JAKARTA, KOMPAS — Transjakarta Care hadir untuk memperluas akses transportasi publik bagi penyandang disabilitas atau difabel. Layanan berupa minibus ini menyediakan penjemputan dan pengantaran untuk difabel ke halte serta fasilitas publik. Namun, kualitasnya dinilai masih perlu dibenahi.
Sejumlah penumpang mengeluhkan beberapa hal seperti sedikitnya armada, bangku yang tidak nyaman, hingga tiadanya ramp atau bidang landai untuk pengguna kursi roda.
Permasalahan itu dialami Marsita (44). Ia beberapa kali tidak kebagian kuota penumpang saat memesan Transjakarta Care lewat telpon. Hal ini terjadi lantaran terbatasnya armada yang tersedia, yakni 20 unit.
Supaya tetap bisa berpergian, Marsita terpaksa memesan taksi daring. Hanya saja, biaya yang dikeluarkan menjadi lebih besar. Pelayanan pengemudinya pun tak sebaik petugas Transjakarta Care.
”Kalau Transjakarta Care itu kan sudah tugasnya (mengampu difabel). Sudah terlatih,” ujar Marsita.
Demi mendapatkan layanan Transjakarta Care, Marsita harus lebih cepat memesan dibanding difabel lain. Alhasil, ia terpaksa mendaftar sebagai penumpang lewat telepon pada tengah malam. ”Padahal, kita sering lupa (memesan lebih awal). Sementara itu, kita butuh layanan tersebut,” katanya.
Tak hanya itu, interior armada Transjakarta Care pun masih kurang nyaman. Sebagai penyandang poliomielitis (virus yang menyerang saraf), Marsita membutuhkan kursi yang empuk. Jika kursi terlalu keras, ia bisa kesakitan. ”Ibaratnya, joknya itu kayak jok angkot,” katanya
Selain Marsita, ketidaknyamanan saat menaiki Transjakarta Care juga dialami Fahmi Ade Farhan (28), seorang pengguna kursi roda. Ia pernah mendapatkan armada yang tak dilengkapi ramp. Tanpa jalur itu, ia akan kesulitan naik dan turun dari kendaran.
”Terpaksa saya batalkan,” ujar Fahmi.
Oleh karena itu, Fahmi berharap, semua armada semestinya dilengkapi dengan ramp. ”Penyandang disabilitas dengan kursi roda itu banyak, sehigga ramp (di armada) sangat diperlukan,” katanya.
Kendati begitu, Fahmi tetap mengapresiasi kehadiran Transjakarta Care. Baginya, layanan antar-jemput itu memudahkan difabel pergi ke berbagai tempat di Jakarta. Mereka tak perlu ke halte atau stasiun karena akan dijemput di rumah.
Pelayanan petugas Transjakarta Care, lanjut Fahmi, pun memuaskan. ”Sangat sigap membantu saya untuk naik-turun,” katanya.
Di tengah berbagai keluhan yang muncul, Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan dan Hubungan Masyarakat Transjakarta Tjahyadi DPM menyampaikan, pihaknya terus berupaya meningkatkan Transjakarta Care. Evaluasi terhadap standar operasional akan menjadi perhatian lebih lanjut.
”Kami melakukan evaluasi internal dan memperkuat kembali standar pelayanan,” ujar Tjahyadi, seperti ditulis Kompas.id pada Selasa (13/1/2026).
Sementara itu, Deputy Director Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Delina Siregar memandang layanan Transjakarta Care sebagai inisiatif baik dari pemerintah dalam mewujudkan transportasi publik yang setara.
Namun, Delina menggarisbawahi, pengembangan lebih lanjut tetap perlu dilakukan. Jumlah armada, fasilitas perpindahan moda, dan kondisi lingkungan pejalan kaki tak boleh luput dari perhatian.
Lebih lanjut, ia menyarankan data yang terhimpun dari pengguna Transjakarta Care seharusnya bisa dimanfaatkan untuk merencanakan daftar prioritas. ”Tujuannya adalah memastikan penyandang disabilitas memiliki pilihan mobilitas yang setara dan mandiri, baik melalui layanan reguler maupun pendampingan sesuai kebutuhan,” ucap Delina.
Aksesibilitas harus dilihat sebagai satu rangkaian perjalanan yang utuh.
Namun, Delina mengingatkan, hambatan difabel saat mengakses transportasi publik tidak hanya terjadi di halte atau kendaraan. Tata kota Jakarta masih kerap dirancang tanpa melibatkan mereka. Di jalan, kerap ditemukan trotoar yang terhalangi. Bahkan, fasilitas penyeberangan pun tidak memenuhi syarat.
Selain itu, Delina juga menyorot kendala lain. Akses terhadap informasi perjalanan mesti dirancang dengan lebih inklusif. Petunjuk dan pemberitahuan perjalanan harus disediakan dalam bentuk audio dan visual yang intuitif sehingga semua orang bisa memahaminya.
”Aksesibilitas harus dilihat sebagai satu rangkaian perjalanan yang utuh. Satu titik yang tidak aksesibel dapat menghambat keseluruhan perjalanan difabel sekalipun armada transportasi publiknya sudah memadai,” kata Delina.
Bukan hanya Delina, Accessibility Advisor Gerakan Aksesibilitas Umum (GAUN) David Tjahjana juga memberikan masukan untuk peningkatan Transjakarta Care. Ia mengusulkan, sebaiknya disediakan aplikasi yang mudah diakses semua ragam difabel untuk memesan layanan.
Aplikasi tersebut, lanjut David, mesti menyajikan informasi rute dan halte. Hambatan jalur akibat demo, kecelakaan, atau kerusakan fasilitas juga wajib ditampilkan. ”Targetnya, seluruh rantai perjalanan dapat diselesaikan dengan baik,” katanya.
David menyebut, penyandang disabilitas tak terlihat (invisible disability) seperti autoimun pun berhak mengakses Transjakarta Care. Ia menambahkan. ”Perlu juga ada akomodasi untuk kelompok disabilitas buta warna (color blindness) dalam penyajian informasi,” katanya.





