Investor Asing Masih Minati SBN, Net Buy Tembus Rp28,79 Triliun di Kuartal III 2026

idxchannel.com
18 jam lalu
Cover Berita

Pembelian bersih (net buy) investor nonresiden pada kuartal III 2026 mencatatkan nilai Rp28,79 triliun.

Investor Asing Masih Minati SBN, Net Buy Tembus Rp28,79 Triliun di Kuartal III 2026. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengungkapkan bahwa investor asing masih menunjukkan minat yang relatif tinggi terhadap Surat Berharga Negara (SBN). Pembelian bersih (net buy) investor nonresiden pada kuartal III 2026 mencatatkan nilai Rp28,79 triliun.

"Pasar SBN cukup resilien di tengah volatilitas pasar keuangan global pada triwulan III 2026, kepercayaan investor global terhadap SBN domestik masih relatif tinggi di mana investor nonresiden mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp28,79 triliun,” kata Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam Konferensi Pers KSSK di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Baca Juga:
Yield SBN Tembus 7,7 Persen, Suahasil Pastikan Pembiayaan APBN Tetap Kredibel

Sejalan dengan aksi beli tersebut, porsi kepemilikan SBN oleh investor nonresiden mengalami peningkatan sebesar 3,28 persen dibandingkan dengan posisi pada akhir 2025.

Daya tahan pasar SBN nasional juga tercermin dari selisih imbal hasil (yield spread) antara SBN seri acuan (benchmark) tenor 10 tahun dan surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury/UST) dengan tenor serupa. 

Baca Juga:
Jaga Rupiah dan Likuiditas, BI Borong SBN Rp135 Triliun hingga Oktober 2026

Pada kuartal III-2026, yield spread kedua instrumen berada di level 183 basis poin (bps), atau melandai tipis dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebesar 184 bps.

"Kinerja yang cukup positif ini berhasil dicatatkan di tengah lingkungan suku bunga global yang sedang tinggi," ujar Suahasil.

Baca Juga:
Rupiah Melemah Tembus Rp18.180 per USD, BI Stabilisasi Lewat NDF hingga Beli SBN

Capaian positif pasar SBN tersebut berlangsung di tengah tingginya tantangan ekonomi global, terutama eskalasi konflik geopolitik serta kecenderungan kebijakan moneter ketat di negara-negara maju. 

KSSK menyoroti lonjakan harga energi dunia akibat dinamika di Timur Tengah, serta tingginya yield US Treasury yang didorong oleh ekspektasi suku bunga dan besarnya defisit anggaran AS.

Faktor-faktor eksternal tersebut berpotensi menahan laju aliran modal asing ke negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, mengingat preferensi investor global yang cenderung terbatas terhadap aset berisiko.

“Perkembangan ini akan terus kami pantau dan kami mitigasi dampaknya,” kata Suahasil.

KSSK juga mencatat meningkatnya tekanan terhadap pasar keuangan domestik saat memasuki Oktober 2026. Pelemahan nilai tukar rupiah serta fluktuasi di pasar saham diiringi oleh peningkatan arus modal keluar (capital outflow) dari bursa saham.

Meski demikian, KSSK meyakini bahwa solidnya fundamental ekonomi Indonesia serta bauran kebijakan yang adaptif masih mampu memelihara stabilitas sistem keuangan nasional. 

Ke depan, KSSK berkomitmen terus mempertajam koordinasi lintas otoritas guna memitigasi dampak risiko global terhadap pasar keuangan domestik.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Video: LSP Jadi Tersangka Penyadapan Prabowo, Yusril: Ada Bukti Kuat
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Trump Ancam Hancurkan Fasilitas Nuklir Iran dalam 10 Menit! Timur Tengah Terancam Perang Baru? 
• 7 jam laluerabaru.net
thumb
Barca Bantai Villa, Flick Ungkap Resep Sukses Blaugrana
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
Perkuat Pembinaan Asrama, 58 Siswa Athirah Bone Resmi Dilantik Jadi Pengurus GAMAIS
• 19 jam laluharianfajar
thumb
Pernyataan Lengkap Kabareskrim soal Listyo Sigit Jadi Tersangka Penyadapan Prabowo
• 9 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.