WASHINGTON -- Presiden AS Donald Trump 'kalah'. Partai Republik yang mendukungnya gagal di dalam Pemilu. Perang Iran yang digadang-gadang Trump menjadi boomerang.
Seperti dilansir BBC, Partai Demokrat memenangkan Senat dan DPR. Demokrat mengambil alih kendali Kongres untuk sisa masa jabatan kepresidenan Donald Trump.
Baca Juga
Reaksi Presiden Prabowo Atas Kasus Penyadapan oleh Jenderal Listyo Sigit
SBY tak Habis Pikir, Begitu Liar Politik, Pakai Segala Cara untuk Capai Kuasa
Lewat Jurnalistik, Mahasiswa dan Pelajar Kalai Anim Dorong Suara Kampung Menjangkau Publik
Koresponden BBC untuk wilayah Amerika Utara menulis bahwa hasil ini merupakan kekalahan telak yang bersejarah bagi Partai Republik. Pemilu Sela ini menjadi sebuah kemenangan dengan skala yang bahkan tidak dibayangkan oleh sebagian besar anggota Partai Demokrat beberapa bulan lalu.
Di Senat, dalam penghitungan sementara, Demokrat sudah meraih 53 kursi, jauh unggul dibanding Republik 47. Sementara di House, Demokrat mendapat 209 kursi berbanding 125 Partai Republik.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Trump mengatakan kepada Fox News bahwa Partai Demokrat melakukan pekerjaan dengan baik. "Saya sedikit terkejut."
Ia mengakui perang Iran ikut mempengaruhi kekalahannya di pemilu sela. Trump mengatakan, harga bahan bakar yang tinggi merugikan Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu.
"Masyarakat tak menyukainya ketika mereka harus membayar lebih mahal untuk bahan bakar," ujarnya.
Iran menegaskan tak akan menyerah melawan AS. Salah satu cara yang dilakukan Iran adalah dengan menaikkan harga bahan bakar. Seperti dilansir Washington Post pada pertengan Oktober 2026, para pejabat Iran berupaya memanfaatkan tingginya harga minyak sebagai strategi untuk menekan Presiden AS Donald Trump serta menimbulkan kesulitan ekonomi menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November.
Dalam pemilihan Senat, Partai Demokrat meraih serangkaian kemenangan tak terduga di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi basis Partai Republik, termasuk Texas, Ohio, dan Kansas—negara bagian yang terakhir kali memilih kandidat dari Partai Demokrat hampir 100 tahun yang lalu.
Dengan menguasai Kongres, Partai Demokrat akan mampu menghambat rencana Presiden Trump selama dua tahun ke depan—bahkan mungkin berupaya untuk memakzulkannya untuk ketiga kalinya.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)