Jakarta (ANTARA) - Beragam specialty coffee Indonesia yang dibawa oleh Cademo Coffee dan Rayanna Roast dari Belanda serta Meramanis Coffee dari Jerman berhasil memikat pengunjung Swiss Coffee Festival (SCF) 2026.
Keikutsertaan Indonesia untuk keempat kalinya dalam festival kopi tahunan dan paling bergengsi di Swiss itu merupakan upaya KBRI Bern bersama Atase Perdagangan di Jenewa untuk terus mendorong promosi produk unggulan Indonesia.
“Kita ingin mempertahankan momentum peningkatan ekspor kopi Indonesia untuk terus menjadi pemain utama specialty coffee di Swiss,” kata Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya dalam keterangan tertulis KBRI Bern, Selasa.
“Kami meminta para petani kopi dan pelaku usaha kopi Indonesia untuk terus mempertahankan originalitas dan sustainability kopinya,” ujar Dubes Ngurah, menambahkan.
KBRI mencatat peningkatan signifikan ekspor kopi Indonesia ke Swiss dalam 10 tahun terakhir, dengan nilai tertinggi mencapai sekitar 32 juta dolar AS pada 2025.
Swiss Coffee Festival menjadi platform strategis untuk mempromosikan specialty coffee Indonesia kepada konsumen, pelaku industri, serta calon mitra bisnis di Swiss dan Eropa.
Dengan melibatkan pelaku usaha yang telah memiliki jaringan distribusi dan akses pasar di Eropa, partisipasi Indonesia kali ini tidak hanya diarahkan pada peningkatan visibilitas produk, tetapi juga pada pengembangan hubungan bisnis yang berkelanjutan.
Para exhibitor yang digaet KBRI Bern kali ini bukan pemain baru dalam dunia kopi Eropa.
Mereka memiliki pengalaman mengimpor kopi Indonesia ke Eropa serta telah berhasil menjalankan bisnis warung kopi Indonesia di Belanda dan Jerman.
Nozky Danit dari Meramanis Coffee, yang memiliki warung kopi di Kota Cologne, Jerman, menyampaikan bahwa specialty coffee Indonesia semakin dikenal dan diterima baik oleh masyarakat Eropa, khususnya di Jerman.
Melalui kegiatan ini, para pengunjung mendapat kesempatan untuk mencoba berbagai jenis kopi mulai dari kopi Sumatera, Jawa, Bali, hingga Flores.
Kopi jenis arabika honey dari Jawa Barat dan Liberika menjadi primadona selama dua hari pelaksanaan festival pada 31 Oktober-1 November 2026.
Banyak pengunjung tertarik dengan cita rasa kopi Indonesia yang unik, khususnya liberika yang sangat jarang ditemui di pasar kopi Swiss.
Indonesia berpartisipasi dalam Swiss Coffee Festival (SCF) yang diselenggarakan di Zurich, pada 31 Oktober-1 November 2026. (ANTARA/HO-KBRI Bern)
Indonesia juga satu-satunya yang menghadirkan kopi arabika yang diproses melalui metode honey anaerobe yang cukup diminati pengunjung karena rasanya yang fruity dan light, dan cenderung cocok untuk banyak kalangan.
Baca juga: Kemendag: TEI momentum perkuat merek kopi Indonesia di pasar global
Keterlibatan Indonesia di dalam SCF selain menjadi momentum untuk memperkuat posisi specialty coffee Nusantara sebagai salah satu produk unggulan Indonesia di pasar internasional, juga sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan mitra bisnis di Swiss maupun negara-negara Eropa lainnya.
Ketiga exhibitor, baik Meramanis, Cademo, maupun Rayyana berhasil menjaring mitra-mitra baru yang tertarik dengan produk kopi mereka sebagai potential buyer.
Nozky, contohnya, telah menerima permintaan untuk 10 ton kopi jenis decaf dan 300 kilogram biji kopi robusta.
Sementara itu, Rayyana menerima permintaan untuk arabika honey dari Jawa Barat dan Cademo menerima permintaan untuk kintamani klasik.
Menurut mereka, kegiatan promosi seperti ini membantu mendorong pengenalan produk kopi Indonesia ke masyarakat luas dan peningkatan nilai ekspor kopi Indonesia secara umum.
Indonesia juga turut menghadirkan tujuh sampel produk kopi dari para pengusaha UMKM yakni PT Lamas Coffee Indonesia, CV Federico, PT Iceh Agro, PT Kopinang Indische Koffie, Kiyogura Mangun Karsa, Doa Coffee, dan PT Triputra Nusa Jaya.
Produk yang dihadirkan mulai dari green bean, roasted coffee, hingga kopi bubuk, turut memperkaya representasi karakter dan cita rasa kopi Nusantara.
Termasuk salah satunya adalah kopi excelsa dari Lamas Coffee, produk kopi langka dan menjadi satu-satunya yang hadir di festival kali ini.
