HARIAN.FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ketua Umum PROJO Budi Arie Setiadi meyakini pengaruh politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) belum surut meski tak lagi menduduki kursi presiden. Dia mengklaim mantan Wali Kota Solo itu masih memiliki basis pemilih loyal atau strong voter yang kuat.
Menurut Budi, kekuatan politik Jokowi tidak semata-mata bertumpu pada jabatan, kekuasaan formal, ataupun sumber daya politik. Pengaruh tersebut, kata dia, tumbuh dari kepercayaan masyarakat yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
“Saya itu masih yakin strong voter Pak Jokowi masih tinggi,” kata Budi Arie dikutip dari kanal YouTube Tutur TV, Rabu (4/11/2026).
Saat ditanya mengenai dukungan masyarakat akar rumput atau grassroot, Budi menyebut basis pendukung Jokowi masih terjaga. Dia bahkan menggambarkan Jokowi sebagai representasi rakyat dalam demokrasi Indonesia.
“Masih kuat. Karena Pak Jokowi ini rakyat. Kenapa Pak Jokowi susah disingkirkan dari panggung politik Indonesia? Demokrasi ada rakyat. Pak Jokowi rakyat. Rakyat Jokowi,” tegas mantan Menteri Koperasi tersebut.
Budi menilai berakhirnya masa jabatan presiden tidak serta-merta menghilangkan pengaruh politik seseorang. Menurut dia, hubungan Jokowi dengan para pendukungnya terbentuk melalui kepercayaan, bukan hanya karena posisi yang pernah dijabat.
“Gimana mau menghilangkan rakyat dalam proses demokrasi di Indonesia? Karena simbol rakyat itu ada di Pak Jokowi,” katanya.
Mengingat Perjalanan Politik Jokowi
Untuk memperkuat pandangannya, Budi Arie mengingatkan perjalanan politik Jokowi menjelang Pemilihan Presiden 2014. Saat itu, menurut dia, Jokowi belum memiliki sumber daya politik dan logistik sebesar sejumlah tokoh lainnya.
Namun, kepercayaan masyarakat disebut menjadi modal penting yang mengantarkan Jokowi ke panggung politik nasional.
“Ketika sebelum 2014, khususnya 2012, 2013, Pak Jokowi juga enggak punya apa-apa. Enggak punya logistik yang memadai, media enggak punya. Tapi karena di hati rakyat kan, dipercaya rakyat,” tutur Budi.
Dia menegaskan kepercayaan publik merupakan salah satu fondasi utama dalam politik. Karena itu, pengaruh Jokowi dinilai tidak otomatis berakhir seiring pergantian kepemimpinan nasional.
“Politik itu dipercaya rakyat. Pak Jokowi masih dipercaya,” tegasnya.
Budi Arie juga menggambarkan Jokowi sebagai sosok yang tetap mempertahankan identitasnya sebagai orang kampung dan orang desa meskipun pernah menduduki jabatan tertinggi di pemerintahan.
“Aku masih seperti yang dulu. Masih orang kampung. Masih orang desa,” ungkap Budi mengutip ungkapan yang menggambarkan sosok Jokowi.
Pengaruh Jokowi di Tengah Dinamika Politik Nasional
Pernyataan Budi Arie memperlihatkan bagaimana PROJO memandang posisi Jokowi dalam peta politik nasional setelah masa kepresidenannya berakhir.
Di tengah dinamika politik, termasuk mencuatnya kasus dugaan penyadapan yang disebut melibatkan Presiden Prabowo Subianto, Budi tetap menekankan besarnya pengaruh Jokowi. Namun, pernyataannya tersebut tidak secara langsung menjelaskan hubungan antara kasus penyadapan dan posisi politik mantan presiden itu.
Bagi Budi, kekuatan politik Jokowi masih bertumpu pada hubungan dengan masyarakat akar rumput. Dukungan tersebut dinilai tetap menjadi modal politik meskipun Jokowi tidak lagi memiliki kewenangan formal sebagai kepala negara.
Meski demikian, klaim mengenai kuatnya strong voter Jokowi merupakan penilaian Budi Arie. Tanpa dukungan data survei terbaru, besarnya basis pemilih loyal Jokowi belum dapat dipastikan secara kuantitatif.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa PROJO masih memandang Jokowi sebagai figur yang memiliki pengaruh penting dalam demokrasi Indonesia, bahkan setelah tidak lagi berada di lingkaran pemerintahan.





