Jakarta, CNBC Indonesia - Kemenangan Luiz Inácio Lula da Silva pada pemilihan presiden Brasil 2026 tak terjadi begitu saja. Di balik hasil tersebut terdapat strategi baru yang diciptakan oleh anggota parlemen André Janones - sebuah metode perang informasi terkoordinasi yang kini dikenal sebagai "Janonisme".
Metode ini mengubah cara pendukung bergerak di media sosial, membanjiri ruang maya, dan akhirnya mengimbangi kekuatan lawan yang selama ini mendominasi dunia digital, dikutip Selasa (3/11/2026).
Metode ini lahir setelah hasil putaran pertama yang mengecewakan para pendukung Lula. Para pendukung menyadari bahwa media sosial tidak lagi sekadar tempat berbagi kabar, tetapi medan pertempuran utama. Algoritma cenderung memperkuat apa yang sudah populer dan pihak sayap kanan selama ini memanfaatkannya dengan sangat efektif, memicu perpecahan serta menyebarkan narasi yang menguntungkan mereka.
Pertumbuhan pesat Lula's Army di antara dua putaran pemilihan menjadi sorotan karena dianggap berhasil membalikkan ketimpangan kekuatan politik di dunia digital Brasil.
Selama bertahun-tahun, kelompok konservatif yang bersekutu dengan mantan Presiden Jair Bolsonaro dinilai mendominasi mobilisasi politik daring, terutama melalui platform seperti WhatsApp dan Telegram.
Kemunculan Lula's Army membuat banyak pendukung yakin bahwa kelompok kiri Brasil akhirnya menemukan cara untuk bersaing di arena digital.
Perubahan ini cukup signifikan mengingat media sosial telah memainkan peran penting dalam politik Brasil sejak kemenangan Jair Bolsonaro pada 2018, ketika jaringan WhatsApp menjadi salah satu ciri utama kampanye politik.
Lula's Army kemudian menyebarkan manual cara berkampanye lewat media sosial. Berikut beberapa ini dari resep tersebut:
- Pertama, perkuat sisi sendiri. Setiap unggahan dari pihak pendukung harus disukai, dibagikan, disimpan, dan ditonton hingga selesai oleh sebanyak mungkin akun. Tujuannya bukan sekadar memuji, melainkan memberi sinyal kepada algoritma agar konten tersebut disebarkan lebih luas. Makin banyak interaksi serentak, makin besar jangkauan yang didapat.
- Kedua, jangan pernah merespons pihak lain. Ini aturan paling penting. Membalas, mengejek, atau sekadar membaca unggahan pihak lawan justru memberi makan konten mereka. Algoritma tidak membedakan pujian atau makian, setiap perhatian berarti jangkauan yang lebih luas. Jika melihat unggahan lawan, langsung lewati tanpa tersentuh. Memblokir akun pun tidak disarankan karena sistem menganggap konten itu tidak muncul, bukan diabaikan. Mengabaikan adalah kunci.
- Ketiga, pantau terus topik yang sedang naik, tagar yang menyebar, serta liputan media arus utama.
- Keempat, pusatkan pesan. Gunakan tagar, gambar, dan video yang sama secara serentak pada waktu yang sama. Jangan menyebar ke terlalu banyak arah sekaligus. Ribuan orang melakukan hal yang sama di saat yang sama menciptakan gelombang yang tidak dapat diabaikan oleh sistem.
- Kelima, tampilkan wajah nyata. Jangan sembunyi di balik akun anonim. Tampilkan dukungan secara terbuka dari akun pribadi dengan foto, spanduk, tanda pengenal. Dukungan dari orang yang dikenal di lingkungannya jauh lebih berpengaruh daripada akun yang tak diketahui pemiliknya.
- Keenam, buat konten yang bisa populer. Musik, komedi, olahraga, budaya populer atau hal-hal yang biasanya tidak terlihat seperti kampanye justru paling mudah menyebar ke kalangan yang belum memutuskan pilihan.
- Ketujuh, manfaatkan kecerdasan buatan. Gambar dan video buatan AI memungkinkan siapa saja menghasilkan materi dalam jumlah besar dengan cepat. Ciptakan variasi tampilan agar tidak terlihat seragam, dan sesuaikan gaya dengan selera kelompok yang dituju.