Baca juga: Wamenko Perekonomian apresiasi kopi Banjarbaru di TEI 2026
Keikutsertaan Indonesia untuk keempat kalinya dalam festival kopi tahunan dan paling bergengsi di Swiss itu merupakan upaya KBRI Bern bersama Atase Perdagangan di Jenewa untuk terus mendorong promosi produk unggulan Indonesia.
“Kita ingin mempertahankan momentum peningkatan ekspor kopi Indonesia untuk terus menjadi pemain utama specialty coffee di Swiss,” kata Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya dalam keterangan tertulis KBRI Bern, Selasa.
“Kami meminta para petani kopi dan pelaku usaha kopi Indonesia untuk terus mempertahankan originalitas dan sustainability kopinya,” ujar Dubes Ngurah, menambahkan.
KBRI mencatat peningkatan signifikan ekspor kopi Indonesia ke Swiss dalam 10 tahun terakhir, dengan nilai tertinggi mencapai sekitar 32 juta dolar AS pada 2025.
Swiss Coffee Festival menjadi platform strategis untuk mempromosikan specialty coffee Indonesia kepada konsumen, pelaku industri, serta calon mitra bisnis di Swiss dan Eropa.
Dengan melibatkan pelaku usaha yang telah memiliki jaringan distribusi dan akses pasar di Eropa, partisipasi Indonesia kali ini tidak hanya diarahkan pada peningkatan visibilitas produk, tetapi juga pada pengembangan hubungan bisnis yang berkelanjutan.
Para exhibitor yang digaet KBRI Bern kali ini bukan pemain baru dalam dunia kopi Eropa.
Mereka memiliki pengalaman mengimpor kopi Indonesia ke Eropa serta telah berhasil menjalankan bisnis warung kopi Indonesia di Belanda dan Jerman.
Nozky Danit dari Meramanis Coffee, yang memiliki warung kopi di Kota Cologne, Jerman, menyampaikan bahwa specialty coffee Indonesia semakin dikenal dan diterima baik oleh masyarakat Eropa, khususnya di Jerman.
Melalui kegiatan ini, para pengunjung mendapat kesempatan untuk mencoba berbagai jenis kopi mulai dari kopi Sumatera, Jawa, Bali, hingga Flores.
Kopi jenis arabika honey dari Jawa Barat dan Liberika menjadi primadona selama dua hari pelaksanaan festival pada 31 Oktober-1 November 2026.
Banyak pengunjung tertarik dengan cita rasa kopi Indonesia yang unik, khususnya liberika yang sangat jarang ditemui di pasar kopi Swiss.
Indonesia berpartisipasi dalam Swiss Coffee Festival (SCF) yang diselenggarakan di Zurich, pada 31 Oktober-1 November 2026. (ANTARA/HO-KBRI Bern)
Indonesia juga satu-satunya yang menghadirkan kopi arabika yang diproses melalui metode honey anaerobe yang cukup diminati pengunjung karena rasanya yang fruity dan light, dan cenderung cocok untuk banyak kalangan.
Baca juga: Kemendag: TEI momentum perkuat merek kopi Indonesia di pasar global
Keterlibatan Indonesia di dalam SCF selain menjadi momentum untuk memperkuat posisi specialty coffee Nusantara sebagai salah satu produk unggulan Indonesia di pasar internasional, juga sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan mitra bisnis di Swiss maupun negara-negara Eropa lainnya.
Ketiga exhibitor, baik Meramanis, Cademo, maupun Rayyana berhasil menjaring mitra-mitra baru yang tertarik dengan produk kopi mereka sebagai potential buyer.
Nozky, contohnya, telah menerima permintaan untuk 10 ton kopi jenis decaf dan 300 kilogram biji kopi robusta.
Sementara itu, Rayyana menerima permintaan untuk arabika honey dari Jawa Barat dan Cademo menerima permintaan untuk kintamani klasik.
Menurut mereka, kegiatan promosi seperti ini membantu mendorong pengenalan produk kopi Indonesia ke masyarakat luas dan peningkatan nilai ekspor kopi Indonesia secara umum.
Indonesia juga turut menghadirkan tujuh sampel produk kopi dari para pengusaha UMKM yakni PT Lamas Coffee Indonesia, CV Federico, PT Iceh Agro, PT Kopinang Indische Koffie, Kiyogura Mangun Karsa, Doa Coffee, dan PT Triputra Nusa Jaya.
Produk yang dihadirkan mulai dari green bean, roasted coffee, hingga kopi bubuk, turut memperkaya representasi karakter dan cita rasa kopi Nusantara.
Termasuk salah satunya adalah kopi excelsa dari Lamas Coffee, produk kopi langka dan menjadi satu-satunya yang hadir di festival kali ini.
Baca juga: Wamenko Perekonomian apresiasi kopi Banjarbaru di TEI 2026





