanya penghargaan sama sekali.
Penelitian ilmiah memberikan pemahaman lebih jauh mengenai hubungan ini.
Penelitian psikolog Sara Algoe, yang mendalami hubungan antarmanusia, menunjukkan bahwa rasa syukur dapat membantu memperkuat hubungan dengan mengarahkan perhatian kita kepada orang-orang yang peduli terhadap kita serta mendorong pasangan untuk lebih tanggap satu sama lain.
Dalam sebuah penelitian, pasangan yang merasakan syukur selama interaksi sehari-hari melaporkan adanya hubungan yang lebih erat dan kepuasan yang lebih tinggi dalam hubungan mereka pada hari berikutnya.
Bersyukur juga mendorong kita untuk melihat melampaui kekurangan orang lain. Hal ini bukan berarti kita harus mengabaikan perilaku yang menyakitkan atau menerima perlakuan tidak adil.
Sebaliknya, bersyukur memungkinkan kita mengenali hal-hal baik dalam suatu hubungan sembari tetap bersikap jujur terhadap berbagai kesulitan yang ada di dalamnya.
Terkadang, cara paling sederhana untuk memperkuat suatu ikatan adalah dengan berhenti beranggapan bahwa orang lain sudah mengetahui bahwa mereka dihargai, lalu mengungkapkannya secara langsung.
Bagaimana Bersyukur meringankan penderitaanBersyukur bukan berarti harus selalu merasa gembira. Kehidupan mencakup kekecewaan, kesedihan mendalam, ketidakpastian, dan kesulitan.
Di tengah penderitaan, seseorang mungkin kesulitan menemukan sesuatu yang positif dalam pengalaman menyakitkan yang sedang dialaminya. Namun, rasa syukur menunjukkan bahwa kesulitan dan momen-momen bermakna dapat hadir secara bersamaan.
Seseorang yang sedang melewati masa sulit tetap dapat menemukan penghiburan melalui dukungan seorang teman, momen ketenangan, atau kesadaran bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa praktik bersyukur dapat mendukung kesejahteraan emosional. Sebagai contoh, membuat jurnal rasa syukur dapat membantu seseorang lebih memperhatikan pengalaman-pengalaman positif yang mungkin sebelumnya terlewatkan.
Penelitian ilmiah juga memberikan petunjuk mengenai bagaimana rasa syukur dapat memengaruhi otak dan tubuh.
Studi pencitraan otak menunjukkan bahwa ketika seseorang secara sadar mengingat dan mengungkapkan rasa terima kasih, aktivitas tersebut merangsang bagian-bagian otak yang berkaitan dengan pemahaman sosial, sistem penghargaan, dan penalaran moral. Pada saat yang sama, aktivitas tersebut mengurangi perhatian terhadap perbandingan negatif dan mendorong perilaku prososial, yaitu perilaku yang bertujuan memberikan manfaat bagi orang lain.
Sejumlah penelitian melaporkan adanya peningkatan dalam tingkat suasana hati, kualitas tidur, dan persepsi terhadap stres dalam skala tertentu pada orang-orang yang secara rutin mempraktikkan rasa syukur.
Nilai rasa syukur mungkin sebagian terletak pada kemampuannya mengarahkan kembali perhatian kita. Kita tidak selalu dapat mengendalikan apa yang terjadi pada diri kita, tetapi terkadang kita dapat mengubah hal-hal yang kita pilih untuk diperhatikan dan hargai.
Kebahagiaan tidak datang ketika keadaan hidup kita menjadi sempurna, melainkan ketika kita belajar mengenali kebaikan yang sudah ada dalam kehidupan yang tidak sempurna.
Memberi ruang bagi BersyukurBersyukur sebenarnya masih berada dalam jangkauan kita. Hanya saja, bersyukur telah tersisih oleh hiruk-pikuk dunia yang terus-menerus menuntut perhatian.
Pada akhirnya, pengalaman hidup yang paling bermakna tidak bergantung pada kekayaan atau status sosial.
Berbagai pencapaian yang dahulu tampak sangat penting bisa saja kehilangan maknanya. Sebaliknya, sebuah pelukan yang menenangkan, kisah-kisah dari kakek atau nenek, atau momen tenang di tengah alam dapat meninggalkan kesan yang mendalam dan bertahan lama.
Bersyukur tidak membutuhkan pernyataan besar atau ritual yang rumit. Pengakuan sederhana dan penuh ketulusan terhadap berbagai anugerah dalam kehidupan sehari-hari justru jauh lebih bermakna.
Kita tidak dapat mempertahankan setiap momen, mencegah setiap kehilangan, atau menjamin apa yang akan terjadi esok hari. Namun, kita dapat belajar menghargai apa yang ada dalam kehidupan kita hari ini.
Sumber ; Visiontimes.com
Shoba tinggal di Bangalore. Ia menggambarkan dirinya sebagai sosok kreatif dan petualang, menyukai film, gemar membaca novel, serta bermain bulu tangkis. Ia bercita-cita suatu hari nanti dapat menulis buku anak-anak karyanya sendiri.





