JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia pada Selasa sore ditutup melemah. Pergerakan tersebut mengikuti bursa kawasan Asia seiring para investor bersikap untuk mengurangi eksposur ke aset berisiko.
Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 192,54 poin atau 3,78 persen ke posisi 4.904,29. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 20,62 poin atau 3,98 persen ke posisi 497,27.
Baca Juga
KSSK Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 Jadi 5,4 Persen
Ekspor Lebih Tinggi dari Impor, Neraca Perdagangan RI Surplus 3,36 Miliar Dolar AS
“IHSG dan bursa regional Asia melemah menyusul pelemahan di Wall Street, penurunan saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan tetap berada di bawah tekanan jual seiring kekhawatiran atas pengeluaran AI yang besar dan pengembalian yang tidak pasti terus membebani,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Selasa. Para pelaku pasar global terus memantau perkembangan ekonomi tersebut secara saksama.
Dari mancanegara, Nico mengatakan para pelaku pasar tetap berhati-hati menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat. Sementara itu, penurunan harga minyak di tengah tanda-tanda kemajuan diplomatik antara AS dan Iran tidak banyak memperbaiki sentimen pasar secara keseluruhan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Nico menyebut para pelaku pasar akan mengamati dengan cermat pemilihan paruh waktu Amerika Serikat. Pemerintah dan partai politik di sana menghadapi tekanan politik yang meningkat atas tingginya biaya energi yang memicu inflasi serta mendorong bank sentral menaikkan suku bunga.
Sementara itu, harga minyak mentah dan Brent diperdagangkan di sekitar 96 dolar AS dan 104 dolar AS per barel pada Selasa (3/11/2026). Angka tersebut tercatat setelah harga turun sekitar 7 persen pada sesi sebelumnya karena tanda-tanda kemajuan diplomatik antara AS dan Iran meredakan kekhawatiran gangguan pasokan.
"Para pemimpin dari kedua belah pihak mengisyaratkan untuk melanjutkan negosiasi perdamaian. Tanda-tanda kemajuan diplomatik antara AS dan Iran meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan lebih lanjut," ujar Nico. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya upaya diplomasi yang intensif di tingkat internasional.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan pemerintahannya telah menerima wewenang yang lebih besar dari pemimpin tertinggi negara itu untuk negosiasi perdamaian. Langkah tersebut diharapkan dapat meredakan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Dari dalam negeri, indeks melemah karena sentimen inflasi pangan Oktober 2026 yang mencapai level kenaikan dari 5,03 persen ke level 5,81 persen. Kondisi tersebut membuktikan bahwa gangguan pasokan pangan akibat anomali iklim El Nino belum sepenuhnya mereda.
Sementara itu, inflasi inti pada Oktober 2026 tercatat sebesar 2,56 persen secara tahunan atau lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 2,84 persen. Data Badan Pusat Statistik ini menjadi acuan penting bagi otoritas moneter.
“Penurunan inflasi inti dapat melonggarkan tekanan bagi bank sentral,” ujar Nico. Pelonggaran tersebut dinilai dapat memberikan ruang bagi kebijakan suku bunga yang lebih akomodatif.